Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Adat dan Budaya » Menjaga Tongkonan Adalah Tanggung Jawab Sosial Seluruh Masyarakat Toraja

Menjaga Tongkonan Adalah Tanggung Jawab Sosial Seluruh Masyarakat Toraja

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Joni Matalangi*

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah.” ― Milan Kundera

Pada gerbang sebuah Universitas di Afrika Selatan terpampang sebuah pesan berikut yang perlu direnungkan: “Untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak perlu menggunakan bom atom atau rudal jarak jauh, cukup hancurkan pendidikannya dan membiarkan kecurangan terjadi dalam ujian.”

Pasien menderita di tangan dokter yang tidak berkualitas dan tidak jujur. Gedung runtuh di tangan insinyiur yang tidak berkualitas dan tidak jujur. Uang hilang di tangan ekonom dan akuntan yang tidak berkualitas dan tidak jujur. Kemanusiaan hilang ditangan tokoh agama yang tidak berkualitas dan tidak jujur. Keadilan hilang di tangan hakim yang tidak berkualitas dan tidak jujur

Lontara dalam Ukiran Tongkonan

Toraja adalah sebuah entitas budaya dan ada istiadat yang di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. Toraja yang dikenal dengan identitasnya melalui rumah adat Tongkonan, selain arsitekturnya yang unik, juga dilengkapi dengan berbagai bentuk ukiran. Ukiran-ukiran yang ada di rumah Tongkonan dan lumbung tidak hanya sebagai hiasan pelengkap, namun semuanya memiliki arti filosofis, makna, dan fungsi setiap bentuk ukiran. Inilah warisan budaya yang tak terbilang nilainya yang diwariskan para leluhur Toraja sejak 778 tahun yang lalu hingga saat ini. Dalam ukiran rumah adat Tongkonan-lah yang menjadi Lontara’ atau buku masyarakat Toraja yang diterapkan dalam kearifan lokal kihidupan masyarakat Toraja.

Dalam beberapa waktu terakhir, Toraja yang sudah terkenal dengan identitasnya, yakni rumah Tongkonan, menjadi perhatian dan keprihatianan yang serius oleh masyarakat Toraja dengan terjadinya beberapa eksekusi dimana objeknya langsung rumah Tongkonan. Bahkan yang paling menyita perhatian serius adalah Tongkonan Ka’pun yang konon telah berusia sekitar 300 tahun telah dijadwalkan oleh PN Makale akan dieksekusi pada hari/tanggal 08 Oktober 2025.

Dalam foto yang beredar di berbagai akun media sosial dan group WA, menampilkan kondisi yang menurut kearifan lokal Toraja bukan rumah adat biasa. Dengan model demikian seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat Toraja untuk menjaganya. Namun apa yang terjadi, ketika masuk pada rana hukum dan telah divonis dengan putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap oleh lembaga pengadilan dan akan dieksekusi, disini tentunya diluar dari konteks sengketa, masyarakat Toraja merasa harkat dan martabatnya di injak-injak, Tongkonan adalah wajah Toraja. Oleh karena itu mari semua saling Dalam konteks ini menimbulkan dua pertanyaan:

Satu, apakah semboyan “Misa Kada dipotuo pantan Kada dipomate?” jika ia, marilah bersama sama dan bergandengan tangan menjaga Toraja, tatundan-tundan tomamma taruyong tometundoi te nenek tomendeatanta “Topadatindo”

Kedua, apakah hukum adat dan lembaga  tidak berlaku  lagi? Bukankah Tongkonan menjadi sarana tempat bermusyawarah lalu menghadirkan lembaga adat sebagai mediator atau fasilitator dalam musyawara, karena ketika prosesnya melalui pengadilan, lalu sampai pada tahap eksekusi, disinilah muncul reaksi dari masyarakat dan pemerhati  budaya akan penolakan.

Sisi Lain dari Eksekusi Tongkonan

Dalam fenomena eksekusi Tongkonan, terlepas dari objek sengketa, saya melihat  sebagai pintu baru dalam merusak tatanan soial masyarakat Toraja, satu persatu Tongkonan akan di eksekusi dan kita akan kehilangan identitas sebagai orang Toraja yang Toraja.

Masyarakat Toraja sekiranya selalu awas untuk Toraja. Hanya orang Toraja yang bisa menjaga Toraja. Mungkin hanya kebetulan karena ada sengketa maka bisa dijadikan dalil namun sesungguhnya ada penonton yang sedang menunggu bom waktu meledak den kapan Toraja bisa dalam genggaman?

Toraja telah melewati berapa fase mulai dari Arung Palakka’,  Kahar Muzakar, Andi sose dan sekarang kita masuk dalam penjajahan gelombang ke 4 melalui intervensi kebijakan dan penguasaan sektor ekonomi. (*)

*Penulis adalah aktivis pemuda Toraja

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelaku Percabulan Terhadap 3 Anak Dibawah Umur di Sesean Mesti Dihukum Maksimal

    Pelaku Percabulan Terhadap 3 Anak Dibawah Umur di Sesean Mesti Dihukum Maksimal

    • calendar_month Selasa, 16 Jan 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, SESEAN — Pengamat masalah sosial kemasyarakatan, Roy Rantepadang meminta aparat penegak hukum untuk menjatuhkan hukuman maksimal terhadap pelaku percabulan terhadap tiga orang anak dibawah umur di Lembang Bori’ Ranteletok, Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara, sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 17 Tahun 2016. Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 yang merupakan perubahan kedua dari […]

  • Kuras Uang Rp537 Juta dari ATM Majikan, Pasangan Suami Istri di Tana Toraja Ditangkap Polisi

    Kuras Uang Rp537 Juta dari ATM Majikan, Pasangan Suami Istri di Tana Toraja Ditangkap Polisi

    • calendar_month Selasa, 11 Feb 2025
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KS dan H, pelaku pencurian isi ATM majikannya saat diamankan Unit Resmob Polres Tana Toraja. (foto: dok. istimewa). KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Asisten Rumah Tangga (ART) pasangan suami istri inisial KS (29)  dan H (38), nekat curi dan kuras isi Automatic Teller Machine (ATM) majikannya hingga mencapai lebih dari setengah miliar. Aksinya ini berhasil di ungkap […]

  • Panitia Natal Nasional 2025 Gelar Seminar Bertema Keluarga di 9 Kota di Indonesia, Salah Satunya Tana Toraja

    Panitia Natal Nasional 2025 Gelar Seminar Bertema Keluarga di 9 Kota di Indonesia, Salah Satunya Tana Toraja

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Arsyad / Tidar Julian
    • 0Komentar

    Seminar Nasional Natal Nasional 2025 di Kampus IAKN Toraja. (Foto: Arsyad/Tidar)   KAREBA-TORAJA.COM, MENGKENDEK — Panitia Natal Nasional 2025 menggelar Seminar Nasional sebagai rangkaian perayaan Natal Nasional yang berlangsung di sembilan kota di Indonesia. Salah satu dari 9 kota yang terpilih adalah Kabupaten Tana Toraja. Di Tana Toraja Seminar Nasional tersebut berlangsung di Aula Kampus […]

  • Sambil Menahan Tangis, Lily Salurapa Suarakan Nasib Warga Toraja Korban KKB Papua dan Teroris Poso

    Sambil Menahan Tangis, Lily Salurapa Suarakan Nasib Warga Toraja Korban KKB Papua dan Teroris Poso

    • calendar_month Rabu, 22 Sep 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, JAKARTA — Anggota DPD RI asal Sulawesi Selatan, Lily Amelia Salurapa menyuarakan nasib warga Toraja di perantauan, yang beberapa waktu terakhir ini selalu menjadi korban kebrutalan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua maupun aksi terorisme di Poso, Sulawesi Tengah. Sambil menahan tangis, senator asli Toraja itu, menyampaikan kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan warga Toraja kepada Menteri […]

  • Sejumlah Tokoh Deklarasikan Ikatan Keluarga Toraja (IkaT) Nusantara

    Sejumlah Tokoh Deklarasikan Ikatan Keluarga Toraja (IkaT) Nusantara

    • calendar_month Minggu, 2 Okt 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, JAKARTA — Sejumlah tokoh Toraja dari beberapa kota di Indonesia, mendeklarasikan berdirinya Ikatan Keluarga Toraja (IkaT Nusantara) di Gedung Tribrata Jakarta, Sabtu, 2 Oktober 2022. IkaT Nusantara dibentuk sebagai organisasi tempat berhimpun seluruh organisasi kerukunan kekeluargaan masyarakat Toraja dari berbagai wilayah di Nusantara dan Mancanegara. Acara yang berlangsung di Gedung Tribrata tersebut diikuti para […]

  • Renungan Paskah 2021: Dia Bangkit Mulia Merawat Kehidupan

    Renungan Paskah 2021: Dia Bangkit Mulia Merawat Kehidupan

    • calendar_month Jumat, 2 Apr 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    “Amen, amen, dico vobis, nisi granum frumenti cadens in terram mortuum fuerit, ispum solum manet; si autem mortuum fuerit, multum fructum adfert” (Secundum Ioannem 12,24). Penginjil Yohanes menulis sebuah nukilan yang sangat inspiratif tersebut pada tahun 100 Masehi. Gema nukilan itu tetap relevan saat ini untuk direnungkan, khususnya memaknai rangkaian Perayaan Paskah: sengsara, wafat dan […]

expand_less