Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Adat dan Budaya » Strata Sosial di Toraja: Warisan Leluhur yang Masih Berbisik di Tengah Zaman Modern

Strata Sosial di Toraja: Warisan Leluhur yang Masih Berbisik di Tengah Zaman Modern

  • account_circle Opini
  • calendar_month 35 menit yang lalu
  • comment 0 komentar

Oleh : Irwanto Tandi Bara’Tiku, S.H.,M.Kn.

Perbincangan mengenai strata sosial di Toraja hingga kini masih menjadi topik yang hangat di tengah masyarakat. Di era modern yang dipengaruhi perkembangan pendidikan, ekonomi, serta nilai-nilai agama yang menekankan kesetaraan manusia, keberadaan sistem sosial warisan tempo doloe itu kembali dipertanyakan relevansinya.

Adat bukan sekadar kenangan yang tersimpan di buku sejarah. Ia hidup dalam upacara, dalam tongkonan, dalam cara orang saling menyapa, dan dalam ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah kuatnya ikatan budaya itu, satu pertanyaan terus muncul: apakah strata sosial di Toraja masih relevan di zaman modern, atau ia kini hanya tinggal warisan tempo doloe yang perlahan memudar dan tidak lagi sesuai dengan kehidupan sosial modern yang lebih terbuka dan egaliter?

Pertanyaan tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kenyataan sosial yang terus berubah, dari masyarakat yang makin terbuka, dari pendidikan yang semakin meluas, dan dari generasi muda yang mulai memandang status sosial dengan cara yang berbeda. Sebagian orang masih menilai strata sosial sebagai bagian penting dari identitas budaya Toraja. Namun bagi yang lain, sistem itu mulai dianggap tidak lagi sejalan dengan semangat kesetaraan di era sekarang.

Di tengah perdebatan itu, suara Irwanto Tandi Bara’tiku S.H.,M.Kn. (saat ditemui awak Media Kareba Toraja) menyatakan menarik untuk disimak. Sebagai pengacara muda sekaligus dosen, ia berdiri di dua dunia profesi sekaligus: dunia praktisi yang berhadapan langsung dengan realitas sosial, dan dunia akademik yang menuntut ketajaman analisis. Dari pertemuan dua dunia itulah pandangannya tentang strata sosial di Toraja terbentuk.

Irwanto bukan hanya seorang praktisi hukum yang bekerja dengan aturan dan persoalan masyarakat. Ia juga seorang dosen yang setiap hari berhadapan dengan gagasan, kritik, dan cara pandang generasi muda. Posisi itu membuatnya melihat Toraja bukan hanya sebagai ruang adat, tetapi juga sebagai ruang perubahan.

Dalam aktivitas sehari-hari, ia kerap menemui persoalan yang berkaitan dengan adat, hubungan keluarga, dan dinamika sosial masyarakat Toraja. Dari sanalah ia melihat bahwa strata sosial belum sepenuhnya hilang. Bentuknya mungkin tidak sekeras dulu, tetapi pengaruhnya masih terasa dalam percakapan keluarga, pilihan jodoh, penghormatan terhadap tongkonan, hingga cara masyarakat memandang garis keturunan.

Bagi Irwanto, semua itu menunjukkan bahwa adat tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti wajah, menyesuaikan diri dengan zaman. Dan justru di situlah letak pentingnya membaca strata sosial secara lebih jernih: bukan sekadar sebagai tradisi lama, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sosial yang masih menyisakan pengaruh.

Strata sosial dalam masyarakat Toraja telah dikenal sejak masa tempo doloe. Dalam tatanan tradisional, sistem ini bukan hanya menunjukkan status keluarga, tetapi juga mengatur peran dalam masyarakat, hubungan antarwarga, dan posisi dalam struktur adat.

Pada masa itu, strata sosial menjadi bagian dari keteraturan hidup. Golongan tertentu memiliki tanggung jawab dalam memimpin, menjaga aturan adat, dan mengambil keputusan penting dalam lingkungan tongkonan. Dalam upacara adat seperti Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’, kedudukan sosial keluarga juga memiliki pengaruh terhadap tata pelaksanaannya.

Garis keturunan tongkonan menjadi penanda yang kuat. Status sosial diwariskan melalui keluarga dan posisi dalam struktur adat. Karena itu, bagi masyarakat lama, strata sosial dianggap sebagai sesuatu yang melekat dalam kehidupan mereka. Ia bukan sekadar simbol, melainkan sistem yang mengatur keseimbangan sosial.

Bagi generasi tempo dulu, sistem ini diyakini mampu menjaga keteraturan, pembagian peran, dan penghormatan kepada leluhur. Dalam pandangan mereka, strata sosial bukan penghalang, melainkan penopang harmoni.

Namun waktu membawa perubahan. Pendidikan yang semakin terbuka, mobilitas sosial yang lebih luas, dan pengaruh agama yang menekankan kesetaraan membuat masyarakat Toraja hari ini melihat banyak hal dengan sudut pandang yang berbeda.

Irwanto menilai bahwa masyarakat kini jauh lebih rasional dan terbuka dibanding masa lalu. Batas-batas sosial yang dulu terasa tegas kini mulai mencair. Meski demikian, ia mengakui bahwa pengaruh strata sosial masih belum benar-benar hilang. Jejaknya masih bisa ditemukan dalam percakapan sehari-hari, dalam pergaulan keluarga, bahkan dalam pertimbangan sosial tertentu yang berkaitan dengan adat.

Menurutnya, modernisasi memang mengubah cara masyarakat memandang status sosial, tetapi tidak serta-merta menghapus ingatan budaya. Tradisi tetap hidup, hanya bentuknya yang berubah. Ia tidak lagi berdiri sebagai aturan yang kaku, melainkan lebih sering hadir sebagai identitas budaya yang dihormati.

Di sinilah Toraja berada dalam situasi yang khas: bergerak maju tanpa benar-benar meninggalkan akar. Masyarakat modern tumbuh di atas warisan lama, dan di antara keduanya selalu ada ruang pertemuan yang tidak selalu mudah dijelaskan.

BagiNya (Irwanto), strata sosial Toraja perlu dipahami secara kritis. Ia menegaskan bahwa adat tidak boleh hanya dilihat sebagai sesuatu yang sakral tanpa ruang tanya, tetapi juga tidak layak diputus dari akar sejarahnya.

Sebagai praktisi hukum sekaligus akademisi, ia memahami bahwa banyak persoalan sosial lahir bukan karena adat itu sendiri, melainkan karena cara manusia menempatkan adat secara kaku. Ketika adat dijadikan alat untuk membedakan martabat manusia, maka yang muncul bukan lagi kehormatan, melainkan jarak sosial.

Karena itu, Ia (Irwanto) melihat strata sosial masih relevan sebagai bahan refleksi budaya. Ia penting untuk dikenang, dipelajari, dan dipahami sebagai bagian dari sejarah masyarakat Toraja. Namun dalam kehidupan modern, ukurannya tidak bisa lagi menjadi penentu utama nilai seseorang.

Kini, manusia dinilai dari integritas, pendidikan, kerja keras, dan kontribusinya kepada masyarakat. Keturunan mungkin masih menjadi identitas, tetapi bukan lagi satu-satunya ukuran kehormatan. Di titik ini, adat dan modernitas dipaksa untuk berdialog.

Pertanyaan tentang strata sosial di Toraja sesungguhnya adalah pertanyaan tentang bagaimana masyarakat merawat masa lalu tanpa kehilangan masa depan. Apakah warisan leluhur harus terus dipertahankan sebagai simbol identitas, atau sudah saatnya ditempatkan sebagai bagian dari sejarah yang tidak lagi mengikat?

Irwanto memandang, jawaban atas pertanyaan itu ada pada kebijaksanaan. Adat perlu dijaga, tetapi tidak boleh membatasi. Leluhur patut dihormati, tetapi generasi baru juga berhak tumbuh dalam ruang sosial yang setara. Tradisi layak dipelihara, tetapi tidak boleh menjadi dinding yang menghalangi perubahan.

Toraja hari ini adalah cermin dari pergulatan itu. Di satu sisi, masyarakatnya masih memegang kuat nilai adat. Di sisi lain, mereka juga sedang berjalan menuju masyarakat yang lebih terbuka dan egaliter. Strata sosial pun berada di antara dua arus itu: masih ada, masih terasa, tetapi tidak lagi sekuat dulu.

Dan mungkin di situlah letak keindahan Toraja. Ia tidak menolak masa lalu, tetapi juga tidak berhenti di sana. Ia belajar berjalan bersama zaman, sambil tetap membawa jejak leluhurnya di dalam langkah. (*)

  • Penulis: Opini

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tana Toraja Bersiap Menyambut Kedatangan Presiden Jokowi

    Tana Toraja Bersiap Menyambut Kedatangan Presiden Jokowi

    • calendar_month Sel, 16 Mar 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Pemerintah Kabupaten Tana Toraja terus melakukan sejumlah persiapan menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo. Presiden Joko Widodo dijadwalkan berkunjung ke Tana Toraja pada Kamis, 18 Maret 2021. Agendanya, meresmikan Bandara Toraja yang terletak di Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja. Informasi sementara yang diperoleh kareba-toraja.com, Presiden Jokowi kemungkinan besar tidak akan lama berada di Tana […]

  • Menteri Pertanian Serahkan Sejumlah Bantuan Pertanian untuk Masyarakat Tana Toraja

    Menteri Pertanian Serahkan Sejumlah Bantuan Pertanian untuk Masyarakat Tana Toraja

    • calendar_month Sab, 28 Nov 2020
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menggelar kunjungan kerja ke Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, Sabtu, 28 November 2020. Mantan Gubernur Sulsel dua periode ini beserta rombongan tiba di Toraja dengan menggunakan Helikoper PK-JTJ dan mendarat di Lapangan Kodim Rantepao, kemudian langsung menggelar kunjungan kerja di wilayah kabupaten Toraja […]

  • OPINI: Setiap Orang Berhak Menerima atau Menolak Vaksinasi Covid-19

    OPINI: Setiap Orang Berhak Menerima atau Menolak Vaksinasi Covid-19

    • calendar_month Ming, 17 Jan 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Oleh: DR. dr. Ampera Matipanna, S.Ked, MH Setiap orang berhak untuk menentukan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan terhadap dirinya sendiri. Hak ini merupakan bagian dari hak azasi manusia, yaitu the right to self determination. Hak ini kemudian melahirkan hak-hak dalam pelayanan kesehatan yang dikenal dengan istilah hak atas persetujuan tindakan media, atau yang […]

  • Polisi Temukan Tangki Rakitan pada Mobil yang Terbakar di SPBU Alang-Alang

    Polisi Temukan Tangki Rakitan pada Mobil yang Terbakar di SPBU Alang-Alang

    • calendar_month Rab, 6 Jan 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, KESU’ — Tim Identifikasi Satreskrim Polres Toraja Utara menemukan tangki modifikasi (rakitan) pada minibus Toyota Kijang Krista yang terbakar di area SPBU Alang-Alang, Lembang (Desa) Sangbua, Kecamatan Kesu’, Toraja Utara. Bukti itu, selain dinamo yang telah terbakar, diperoleh polisi setelah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Selasa, 5 Januari 2020 petang atau sesaat […]

  • PLTA Malea Bantu Kebutuhan Warga yang Mengungsi Akibat Pergeseran Tanah di Rano

    PLTA Malea Bantu Kebutuhan Warga yang Mengungsi Akibat Pergeseran Tanah di Rano

    • calendar_month Rab, 16 Feb 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANO — PT Malea Energy Hydropower, pengelola Pembangkit Listri Tenaga Air (PLTA) Malea bergerak cepat membawah logistik untuk kebutuhan tujuh kepala keluarga yang mengungsi sementara akibat pergeseran tanah di Lembang Rano Tengah, Kecamatan Rano, Rabu, 16 Februari 2022. Bantuan dari PT Malea Energy Hydropower diantar langsung pimpinannya, Victor Datuan Batara, pada Rabu, 6 Februari […]

  • Pemkab Toraja Utara Akan Bangun Pastori Utuh untuk Gereja-gereja

    Pemkab Toraja Utara Akan Bangun Pastori Utuh untuk Gereja-gereja

    • calendar_month Jum, 19 Nov 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, BUNTU PEPASAN — Pemerintah Kabupaten Toraja Utara akan memberikan bantuan sosial kepada rumah-rumah ibadah di wilayahnya. Namun bantuan itu akan diberikan dalam bentuk bangunan yang sudah jadi; yang biaya pembangunannya 100 persen dari pemerintah. Hal ini diungkapkan Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang, saat menghadiri ibadah pengurapan Pdt Esron Mangita, S.Th di Jemaat Roroan, Klasis […]

expand_less