Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Politik » OPINI: Menelisik Keterwakilan pada Panggung Suksesi Kepala Daerah Tana Toraja 2024

OPINI: Menelisik Keterwakilan pada Panggung Suksesi Kepala Daerah Tana Toraja 2024

  • account_circle Admin Kareba
  • calendar_month Senin, 11 Mar 2024
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dr. dr. Nataniel Tandirogang M.Si

Panggung Pilkada serentak 2024 mulai mengemuka, secara khusus untuk pilkada Tana Toraja 2024 pasca berakhirnya pemilihan legislatif pada semua tingkatan. Walaupun belum ada penetapan resmi dari KPU Pusat, tetapi setiap partai dan peserta konsestasi pileg telah mengetahui dan mempunyai data berapa kursi dan siapa yang lolos pada setiap tingaktan anggota legislatif. Partai politik dan calon legislatif telah memperoleh gambaran tentang komposisi kekuatan politik yang akan mempengaruhi pemilihan kepala daerah. Dalam konteks ini, kalkulasi strategis berbasis hasil pemilihan legislatif menjadi dasar untuk menentukan calon yang potensial diusung, mengingat bahwa demokrasi menuntut representasi yang akurat dan inklusif dari keberagaman masyarakat.

Dalam konteks demokrasi, pemilihan kepala daerah, seperti Bupati atau Walikota di Indonesia memainkan peran penting dalam menjalankan prinsip keterwakilan, memberikan masyarakat kesempatan untuk memilih pemimpin yang mewakili kepentingan dan aspirasi mereka. Salah satu aspek penting dalam demokrasi adalah representasi, yang berarti pemilihan pemimpin harus mencerminkan keberagaman sosial, budaya, etnis, agama, dan gender dalam masyarakat; yang dalam konteks pilkada Tana Toraja keterwakilan wilayah barat (Toraja Barat) menjadi penting untuk diwacanakan.

 

Mengapa Toraja Barat Menuntut Keterwakilan?

Hal ini dengan sangat mudah dipahami; bahkan sudah diwacanakan menjadi DOB sejak 20 tahun silam jauh sebelum Toraja Utara dimekarkan. Sebelas kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Bonggakaradeng, Rano, Simbuang, Mappak, Rembon, Saluputti, Malimbong Balepe’, Bittuang, Masanda, Rantetayo, dan Kurra dengan luas wilayah hampir 2/3 dari luas wilayah Tana Toraja bersekutu untuk membentuk kabupaten Toraja Barat. Hal ini dipicu dengan disparita dari semua bidang pembangunan; ekonomi, layanan publik, fasilitas pemerintahan, pendidikan, transportasi, listrik, pengelolaan air bersih dan prasarana lainnya antara 11 Kecamatan yang ada di Wilayah Barat dengan 8 kecamatan yang ada di Wilayah Timur. Sehingga timbul asumsi bahwa Tana Toraja wilayah barat masih sangat terbelakang dan kesejahteraan masyarkatnya jauh lebih rendah. Harapannya dengan menjadi salah satu pemegang kekuasaan di Tana Toraja, kebijakan politik dapat memperioritaskan pembangunan di Wilayah Barat untuk mengejar ketertinggalan yang ada saat ini. Dengan demikian kesenjangan sosial antara barat dan timur dapat dikurangi.

Walaupun demikian, nararasi tentang keterwakilan sering kali diangkat ke permukaan. Ini bukan hanya sekedar perbincangan tentang inklusivitas dan keadilan sosial, tetapi juga, pada banyak kesempatan, menjadi sebuah strategi politik yang diarahkan untuk menarik dukungan massa. Fenomena ini, meskipun pada awalnya terlihat sebagai langkah positif menuju representasi yang lebih luas, sering kali menyembunyikan motivasi yang lebih kompleks dan kadang-kadang oportunis.

Contoh nyata dari dinamika ini dapat dilihat dalam beberapa pemilihan kepala daerah di Indonesia. Sebagai contoh, pada Pilkada Solo 2010, Joko Widodo berhasil memenangkan hati masyarakat dengan pendekatan yang inklusif dan merakyat. Pendekatan Jokowi tidak hanya berfokus pada keterwakilan etnis atau agama, melainkan lebih kepada kinerja dan kemampuan membangun dialog dengan semua lapisan masyarakat. Hal ini menunjukkan bagaimana keterwakilan dalam demokrasi bisa lebih dari sekadar identitas, tetapi juga tentang kapabilitas dan visi dalam memajukan kesejahteraan masyarakat.

Namun, pemilihan kepala daerah juga bisa memunculkan tantangan bagi demokrasi, terutama ketika narasi keterwakilan digunakan untuk memecah belah masyarakat. Sebagai contoh, dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, isu agama dan etnis menjadi sangat dominan. Kampanye yang berfokus pada identitas agama dan etnis mengakibatkan polarisasi dalam masyarakat, menunjukkan bagaimana strategi politik berbasis identitas dapat mengganggu prinsip kesatuan dan keberagaman dalam demokrasi.

Kedua contoh ini menunjukkan bagaimana narasi keterwakilan bisa dimainkan dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia, baik sebagai alat untuk membangun dukungan melalui inklusivitas dan kinerja, maupun sebagai strategi untuk memecah belah masyarakat berdasarkan identitas agama dan etnis. Situasi ini menggarisbawahi pentingnya pemilih untuk melihat lebih dalam dari sekadar narasi keterwakilan, dan lebih memfokuskan pada rekam jejak, kebijakan, dan visi calon untuk memajukan daerahnya. Penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa narasi keterwakilan harus melampaui identitas primordial dan fokus pada isu-isu yang mempengaruhi kesejahteraan bersama.

Para ilmuwan dan filsuf telah lama memperdebatkan dinamika di balik narasi keterwakilan ini. Stuart Hall, seorang teoretikus budaya, mengemukakan bahwa identitas politik sering kali dibentuk dalam konteks kekuasaan dan politik, di mana representasi menjadi alat untuk mempertahankan atau mengubah hegemoni. Menurut Hall, narasi keterwakilan dalam pemilihan bisa menjadi cara untuk mengakui keragaman masyarakat, namun juga bisa menjadi mekanisme untuk memanipulasi identitas demi keuntungan politik.

Chantal Mouffe, seorang filsuf politik, mengajukan konsep “agonistik” dalam politik, di mana perjuangan antar identitas dan ideologi dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Mouffe menyarankan bahwa politik identitas dalam pemilu tidak harus dilihat hanya sebagai upaya manipulatif, tetapi juga sebagai ruang untuk perdebatan dan negosiasi makna kebersamaan dalam masyarakat yang plural. Ini menunjukkan bahwa sementara narasi keterwakilan bisa digunakan sebagai strategi politik, ia juga memiliki potensi untuk menjadi sarana demokratis yang memperkuat keragaman dan dialog.

Namun, Noam Chomsky, seorang linguist dan kritikus sosial, sering menekankan bagaimana media dan elite politik menggunakan isu-isu seperti ras, agama, dan gender untuk memecah belah dan mengalihkan perhatian dari isu-isu ekonomi dan kebijakan yang lebih mendasar. Chomsky berargumen bahwa narasi keterwakilan sering kali disalahgunakan untuk mengalihkan diskusi dari perubahan sistemik yang diperlukan untuk mengatasi ketidaksetaraan yang akar.

Dari perspektif ini, penting bagi kita semua untuk mengevaluasi secara kritis penggunaan narasi keterwakilan dalam pilkada. Warga negara harus mempertimbangkan apakah janji keterwakilan diikuti dengan tindakan nyata yang mendukung inklusivitas dan keadilan, atau hanya menjadi retorika kosong. Kritik dan analisis ini esensial untuk memastikan bahwa proses demokrasi tidak hanya menghasilkan representasi simbolis, tetapi juga perubahan substantif yang mendukung semua anggota masyarakat.

Samarinda, 9 Maret 2024

Penulis adalah Dosen pada Fakultas Kedokteran Unmul, Sekretaris Senat Universitas Mulawarman 2019-2023; Ketua IDI Kalimantan Timur, 2015 – 2022; Pengurus Ikat Kalimantan Timur.

  • Penulis: Admin Kareba

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Makelar “Rumah Manado” Diringkus Aparat Polres Toraja Utara dan Tomohon

    Makelar “Rumah Manado” Diringkus Aparat Polres Toraja Utara dan Tomohon

    • calendar_month Minggu, 24 Jan 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, TOMOHON — Unit Resmob Polres Toraja Utara bekerja sama dengan Team Totosik Polres Tomohon meringkus seorang makelar Rumah Manado, Selasa, 19 Januari 2021. Terduga pelaku penipuan dan penggelapan, berinisial SK alias Stanly ini ditangkap di Woloan, Kelurahan Woloan Satu Utara, Kecamatan Tomohon Barat, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Siaran pers yang diterima redaksi kareba-toraja.com dari […]

  • Pickup Bermuatan 4 Orang Jatuh ke Sungai di Se’pon, Makale

    Pickup Bermuatan 4 Orang Jatuh ke Sungai di Se’pon, Makale

    • calendar_month Kamis, 14 Des 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Sebuah mobil jenis pickup yang bermuatan 4 orang terjatuh ke Sungai Sa’dan, tepatnya di Se’pon, Kelurahan Lapandan, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Kamis, 14 Desember 2023 petang. Kecelakaan tunggal yang terjadi sekitar pukul 17.00 Wita itu menyebabkan mobil tercebur ke dalam sungai yang dipenuhi air. Empat orang penumpang mobil itu dengan nomor polisi […]

  • Selain Sanksi Pengurangan, 21 Lembang yang Belum Laporkan ADD Tahun 2023 Terancam Berurusan dengan Hukum

    Selain Sanksi Pengurangan, 21 Lembang yang Belum Laporkan ADD Tahun 2023 Terancam Berurusan dengan Hukum

    • calendar_month Kamis, 2 Mei 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Sebanyak 21 dari 112 Lembang di Tana Toraja tak kunjung menyampaikan laporkan pertanggungjawaban realisasi penggunaan anggaran Alokasi Dana Desa (ADD) untuk tahun 2023. Data ini disampaikan Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Lembang (DPML) Tana Toraja, Andi Palloan saat rapat Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Tana Toraja tahun 2023 di Kantor DPRD Tana Toraja, […]

  • Dukung Event Taekwondo Nasional, Pasemba Toraya Run Gelar Lomba Lari 8K

    Dukung Event Taekwondo Nasional, Pasemba Toraya Run Gelar Lomba Lari 8K

    • calendar_month Selasa, 29 Nov 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Dalam rangka mendukung dan memeriahkan gelaran Kejuaraan Taekwondo se-Indonesia yang akan dilaksanakan awal Desember mendatang, komunitas Lari Passemba Toraya Run menggelar melaksanakan event lari 8 kilometer. Lomba lari yang akan digelar pada Sabtu, 10 Desember 2022 itu terbuka untuk umum. Untuk diketahui, Turnamen Taekwondo berskala nasional akan digelar di Makale, Tana Toraja, […]

  • Seminar Softskill; Mempersiapkan Mahasiswa IAKN Toraja Menjadi Pemimpin Kristen Berjiwa Entrepreneur

    Seminar Softskill; Mempersiapkan Mahasiswa IAKN Toraja Menjadi Pemimpin Kristen Berjiwa Entrepreneur

    • calendar_month Sabtu, 25 Mar 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MENGKENDEK — Fakultas Budaya dan Kepemimpinan Kristen Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Toraja menggelar seminar softskil dengan tema “Dari UMKM Menuju Eksport” di Aula Bukit Kasih IAKN Toraja, Jumat, 24 Maret 2023. Seminar ini merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan untuk mendorong dan membangun jiwa wirausaha bagi mahasiswa IAKN Toraja memasuki era digitalisasi. Dalam sambutannya, […]

  • Bawaslu Pastikan Tidak Ada Calon Perseorangan di Pilkada Tana Toraja dan Toraja Utara 2024

    Bawaslu Pastikan Tidak Ada Calon Perseorangan di Pilkada Tana Toraja dan Toraja Utara 2024

    • calendar_month Selasa, 14 Mei 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Bawaslu Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara melaksanakan pengawasan hari terakhir penyerahan dokumen pemenuhan persyaratan dukungan bakal pasangan calon perseorangan dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Toraja Utara Tahun 2024 yang bertempat di Kantor KPU masing-masing Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Berdasarkan jadwal penyerahan syarat dukungan bakal calon perseorangan Bupati […]

expand_less