OPINI: Paskah Kristus Sebuah Transformasi Hidup
- account_circle Redaksi
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ilustrasi Yesus Bangkit. (Foto: dok. istimewah/int).
Sorak-sorai dan lambaian daun-daun palem menyambut dan mengiringi Yesus memasuki kota suci Yerusalem. Peristiwa itu membingkai perjalanan terakhir Yesus menunaikan tugas perutusan mulia dari Allah Bapa-Nya. Dia disambut sebagai Sang Raja Agung. Namun bukan raja kemegahan dan kekuasaan duniawi yang Dia usung tetapi sebuah via dolorosa (jalan salib penderitaan) yang menuntut kesetiaan, teguhan dan pengorbanan total. Gambaran nabi Yesaya akan Hamba Yahwe yang menderita namun tetap sabar, ditindas namun tetapi setia, yang membawa keadilan dengan kelemahlembutan dan bukan kekerasan (bdk. Yes. 42:1-9; 50:4-9) adalah gambaran akan Yesus yang menempuh jalan sunyi penuh penderitaan. Momen mengesankan ketika Yesus memasuki kota suci Yerusalem, Dia mengendarai seekor keledai beban dan bukan seekor kuda jantan yang menjadi simbol kemegahan dan keperkasaan seorang raja duniawi. Yesus memilih seekor keledai beban sebagai sebuah simbol akan kerendahan hati, keteguhan dan kesediaan memikul beban-beban dosa. Yesus datang sebagai Raja mulia dalam kelemahlembutan dan bersedia berkorban memikul beban dosa manusia supaya manusia tidak hilang binasa melainkan diselamatkan dan memperoleh hidup kekal.
Di pengadilan, Pontius Pilatus, gubernur Romawi wilayah Yudea bertanya kepada-Nya, “Engkaukah raja orang Yahudi?” (Mrk. 15:2). Pilatus bertanya kepada Yesus demikian karena hasutan dan tekanan dari pemimpin-pemimpin Yahudi yang menuduh Yesus menghasut rakyat dan menanggap diri-Nya sebagai raja. Di pengadilan Pontius Pilatus juga mengajukan pertanyaan lainnya kepada Yesus, “Quid est veritas”? (Apakah itu kebenaran?) (Yoh. 18:38). Pertanyaan ini mengandung banyak tafsiran tetapi sekaligus mengungkapkan makna pencarian setiap orang akan kebenaran, tak terkecuali orang sekeras dan sekejam Pontius Pilatus. Dia mencari kebenaran dan dia bertanya kepada pribadi yang sesungguhnya adalah kebenaran sejati itu sendiri.
Alasan Yesus dijatuhi hukuman mati sebenarnya bisa kita temukan dalam tulisan di atas kayu salib. Pontius Pilatus sang gubernur Romawi menulis di atas kayu salib Yesus dalam bahasa Latin “Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum” (INRI) artinya “Yesus orang Nazaret Raja orang Yahudi.” Tulisan itu diprotes oleh para pemimpin bangsa Yahudi namun Pilatus tegas mengatakan “Quod scripsi, scripsi” (Apa yang kutulis tetap tertulis) (Yoh. 19:22). Tulisan itu ditulis dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Ibrani, Latin dan Yunani (Yoh. 19:19-20). Tulisan bahasa Ibrani mewakili orang-orang Yahudi. Mereka menuduh Yesus sebagai penghujat Allah karena menyamakan diri-Nya sebagai Anak Allah (bdk. Mrk. 14:61-64). Sebab siapapun yang menghujat nama Allah harus dihukum mati dengan cara dirajam, yaitu dilempari batu (lih. Im. 24:16). Sementara tulisan berbahasa Latin mewakili penguasa Romawi yang menjajah tanah Palestina pada masa itu. Yesus harus dihukum mati karena dia dikategorikan dapat mengganggu stabilitas politik. Dia dicurigai mampu menghasut orang banyak dan bisa memberontak melawan penjajah Romawi. Hukum mati khas orang Romawi adalah disalibkan. Karena itu mereka mengganjar Yesus dengan hukuman penyaliban. Sementara tulisan berbahasa Yunani mewakili mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Bagi mereka, Yesus bukanlah penghujat Allah dan bukan pemberontak politik yang harus dihukum mati. Tetapi Dia menyerahkan diri-Nya sebagai korban tebusan di atas kayu salib supaya manusia ditebus dari dosa-dosanya sehingga tidak hilang binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Tiga alasan hukuman mati Yesus menunjukkan realitas kehidupan dan warna politik yang terjadi pada masa itu. Melalui persekongkolan pemangku kepentingan yaitu penguasa dengan para pemuka agama akhirnya Yesus dijatuhi hukuman mati yang kecam. Namun di balik semua penderitaan, duka dan luka Yesus sampai pada wafat di atas palang penghinaan, Dia tidak wafat sia-sia sebagai orang terkutuk atau tahanan politik melainkan seorang Hamba Yahwe yang setia dan taat kepada kehendak Bapa. Dia berkorban bagi setiap insan demi keselamatan kekal mereka. Itulah cinta tertinggi dari Allah kepada umat manusia sehingga Dia memberikan Putra Tunggal-Nya sebagai tebusan bagi mereka (bdk. Yoh. 3:16).
Peristiwa sengsara dan wafat Yesus dikisahkan dengan sangat kelam, penuh penderitaan dan pengorbanan dari seorang yang tulus dan benar. Dia menegakkan nilai kebenaran yang sejati kendatipun Dia harus kehilangan nyawa-Nya. Gambaran para penginjil akan penderitaan keji yang dialami Yesus mau mengajak setiap insan untuk berani merefleksikan makna hidup ini bahwa kekuatan jahat akan terus-menerus ingin menggagalkan rencana baik Allah. Namun kebenaran dan kasih Allah tidak akan pernah dikalahkan oleh kuasa kejahatan dan kegelapan. Itulah makna salib Kristus yang memuncak dalam kematian. Namun kematian bukanlah akhir segala-galanya.
Setelah wafat dan dimakamkan selama tiga hari, Yesus pun bangkit mulia mengalahkan kuasa maut dan membawa terang keselamatan kepada setiap insan. Kini kita boleh berefleksi bahwa kuasa kegelapan dan kejahatan termanifestasi dalam beragam bentuk berupa praktek manipulatif, judi dalam berbagai bentuk, obat-obatan terlarang, intrik dan persekongkolan politik, pengrusakan-eksploitasi alam dan berbagai jenis kejahatan lainnya. Keterpecahan relasi sosial melalui berbagai peristiwa seperti runtuhnya tongkonan memberi pesan akan goyahnya pilar-pilar kearifan lokal dan relasi sosial kemasyarakatan, pengusakan alam melalui berbagai jenis tambang yang mengekploitasi alam sekitar secara tak terkendali, penggunaan media sosial dengan tidak bijaksana demi tujuan-tujuan yang tidak bertanggungjawab mesti dibendung dengan suara kenabian akan arti kebenaran sejati dalam terang kebangkitan Kristus. Perlawanan, permusuhan dan segala upaya untuk menggerogoti kehidupan bersama yang damai dan harmonis harus dikalahkan dengan terang kasih kebangkitan Kristus yang mulia.
Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk mewujudkan dua hal mendasar dalam hidup ini melalui “transformasi diri” dan “transformasi sosial”. “Transformasi diri” berarti pertobatan sejati melalui kehidupan yang benar dengan meninggalkan segala macam praktek yang tidak benar dan kembali pada semangat hidup menurut Roh Kristus. “Transformasi sosial” berarti perjuangan tanpa kenal lelah mewujudkan kebenaran, kejujuran dan kebaikan demi bonum commune (kesejahteraan bersama). Selamat merayakan Paskah semoga terang kebangkitan Kristus menghalaukan segala bentuk kejahatan dan membawa terang suka cita serta berkat yang melimpah bagi kita semua! Christus surrexit – Prospera Pascha sit!
Penulis: RD. Aidan P. Sidik — Imam diosesan Keuskupan Agung Makassar
- Penulis: Redaksi
- Editor: Arthur

Saat ini belum ada komentar