Erick Tohir di Mata Aktivis 98

Oleh: Yervis Pakan

34 Tahun lalu, gelora semangat pemuda, pelajar dan mahasiswa membaur dalam gerakan reformasi total.

Dari berbagai daerah muncul berbagai tuntutan, yang akhirnya menumbangkan pucuk pimpinan Orde Baru saat itu.

Itu bukan perjuangan yang gampang, tapi sama seperti perjuangan lain harus mengorbankan materi, waktu, air mata bahkan nyawa.

Pemerintah semenjak Reformasi sudah beberapa kali berganti, semua sepakat bahwa akan mengganjar para korban dengan mengangkat jadi Pahlawan Nasional, tapi sampai detik ini belum terealisasi karena berbagai persyaratan adimistratif kenegaraan.

Bahkan beberapa orang tua korban, terkhusus peristiwa Trisakti sampai meninggalkan daerahnya, dan menetap di Jakarta untuk memperjuangkan keadilan bagi anak-anaknya.

Baca Juga  Jalan Sehat HUT ke-25 Kementerian BUMN Bakal Digelar di Tana Toraja dan Toraja Utara

Adian Napitupulu, Sekjend PENA 98 (Perhimpunan Aktivis Nasional 98) bahkan dalam berbagai momentum berkata “Saya tidak sanggup menatap mata para orangtua aktivis yang hilang sebelum dan sesudah 1998, jangankan jasad mereka, batu nisan mereka saja tidak mampu kita temukan”.

Hal itu yang membuat para aktivis 98, khususnya yang bernaung di PENA 98 terus berjuang dalam berbagai bentuk dan metode mendapatkan keadilan bagi mereka.

Harapan ini kemudian terjawab sedikit melalui aksi menteri BUMN, Erick Tohir yang memberi bantuan BUMN berupa rumah kepada empat (4) orang tua korban Trisakti 98.

Ini kemenangan kecil saja, tapi cukup menambahkan adrenalin kita untuk terus berjuang dan berpihak pada rakyat, sesuai amanah konstitusi kita.

Baca Juga  Jalan Sehat Peringati HUT ke-25 BUMN Berlangsung Meriah di Tana Toraja

Kita tentu berterimakasih kepada Pak Erick Tohir, yang sudah menunjukkan cinta kasih dan apresiasinya terhadap perjuangan kawan-kawan. Walau tindakan kecil, tapi dampaknya akan luar biasa secara psikologis.

Kita tidak boleh lupa sejarah, negara kita akan tenggelam bila tidak mengingat orang-orang baik yang berjuang untuk eksistensi negara yang sedang kita jalani hari ini.

Walau masih jauh dari sempurna, tapi siraman cinta Pak Erick sedikit memberi napas baru bagi  kami.

Semoga ke depan, semakin banyak pejabat yang memberi perhatian pada persoalan ini. (*)

Yervis Pakan — salah seorang Presidium Nasional PENA 98.

Komentar