MPI KNPI Toraja Utara Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Jaga Kemurnian Adat dan Budaya Toraja
- account_circle Desianti
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) KNPI Toraja Utara, Ardi Lulun. (Des/Kareba Toraja).
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh ratusan anggota komunitas pencinta tedong silaga (adu kerbau) ke kantor pusat Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, Tongkonan Sangulele Rantepao, pada Rabu, 18 Maret 2026, terus memicu reaksi dari berbagai elemen dan organisasi masyarakat, baik internal maupun eksternal gereja.
Perbicangan mengenai aksi unjuk rasa itu terus mengalir, baik dalam lingkungan sosial masyarakat maupun di media sosial. Sebagian besar masyarakat sangat menyayangkan aksi tersebut, namun ada pula yang mendukungnya.
Aksi unjuk rasa ini dipicu oleh pengaduan BPS Gereja Toraja terkait pelaksanaan adat pasilaga tedong (adu kerbau) yang terindikasi kuat dibarengi perjudian dan melibatkan anak-anak di bawah umur ke Mabes Polri. Komunitas pencinta tedong silage menganggap gereja terlampau jauh mencampuri urusan ada dan budaya Toraja.
Aksi ini pun mendapat rekasi dan tanggapan dari Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) KNPI Toraja Utara, Ardi Lulun.
Dalam keterangan tertulis yang dikirim ke Redaksi Kareba-Toraja.com, Minggu, 22 Maret 2026, Ardi Lulun menegaskan bahwa praktek perjudian yang berlindung di balik dalih adat dan budaya merupakan bentuk penyimpangan yang tidak dapat dibenarkan.
“Adat dan budaya Toraja adalah warisan luhur yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal, bukan sarana untuk melegitimasi tindakan yang merusak moral dan tatanan sosial masyarakat,” tegas Ardi Lulun.
Ardi menilai bahwa praktik judi, dalam bentuk apa pun, memiliki dampak negatif yang sangat besar, khususnya terhadap generasi muda. Hal ini dapat merusak karakter, menurunkan produktivitas, serta mengancam masa depan mereka sebagai penerus daerah dan bangsa.
“Sehubungan dengan hal tersebut, saya sebagai Ketua MPI KNPI Toraja Utara, yang merupakan bagian dari gereja, baik PPGT maupun PKBGT menolak dengan tegas segala bentuk praktik perjudian yang mengatasnamakan adat,” tandasnya.
Ardi juga mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh wanita dan pemuda untuk bersama-sama menjaga kemurnian nilai adat dan budaya dari penyalahgunaan.
“Kami juga mendorong aparat penegak hukum untuk bertindak tegas terhadap segala bentuk praktik perjudian tanpa pandang bulu,” tegas Ardi.
Dia mengimbau generasi muda agar menjauhi praktik-praktik yang merusak masa depan dan lebih fokus pada pendidikan, kreativitas, serta kegiatan positif lainnya.
“Kami percaya bahwa menjaga marwah adat berarti menjaga masa depan generasi muda Toraja Utara. Saya menghargai setiap orang memiliki hoby untuk disalurkan masing-masing sesuai tempatnya,” pungkas tokoh pemuda asal Rindingallo tersebut. (*)
- Penulis: Desianti
- Editor: Arthur

Saat ini belum ada komentar