Publik Buka Kembali Kasus Hilangnya Stoner, Warga Sa’dan Malimbong, DPRD dan Stakeholder Terkait Diminta Bersikap
- account_circle Arsyad Parende
- calendar_month 53 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Stoner Semmen (kiri) dan Ketua Pemuda Toraja Indonesia (PTI) Provinsi Papua Barat, Patrix Barumbun Tandirerung (Kana). (Foto: istimewa)
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Tiga setengah tahun berlalu, misteri hilangnya Stoner masih belum terpecahkan dan keluarga terus berharap dan menanti ada titik terang.
Beberapa hari terakhir, Kasus yang sempat menyita perhatian warga Toraja Utara itu kembali menjadi sorotan publik.
Kasus hilangnya Stoner Sammen (16), remaja asal Sa’dan Malimbong, Kabupaten Toraja Utara, yang dilaporkan hilang dan diduga melompat ke Sungai Sa’dan di Kakondongan, Tallunglipu, pada 31 Maret 2023 setelah dikejar sekelompok pemuda, kembali menjadi perhatian setelah kasusnya mandek dan tidak menunjukkan perkembangan berarti.
Publik kembali menyuarakan kasus ini di media sosial. Netizen ramai – ramai memposting unggahan foto Stoner dengan berbagai caption yang umumnya meminta penegak Hukum meninjau kembali kasus ini.
Desakan agar penanganan perkara diusut lebih serius terus datang dari berbagai pihak.
Sorotan tidak hanya datang dari keluarga korban, tetapi juga dari kalangan tokoh masyarakat dan praktisi hukum asal Toraja.
Salah satunya Ketua Pemuda Toraja Indonesia (PTI) Provinsi Papua Barat, Patrix Barumbun Tandirerung.
Patrix menilai terdapat sejumlah langkah yang dapat ditempuh untuk mendorong pengungkapan perkara yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
Patrix menilai bahwa kasus hilangnya Stoner selama bertahun-tahun yang diduga sebagai korban kekerasan harusnya menjadi alasan bagi DPRD Toraja Utara mengambil peran lebih aktif dengan membentuk Panitia Khusus (Pansus) guna mengevaluasi proses penegakan hukum sekaligus memberikan dukungan politik terhadap upaya pengungkapan kasus.
Patrix juga mendesak Kepolisian hendaknya memberikan informasi kepada publik khususnya terkait progres penanganan perkara ini. Ini juga dimaksud agar masyarakat khususnya keluarga tetap memiliki harapan untuk mengakses keadilan.
“Saya belum melihat adanya kesungguhan hati dr stakeholder atau dinas terkait di daerah untuk mendorong pengungkapan yang berkeadilan. Beberapa peristiwa terakhir membuat saya kuatir bahwa generasi emas Tongkonan saat ini sudah hidup dlm budaya dan siklus kekerasan. Ini perlu menjadi perhatian semua pihak” tegas Patrix. (*)
- Penulis: Arsyad Parende
- Editor: Arsyad Parende







Saat ini belum ada komentar