oleh

OPINI: Membentuk Keyakinan Atas Keandalan Testimoni Selama Pandemi Covid-19

Oleh: Zatman Payung, M.Pd*

Pada 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif covid 19 di Indonesia (Sumber Compas.com). Meskipun sebenarnya sejak tahun 2019 virus ini telah terdeteksi di Wuhan, China, bahwa dapat menular antar manusia. Sejak saat itu virus corona semakin menyebar di berbagai daerah di tanah air.

Sampai pada 31 Desember 2020 perkembangan pandemi covid 19 berdasarkan Kompas.com jumlah terkonfirmasi 743,198: di rawat 109,963 atau 14,796% dari terkonfirmasi, meninggal 22,138 atau 2,979% dari terkonfirmasi, sembuh 611,097 atau 82, 225% dari terkonfirmasi. Dan berdasarkan IDN Times per 3 januari 2021 kasus covid 19 telah bertambah menjadi 765,350 yang  terkonfirmasi. Jumlah tersebut membuat Indonesia masuk ke urutan 20, dengan jumlah kasus positif terbanyak di dunia. Virus corona telah menyebar ke 34 provinsi di Indonesia.

Meskipun mungkin masih banyak data yang belum terdeteksi oleh Satgas Penanganan Covid-19, dan patut di curigai masih banyak masyarakat yang kemungkinan sudah terinfeksi covid 19 hanya saja mereka diamkan dan tidak berani melakukan swab. Kemungkinan lain adalah ada yang terinfeksi dengan tanpa gejala dan ada juga masyarakat yang mungkin masih kurang paham gejala covid 19. Bahkan ketika ada yang sakit banyak yang tidak berani ke puskesmas atau ke rumah sakit karena takut di anggap telah terinfeksi covid 19.

Baca Juga  Covid-19 di Toraja Utara Kian Mengkhawatirkan, Total Sudah 111 Kasus, 7 Meninggal

Meskipun  Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya dan mengambil kebijakan penanganan virus Corona,  seperti meningkatkan pelayanan kesehatan dalam rangkah menanggulangi wabah, memberikan bantuan kepada masyarakat kecil yang terdampak, meningkatkan ketahanan dunia usaha dalam menghadapi wabah covid 19 tetapi semakin banyak daerah yang berstatus zona merah.

Data per 15 Desember 2020 ada 64 daerah yang berstatus Zona merah atau resiko tinggi. DKI Jakarta masih menduduki provinsi dengan jumlah infeksi tertinggi, di susul Jawa Timur dan Jawa Tenggah (Kompas.com). Maka upaya pemerintah perlu kerjasama dari lembaga dan masyarakat dalam mencegah covid 19. Masing-masing lembaga menerapkan aturan pencegahan covid 19 dan masyarakat perlu menaati aturan tersebut. Hal paling sederhana yang perlu di perhatikan oleh masyarakat adalah menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M). Meskipun di bilang sederhana tetapi masih ada masyarakat yang tidak memperhatikan 3M tersebut. Tidak menggunakan masker ketika keluar rumah dan masih melakukan kegiatan sosial yang menyebabkan terjadi kerumuman.

Baca Juga  Satgas Covid-19 Tana Toraja Dapat Bantuan 5000 Pic Rapid Test Antigen dari BNPB

Selain tingkat kesadaran sebagian masyarakat mencegah Covid 19 masih rendah tetapi ada sebagian juga masyarakat terpengaruh kesehatan mentalnya karena virus corona seolah-olah semakin dekat mengintai mereka. Rasa panik, stres, takut kehilangan orang-orang tercintah, dan rasa malu jika terdeteksi terinfeksi virus corona.  Untuk menjaga kesehatan mental seperti ini selama pandemi telah dilakukan berbagai upaya seperti selalu berpikir positif, tetap menjalin komunikasi dengan orang lain secara virtual, memperoleh informasi Covid 19 dari sumber terpercaya, dan yang paling penting adalah selalu saling menopang dan memberikan dukungan bahwa semua orang, semua negara berjuang mencegah Covid 19.

Testimoni-testimoni positif dengan adanya pandemi virus corona juga sangat penting karena dapat memberikan ketenangan bagi orang lain. Testimoni merupakan suatu kesaksian atau pengalaman yang disampaikan oleh seseorang. Jika berbicara tentang testimoni pertanyaannya adalah apakah semua testimoni tersebut kebenarannya dapat diandalkan? Misalnya jika seseorang memberikan kesaksian bahwa virus corona tidak bertahan lama pada benda-benda mati, virus corona tidak tertular lewat udara. Kesaksian lain menyatakan bahwa banyak hal positif yang di peroleh dengan adanya pandemi Covid 19. Bagaimana wibawa orang yang menyampaikan kesaksian tersebut?, apakah sesuai pengalaman atau penglihatan yang membaca atau mendengar kesaksian tersebut? Klaim seperti ini apakah memerlukan uji kredibilitas.

Baca Juga  Cegah Klaster Pilkada, Desk Pilkada Tana Toraja Pantau Kesiapan Pemungutan Suara

Ada orang menguji kebenarannya dengan menggunakan pendekatan reduksionisme (membenarkan kesaksian dengan bertumpuh pada non-kesaksian) dan ada yang menggunakan pendekatan kredulisme (tidak selalu memerlukan kebutuhan independen untuk membenarkan keyakinan berdasarkan kesaksian). Meskipun tidak semua testimoni bersumber dari orang yang berwibawah sesuai virtual dan facultinya tetapi jika dapat membuat seseorang membentuk keyakinan sejati secara mental menghadapi pandemi Covid 19 maka akan menjadi testimoni yang andal.  Testimoni yang andal bagi seseorang akan membentuk keyakinan sejati dan akan tersimpan dalam memori yang cukup lama. Kayakinan sejati dalam memori seseorang yang dapat di andalkan akan meningkatkan kesehatan mental.

Berikanlah testimoni yang andal sebanyak mungkin agar semakin banyak orang yang terbantu kesehatan mentalnya menghadapi pandemi covid 19. Masyarakat sehat, Indonesia sehat. (*)

* Zatman Payung, M.Pd Mahasiswa S3 Pendidikan Matematika FMIPA UPI. Dibimbing oleh Guru Besar Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Turmudi M. Ed., M.Sc., Ph.D2

Komentar

Berita Lainnya