Keluarga Besar Tongkonan Layuk Kaero Tolak Eksplorasi Panas Bumi di Sangalla’
- account_circle Arsyad Parende
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Puang Massora bersama sejumlah mahasiswa di Tongkonan Layul Kaero Sangalla’/ Patok berwarna biru, kuning dan merah di sekitar wilayah Buntu Kaero. (Foto: Istimewa)
KAREBA-TORAJA.COM, SANGALLA’ — Rencana eksplorasi panas bumi (Geotermal) di Kecamatan Sangalla’ Tana Toraja terus mendapatkan penolakan dari berbagai elemen masyarakat, salah satunya dari Keluarga Besar Tongkonan Layuk Kaero.
Tongkonan Layuk Kaero tepat berada di kaki Buntu (Gunung) Kaero yang menjadi titik panas bumi geotermal.
Tongkonan yang memegang posisi tertinggi dalam struktur adat Toraja sebagai pusat kekuasaan, pemerintahan, dan pengambilan keputusan hukum adat ini terancam jika proyek geotermal dibangun disana.
Keluarga Besar Tongkonan Layuk Kaero pun menyatakan sikap menolak dengan keras jika Wilayah Adat Basse Maroang (Wilayah Adat Tongkonan Layuk Kaero) dijadikan sebagai lokasi eksplorasi panas bumi (geotermal).
Alasan penolakan ini atas dasar kekhawatiran masyarakat adat bahwa proyek geotermal akan merampas ruang hidup, merusak ekologi, mengancam struktur sosial dan eksistensi adat dan budaya.
Pernyataan penolakan ini disampaikan oleh Puang Massora dari Tongkonan Layuk Kaero saat dikunjungi sejumlah Mahasiswa dari Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Sangalla’ (IPPMS) di Tongkonan Layuk Kaero, Lembang Kaero Kecamatan Sangalla’, Jumat 01 Mei 2026.
“Kami Keluarga Besar Tongkonan Layuk Kaero menolak ketika wilayah adat kami akan dieksplorasi, tanpa aktivitas saja Buntu (Gunung ) Kaero pernah longsor besar, apalagi ketika ada aktivitas semacam pengeboran” tutur Puang Massora.
Sementara itu, Warga Sangalla’ lainnya khawatir mata air akan terganggu jika proses pengeboran eksplorasi panas bumi dilaksanakan apalagi beberapa titik mata air yang digunakan masyarakat untuk mengaliri rumah-rumah serta lahan pertanian bersumber dari Buntu Kaero.
“Satu mata air ini bisa mengaliri rumah sekitar 20-25 rumah, kita tampung di galon besar lalu di aliri ke rumah-rumah warga” Kata salah satu warga sekitar.
Warga juga menduga jika sudah ada aktivitas yang berkaitan dengan proyek geotermal di Sangalla’
Hal tersebut ditandai dengan temuan patok di sekitar Dusun Wala Lembang Tokesan Sangalla’ Selatan berupa patok berwarna Merah, Biru dan Kuning yang bertuliskan PLN dengan sejumlah kode angka dan huruf pada patok tersebut.
“Kami tidak tahu ini patok untuk apa, pada saat dipasang pun kami tidak diberitahu sebelumnya kalau lahan kami mau dipasangi patok seperti ini” cerita warga.
Sebagai respon atas rencana eksplorasi geotermal di Sangalla’, Mahasiswa dan masyarakat Dusun Wala Lembang Tokesan juga menggelar nobar dan diskusi mengenai Eksplorasi Panas Bumi pada Sabtu, 2 Mei 2026 bertempat di Geraja Toraja Jemaat Wala.
Bola Panas Geotermal di Tana Toraja memasuki babak baru. Setelah penolakan eksplorasi Geotermal di Bittuang yang hingga kini belum ada titik terang dari Pemerintah, kini muncul lagi isu eksplorasi geotermal di Kecamatan Sangalla’ Tana Toraja.
Isu geotermal di Kecamatan Sangalla’ ini sudah menjadi isu hangat menyusul munculnya dokumen yang merupakan peta Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang tersebar di 23 titik yang ada di Sulawesi Selatan termasuk Kabupaten Tana Toraja.
Dalam dokumen tersebut, Tana Toraja ditandai memiliki 2 titik potensi panas bumi atau geotermal yakni Bittuang dan Sangalla’.
Dalam dokumen yang berjudul “Peta Sebaran dan Status Geotermal di Tana Toraja” tersebut, Kecamatan Sangalla telah ditandai dan diberi keterangan memasuki tahap Survei Rinci/Detail.
Sementara diketahui untuk Kecamatan Bittuang telah memasuki tahap pelelangan Penugasan Survei Pendahuluan Eksplorasi (PSPE).
Informasi terbaru soal perkembangan proyek geotermal ini langsung mendapatkan berbagai reaksi dari kalangan masyarakat dan mahasiswa Toraja.(*)
- Penulis: Arsyad Parende
- Editor: Arthur

Saat ini belum ada komentar