Mahasiswa KKN-T 116 Unhas Telusuri Jejak Sejarah Pertahanan Pahlawan Pongtiku di Lembang Benteng Ka’do Toraja Utara
- account_circle Arsyad Parende/Rls
- calendar_month 14 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penelusuran ini melibatkan tokoh masyarakat setempat guna mendokumentasikan situs bersejarah Benteng Ka’do dan merawat ingatan kolektif perjuangan rakyat Toraja.
KAREBA-TORAJA.COM, KAPALAPITU — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Desa Wisata Gelombang 116 Universitas Hasanuddin Lembang Benteng Ka’do, Kecamatan Kapala Pitu, Kabupaten Toraja Utara melaksanakan survei Benteng sejarah di dusun Ke’pe.
Kegiatan observasi lapangan ini difokuskan untuk mengidentifikasi dan merekam jejak perjuangan Pahlawan Pongtiku dalam mempertahankan tanah kelahiran dari ekspansi militer Belanda.
Dalam survei ini, tim mahasiswa KKN-T 116 berhasil melakukan survey langsung lokasi situs Benteng Ka’do.
Situs peninggalan bersejarah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari jaringan sistem pertahanan taktis rakyat Toraja di masa lampau untuk menghalau penjajah.
Berdasarkan literatur sejarah “Onder de Toradja’s van Rante Pao” karya A. A. Van de Loosdrecht, pada akhir Juni 1906 pasukan Belanda menaklukkan Benteng Lalilondong dan Ka’do. Jatuhnya benteng-benteng tersebut, yang terjadi bersamaan dengan dikosongkannya Benteng Buntu Asu dan Tagari secara sukarela, pada akhirnya membuka jalan utama bagi pasukan militer Belanda menuju wilayah Pangala’.
Perjuangan Pongtiku berlanjut secara intens ke titik pertahanan batu yang lebih kuat di Buntu Batu. Setelah melalui berbagai operasi militer yang menguras tenaga, Pongtiku sempat menyerah pada 26 Oktober 1906. Namun, jiwa ksatrianya menolak tunduk sehingga ia kembali melarikan diri dan memimpin perlawanan gerilya di hutan-hutan Toraja hingga akhirnya benar-benar menyerah pada Juni 1907.
Survei penelusuran sejarah ini didukung penuh oleh keterangan dan panduan warga serta tokoh masyarakat setempat. Beberapa informan lokal yang turut mendampingi dan memvalidasi lokasi antara lain Berhan Sampe Palitting selaku perwakilan masyarakat Dusun Kalimbuang, dan Markus Pa’a yang menjabat sebagai Kepala Dusun Lengkong.
“Kini, generasi masa kini memiliki tanggung jawab untuk mengenal, merawat, dan menceritakan kembali sejarah tersebut. Sebab, ketika sebuah sejarah dilupakan, maka sebagian dari identitas dan perjalanan suatu masyarakat juga perlahan ikut hilang,” ujar Angelin Claudia Rante Kada selaku Humas tim KKN-T Desa Wisata Gelombang 116
Unhas.
Melalui publikasi hasil survei sejarah ini, mahasiswa KKN-T Desa Wisata Gelombang 116 Unhas berharap agar situs-situs bersejarah seperti Benteng Ka’do bisa mendapat perhatian lebih luas dari pemerintah daerah maupun masyarakat umum.
Tujuannya agar peninggalan tersebut dapat terus dilindungi, dirawat, dan dijadikan sebagai sarana edukasi yang nyata bagi generasi penerus bangsa, sekaligus meneguhkan identitas kultural masyarakat Toraja di tengah arus modernisasi. (*)
- Penulis: Arsyad Parende/Rls
- Editor: Arsyad Parende




Saat ini belum ada komentar