Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekobis » OPINI: Meninjau Ulang (Revisiting) Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Bittuang, Tana Toraja Berdasarkan Perspektif Eko-Kristologi

OPINI: Meninjau Ulang (Revisiting) Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Bittuang, Tana Toraja Berdasarkan Perspektif Eko-Kristologi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Daniel Fajar Panuntun*

Ketahanan energi merupakan salah satu dari banyak target yang Pemerintah Pusat kerjakan. Tujuan utamanya adalah adanya swasembada energi dengan memilih pembangunan-pembangunan pembangkit energi (termasuk listrik) yang ramah lingkungan, dan salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi. Merespons upaya tersebut, terdapat wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebelumnya, telah marak polemik perdebatan mengenai respons baik yang mendukung ataupun menolak. Tulisan ini bertujuan untuk meninjau ulang dengan tendensi penolakan oleh karena pertimbangan potensi kerusakan ekologis akibat dari jangka panjang pembangunan PLTP.

Secara positif, PLTP akan memberikan suntikan peningkatan ekonomi dan penambahan pemasukan daerah. Lapangan kerja dapat juga terserap melalui proyek ini. Kebutuhan energi bersih juga dapat dilahirkan untuk mendukung swasembada energi dalam kondisi krisis. Di sisi lain, secara pragmatis, kedaulatan energi ini akan mengurangi bencana kebakaran rumah akibat adanya pemadaman bergilir yang memicu hubungan arus pendek listrik. Pertimbangan di atas tentu tidak boleh diremehkan karena memang sebenarnya proyek ini sangat baik untuk kemajuan suatu daerah dan pendukungan swasembada energi. Namun, apakah pertimbangan tersebut tidak terlalu bersifat antroposentris? Bagaimana menambahkan pertimbangan-pertimbangan yang secara ekosentris?

Dengan menggunakan perspektif ekosentris, saya mengajak melihat dampak berantai dari pembangunan PLTP yang merupakan produk ramah lingkungan. Namun, apakah benar ramah lingkungan? Bernardino Realino Arya Bagaskara dengan apik merangkum berbagai permasalahan yang muncul dari praktik-praktik PLTP yang telah ada di Indonesia. Dalam rangkumannya, ia berujar:

Proyek panas bumi dari Sumatera hingga Flores membuat warga kehilangan ruang hidup hingga pencemaran lingkungan. Bahkan, ada yang menjadi korban proyek yang dibungkus dengan narasi transisi energi. Deretan kasus keracunan gas hidrogen sulfida (H2S) hingga menelan korban jiwa di lokasi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) menunjukkan kelalaian serius dalam keselamatan dan standar operasional. Kasus yang berulang juga menunjukkan proyek-proyek ini dipaksakan meski berisiko tinggi bagi masyarakat. Perlawanan warga menjadi alarm bahwa transisi energi tanpa keadilan hanya melanggengkan ketimpangan. Sayangnya, suara lantang warga dibalas dengan intimidasi hingga penangkapan oleh aparat?.

Risiko tersebut jelas dan merupakan fakta yang terjadi di lapangan. Penulis telah melakukan riset dengan baik. Tentunya, temuan terhadap risiko implementasi PLTP harus menjadi pertimbangan mendasar yang mempertimbangkan kepentingan yang bersifat ekosentris dan tidak hanya bersifat kosmosentris. Sudah siapkah masyarakat Toraja menerima risiko ini? Atau, dalam pertimbangan yang lebih realistis (tidak naif), apakah dengan memperhitungkan risiko potensi ekologis nantinya, proyek PLTP ini tetap untung? Pengkajian ulang (revisiting) diperlukan, dan menurut keyakinan saya, saya memilih menolaknya. Selain dari konsep telelogis dalam tinjauan dampak positif dan negatif, saya akan menampilkan respons dari perspektif teologis yang kemudian saya sebut sebagai ekokristologi.

Eksplorasi ini dimulai dengan adanya kemungkinan potensi trauma ekologis. Tentunya, term ini aneh dan absurd. Apakah mungkin alam semesta dapat merasakan trauma ekologis? Rebecca L. Copeland Berujar, Sebaliknya, saya mendefinisikan trauma ekologis sebagai keadaan tidak teratur yang diakibatkan oleh tekanan atau cedera parah pada komunitas makhluk hidup, tekanan atau cedera yang mengganggu kemampuan komunitas tersebut untuk mempertahankan identitas fungsionalnya dalam ekosistem.  Di sisi lain, Timothy A. Middleton berujar bahwa trauma ekologis dapat dilihat dari adanya perubahan iklim dan hilangnya biodiversitas. Maka, kita bisa membayangkan kerusakan biodiversitas yang (mungkin) dapat terjadi di Bittuang. Sungai-sungainya tercemar arsen6 maupun H2S. Populasi ikan berkurang. Burung-burung terusir dengan suara-suara dentuman dan gagal berkembang biak yang mengakibatkan meledaknya populasi ulat yang artikel ini adalah bahwa, dari perspektif teologi Kristen, Kristus dapat berperan sebagai salah satu saksi atas trauma yang terjadi di ranah ekologi.” Kristus, Sang Firman yang hidup ikut menderita bersama seluruh ciptaan (bukan hanya manusia saja), dan melalui penderitaan tersebut, Kristus turut merasakan penderitaan yang dialami seluruh ciptaan (termasuk alam semesta). Melalui konsep keberbelarasaan Kristus, kekristenan perlu memperluaskan pandangannya bukan hanya pada kepentingan manusia tetapi kepentingan ekologis. Lantas, apa dampaknya? Melalui Iman Kristen, pembebasan terhadap penindasan alam semesta perlu dilantamkan. Leonardo Boff berujar, Bukan hanya kaum miskin dan tertindas yang harus dibebaskan; saat ini semua manusia harus dibebaskan. Kita adalah sandera dari sebuah paradigma yang menempatkan manusia—berlawanan konsep demi kepentingan alam.

Sebagai orang Kristen, kita perlu berbelarasa dengan bumi dan seluruh alam semesta. Bahkan, kita perlu membebaskan mereka dari kemungkinan kemungkinan penindasan, karena untuk itulah, Kristus mati diatas kayu salib dan menebus seluruh ciptaan (bukan hanya manusia) dari hukuman. Sederhanya, melalui iman dalam Kristus, kita diajak untuk merasakan penderitaan alam semesta. Belarasa ini yang berdampak pada kepentingan ekosenstris di balik pembangunan PLTP. Apakah benar-benar PLTP nantinya akan menyejahterakan bukan hanya manusia tetapi seluruh ciptaan baik yang hidup maupun tidak (elemen ciptaan) di Bittuang? Ingatlah, Sang Kristus turut menderita dengan alam demi menebus hukuman bagi seluruh ciptaan. Implikasinya, mohon pembangunan PLTP dikaji ulang dengan melihat berbagai perspektif dan kepentingan ekolosentris.

Saya telah menyampaikan perspektif ekokristologi yang cenderung bersifat ekosentris. Saya sendiri memiliki solastalgia (kenangan akan tempat) pada daerah Bittuang. Saya sangat menikmati perjalanan di daerah Bittuang dengan melihat kelokan sungai-sungai yang jernih dan asri. Sementara dengan berbagai kerugian yang berpotensi dihasilkan pada alam semesta, saya ikut berbelarasa dengan Kristus yang berbelarasa dengan penderitaan alam semesta. Dari perspektif ini, saya memilih untuk menolak pembangunan PLTP tanpa adanya asesmen pertimbangan pertimbangan yang bersifat ekologis. Salam. (*)

  • Penulis merupakan dosen di Prodi Kepemimpinan Kristen, Fakultas Budaya dan Kepemimpinan Kristen, Institut Agama Kristen Negeri Toraja. Tulisan ini tidak mewakili prodi atau institusi tersebut, namun berupa kajian personal merespons pembangunan PLTP.
  • Penulis: Redaksi
  • Editor: Arthur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Data Invalid, 12 Ribu Warga Toraja Utara Dicoret dari Kepesertaan BPJS Kesehatan

    Data Invalid, 12 Ribu Warga Toraja Utara Dicoret dari Kepesertaan BPJS Kesehatan

    • calendar_month Rabu, 29 Sep 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Kurang lebih 12 ribu warga Toraja Utara, akan dinonaktifkan dari kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Warga yang dicoret tersebut merupakan peserta yang selama tercatat di BPJS Kesehatan sebagai penerima bantuan pemerintah. Penonaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan bagi 12 ribu warga Toraja Utara itu mulai diberlakukan sejak 1 Oktober 2021. Hal ini […]

  • Crisis Centre Gereja Toraja Bantu Siapkan Peti Jenazah untuk Korban Longsor Buntao’ dan Siapkan Dapur Umum

    Crisis Centre Gereja Toraja Bantu Siapkan Peti Jenazah untuk Korban Longsor Buntao’ dan Siapkan Dapur Umum

    • calendar_month Jumat, 26 Apr 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, BUNTAO’ — Lembaga Crisis Centre Gereja Toraja (CCGT) kembali hadir dan membantu dalam bencana alam yang menimpa masyarakat Toraja. Setelah sebelumnya membantu 13 peti jenazah untuk korban tanah longsor di Palangka, Kecamatan Makale, Tana Toraja, CCGT kembali hadir di Tallang Sura’, Kecamatan Buntao’, Toraja Utara, Jumat, 26 April 2024. Dalam bencana alam tanah longsor […]

  • Sinergikan dengan Visi Misi, Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Ikuti Musrembang Kabupaten Toraja Utara

    Sinergikan dengan Visi Misi, Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Ikuti Musrembang Kabupaten Toraja Utara

    • calendar_month Sabtu, 27 Mar 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Bupati dan Wakil Bupati Toraja Utara terpilih, Yohanis Bassang dan Frederik Victor Palimbong menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbang) tingkat Kabupaten yang digelar di Ruang Rapat Lantai 3 Kantor Marante, Jumat, 26 Maret 2021. Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan (yang masa jabatannya akan berakhir pada 31 Maret 2021), menyatakan dirinya sengaja mengundang […]

  • Eksekutif Tak Hadiri RDP Dugaan Pemaksaan ASN Terlibat Politik Praktis di DPRD Toraja Utara

    Eksekutif Tak Hadiri RDP Dugaan Pemaksaan ASN Terlibat Politik Praktis di DPRD Toraja Utara

    • calendar_month Kamis, 30 Mar 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Tak satu pun unsur eksekutif yang hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Toraja Utara, Kamis, 30 Maret 2023. Padahal, sebelumnya DPRD sudah mengundang sejumlah pejabat eksekutif, mulai dari Sekretaris Daerah, beberapa Kepala OPD, maupun ASN yang terindikasi terlibat maupun dipaksakan atau diintimidasi untuk terlibat politik praktis. Sejumlah anggota dewan […]

  • Dalam 3 Hari, 4 Warga Meninggal karena Covid-19 di Tana Toraja

    Dalam 3 Hari, 4 Warga Meninggal karena Covid-19 di Tana Toraja

    • calendar_month Senin, 5 Jul 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Jumlah kematian akibat virus Corona atau Covid-19 di Kabupaten Tana Toraja memperlihatkan trend yang mengkhawatirkan. Betapa tidak, hanya dalam tempo tiga hari, sejak Sabtu hingga Senin, 3-5 Juli 2021, empat orang warga meninggal dunia karena Covid-19. Dengan bertambahnya empat warga tersebut, jumlah kematian akibat Covid-19 di Tana Toraja menjadi 23 orang. Kepala […]

  • Lagi, Kodim 1414 Tana Toraja Gelar Vaksinasi Covid-19 untuk Ribuan Warga Toraja Utara

    Lagi, Kodim 1414 Tana Toraja Gelar Vaksinasi Covid-19 untuk Ribuan Warga Toraja Utara

    • calendar_month Kamis, 26 Agt 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, BUNTU PEPASAN — Komando Distrik Militer (Kodim) 1414 Tana Toraja terus melakukan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat untuk mendukung pemerintah dalam percepatan penanganan virus Corona. Kamis, 26 Agustus 2021, Kodim 1414 Tana Toraja bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Toraja Utara kembali melakukan vaksinasi Covid-19, baik dosis pertama maupun dosis kedua kepada ribuan warga di […]

expand_less