Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Komunitas » OPINI: Salib, Kekuasaan, dan Keberanian Moral

OPINI: Salib, Kekuasaan, dan Keberanian Moral

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

  • Refleksi Jumat Agung Bagi Masyarakat Beriman Zaman Sekarang

Peristiwa Jumat Agung bukan sekadar kisah religius tentang penderitaan Yesus di masa lampau. Ia adalah cermin sejarah manusia yang terus berulang dalam berbagai bentuk sepanjang zaman. Kisah salib memperlihatkan bagaimana kekuasaan, ketakutan, kepentingan kelompok, dan stabilitas sosial sering kali lebih diutamakan daripada kebenaran dan keadilan. Karena itu Jumat Agung bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga peristiwa kemanusiaan yang selalu relevan untuk dibaca kembali dalam konteks kehidupan sosial kita hari ini.

Jika kita membaca kisah pengadilan Yesus secara jujur, kita menemukan bahwa kematianNya tidak hanya disebabkan oleh satu pihak. Ia lahir dari persekutuan, konspirasi kepentingan antara elite religius dan kekuasaan politik. Para pemimpin agama melihat Yesus sebagai ancaman terhadap stabilitas religius yang mereka kelolah. Sementara penguasa politik melihatNya sebagai potensi gangguan terhadap ketertiban umum. Dalam situasi seperti itu, kebenaran menjadi tidak lagi penting. Yang lebih penting adalah menjaga stabilitas.

Pilatus sendiri sebenarnya tidak menemukan kesalahan serius pada Yesus. Namun tekanan massa dan pertimbangan politik membuatnya memilih jalan kompromi. Keputusan itu bukan keputusan keadilan, melainkan keputusan kekuasaan. Di sinilah kita melihat bahwa dalam sejarah manusia, kebenaran sering kali dikalahkan bukan karena ia lemah, tetapi karena ia dianggap tidak menguntungkan.

Yang lebih menyedihkan, peristiwa salib juga memperlihatkan bahwa pembungkaman terhadap suara kebenaran tidak selalu datang dari luar. Ia juga dapat muncul dari dalam komunitas sendiri. Yudas mengkhianati Yesus. Petrus menyangkalNya karena takut. Para murid lainnya melarikan diri. Kisah ini menunjukkan bahwa ketakutan sering kali membuat manusia kehilangan keberanian moralnya. Ketakutan adalah musuh terbesar manusia, karena itu dalam sejarah sosial politik ketakutan sangat efektif mengendalikan masyarakat.

Orang bungkam bukan karena tidak tahu kebenaran, namun bungkam karena takut kehilangan posisi, takut kehilangan jabatan, takut dikucilkan, takut berhadapan dengan kekuasaan. Tokoh Pilatus dalam tragedi Jumat Agung sangat jelas memperlihatkan karakter ini, seorang pemimpin yang akhirnya cuci tangan, enggan bersikap meskipun ia tahu ada ketidakadilan. Cerminan Pilatus begitu mudah kita temukan dalam konteks elite lokal yang tunduk pada oligarki ekonomi, pemimpin yang memilih mengorbankan masyarkat demi investasi besar dengan seluruh narasi pembenarannya. Secara prinsip, Pilatus tidak membenci Yesus, Ia coba membebaskannya tapi pada akhirnya ia memilih tunduk pada tekanan kekuasaan dan kepentingan politik. Pilatus adalah sistem yang bekerja tanpa nurani di zaman sekarang, ia nyata terlihat ketika hukum tunduk pada modal, ketika kebijakan tunduk pada investor, ketika suara rakyat dikalahkan oleh proyek besar.

Karena itu Jumat Agung sesungguhnya adalah cermin bagi setiap orang beriman. Ia mengajak kita bertanya, ketika kebenaran berada dalam tekanan, dimanakah posisi kita? Apakah kita berdiri bersama mereka yang lemah, atau justru diam demi keamanan diri sendiri?

Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat berbagai dinamika sosial di sekitar kita dewasa ini. Dalam banyak kasus di berbagai wilayah Indonesia, masyarakat lokal dan masyarakat adat tidak jarang menghadapi tekanan ketika berhadapan dengan proyek-proyek pembangunan berskala besar seperti pengembangan energi geothermal, program food estate, pertambangan, maupun ekspansi perkebunan skala luas. Proyek-proyek tersebut sering diperkenalkan atas nama kemajuan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi dalam praktiknya dapat menimbulkan ketegangan sosial ketika ruang hidup masyarakat tradisional terancam atau suara keberatan mereka tidak memperoleh ruang dialog yang memadai.

Dalam situasi seperti ini, suara-suara yang berusaha memperjuangkan keadilan ekologis dan martabat masyarakat lokal kadang dipersepsikan sebagai penghambat pembangunan. Tidak jarang pula muncul tekanan sosial, delegitimasi publik, atau proses hukum yang membuat masyarakat kecil semakin sulit menyampaikan aspirasi mereka secara bebas. Di sinilah refleksi Jumat Agung menemukan relevansinya yang paling nyata “salib mengingatkan kita bahwa stabilitas politik, kepentingan kekuasaan, kepentingan modal sering kali lebih mudah dilindungi daripada keadilan”

Salib tidak hanya berbicara penderitaan Yesus 2000 tahun yang lampau namun salib tetap berbicara secara kontekstual hingga zaman ini, tentang teladan keberanian untuk tetap berdiri kokoh, setia pada kebenaran, bahkan Ketika kebenaran itu membuatnya berdiri sendirian, bahkan berakhir tragis dengan kematian.

Namun kisah salib juga bukan sekadar kisah tentang kekalahan. Ia adalah kisah tentang keberanian moral yang tidak menyerah kepada tekanan. Yesus tidak melawan dengan kekerasan, tetapi juga tidak mundur dari kebenaran yang Ia wartakan. Ia tetap setia pada panggilanNya sampai akhir. Dalam kesetiaan itulah martabat manusia dipulihkan.

Karena itu masyarakat beriman dipanggil untuk belajar dari keberanian tersebut. Iman tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga diwujudkan dalam keberanian menjaga keadilan, melindungi martabat sesama, dan merawat bumi sebagai rumah bersama. Keberanian moral seperti inilah yang menjadi tanda bahwa iman masih hidup di tengah masyarakat. Kisah Jumat Agung tidak berakhir di salib. Dalam terang Paskah, iman Kristiani percaya bahwa kebenaran tidak pernah berhenti pada kekalahan. Salib bukan akhir dari perjalanan Yesus, melainkan jalan menuju kebangkitan yang membuka harapan baru bagi manusia. Karena itu setiap kali masyarakat berhadapan dengan ketidakadilan, tekanan kekuasaan, atau pembungkamanterhadap suara-suara moral, umat beriman dipanggil untuk tetap percaya bahwa keberanian nurani tidak pernah sia-sia.

Kebangkitan Kristus menjadi tanda bahwa kebenaran yang tampak kalah dalam sejarah tidak pernah benar-benar dikalahkan. Ia akan menemukan jalannya kembali dalam hati manusia yang berani berdiri di pihak keadilan dan kebenaran, menjaga martabat sesama, dan merawat kehidupan bersama dengan tanggung jawab. Disinilah harapan Paskah menemukan maknanya yang paling nyata bukan hanya sebagai perayaan iman, tetapi sebagai panggilan untuk membangkitkan kembali keberanian moral dalam kehidupan bersama. Selamat memperingati Trihari Suci, Tuhan memberkati kita semua. (*)

Jumat Agung, 3 April 2026

Penulis: Fransiskus Allo (Dewan Pakar Pemuda Katolik Tana Toraja, Pemerhati Toraja).

  • Penulis: Redaksi
  • Editor: Arthur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perusahaan Kopi, PT. Sulotco dan Koperasi Lentera Salurkan Bantun untuk Korban Longsor Tana Toraja

    Perusahaan Kopi, PT. Sulotco dan Koperasi Lentera Salurkan Bantun untuk Korban Longsor Tana Toraja

    • calendar_month Senin, 22 Apr 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Perusahaan Kopi, PT Sulotco Bersama Koperasi Karyawan Lentera menyerahkan bantuan untuk para korban bencana alam tanah longsor di Palangka, Kecamatan Makale dan Pangra’ta, Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja. Bantuan diserahkan PT Sulotco yang diwakili Humas Manager Human Resources Development & Strategic Management Office PT. Sulotco Jaya Abadi, Donny Batara dan diterima […]

  • Kembali Terpilih Jadi Rektor UKI Toraja, Prof Oktovianus Pasoloran Dijadwalkan Dilantik 5 Februari 2025

    Kembali Terpilih Jadi Rektor UKI Toraja, Prof Oktovianus Pasoloran Dijadwalkan Dilantik 5 Februari 2025

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    Prof. Oktavianus Pasoloran terpilih kembali pada Pemilihan Rektor UKI Toraja yang digelar secara tertutup di Toraja Heritage Hotel. (foto: dok. istimewa). KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Prof. Dr. Oktavianus Pasoloran. S.E., M.Si., Ak. CA kembali terpilih sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia Toraja (UKI Toraja) periode 20225-2030. Prof. Oktavianus Pasoloran terpilih kembali pada Pemilihan Rektor UKI Toraja yang […]

  • Tersengat Listrik di Sawah, Warga Rembon Ini Meninggal Dunia

    Tersengat Listrik di Sawah, Warga Rembon Ini Meninggal Dunia

    • calendar_month Minggu, 7 Nov 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, REMBON — Yonatan Taruk alias Papa Gio, 34 tahun, warga Lembang Limbong, Kecamatan Rembon, ditemukan meninggal dunia di sawah dekat kediamannya, Sabtu, 6 November 2021. Yonatan diduga kuat meninggal dunia karena tersengat arus listrik. Hal ini diperkuat oleh keterangan saksi maupun identifikasi dari Polres Tana Toraja serta pemeriksaan medis oleh tenaga medis setempat. “Hasil […]

  • Angin Putting Beliung Terjang Wilayah Nanggala, Sejumlah Bangunan Rusak Berat

    Angin Putting Beliung Terjang Wilayah Nanggala, Sejumlah Bangunan Rusak Berat

    • calendar_month Minggu, 16 Apr 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, NANGGALA — Hujan lebat disertai angin puting beliung wilayah Kecamatan Nanggala, Kabupaten Toraja Utara, Minggu, 16 April 2023 sore. Satu Kelurahan dan tiga Lembang terdampak bencana tersebut. Diantaranya, Kelurahan Nanggala Sangpiak Salu, Lembang Nanna, Lembang Nanggala, dan Lembang Rante. Laporan sementara dari warga, menyebutkan ada tiga rumah dan satu lumbung padi (alang) yang mengalami […]

  • Dibangun di Atas Jalan Umum, Rumah Warga di Ba’tan, Kesu’ Ini Dibongkar Satpol PP

    Dibangun di Atas Jalan Umum, Rumah Warga di Ba’tan, Kesu’ Ini Dibongkar Satpol PP

    • calendar_month Kamis, 1 Apr 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, KESU’ — Sebuah bangunan rumah yang hampir rampung dan dibangun di atas jalan poros To’Kaluku-Batuleleng, Kelurahan Ba’tan, Kecamatan Kesu’, Toraja Utara, dibongkar Satuan Polisi Pamong Praja Toraja Utara, Kamis, 1 April 2021. Selain berdiri tepat di atas badan jalan, bangunan milik Fatmawati ini juga tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). “Karena waktu satu kali […]

  • 585 Pelayan Publik dan Tokoh Agama Ikuti Vaksinasi Covid-19 di Toraja Utara

    585 Pelayan Publik dan Tokoh Agama Ikuti Vaksinasi Covid-19 di Toraja Utara

    • calendar_month Sabtu, 6 Mar 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Sebanyak 585 pelayan publik dan tokoh agama di Toraja Utara menjalani vaksinasi Covid-19 di Aula Kodim 1414 Tana Toraja, Rantepao, Sabtu, 6 Maret 2021. Kegiatan ini merupakan vaksinasi tahap kedua, setelah pada tahap pertama dilakukan untuk tenaga kesehatan di Toraja Utara. Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Toraja Utara, Anugerah Yaya Rundupadang, mengatakan […]

expand_less