Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Adat dan Budaya » Strata Sosial di Toraja: Warisan Leluhur yang Masih Berbisik di Tengah Zaman Modern

Strata Sosial di Toraja: Warisan Leluhur yang Masih Berbisik di Tengah Zaman Modern

  • account_circle Opini
  • calendar_month Sen, 18 Mei 2026
  • comment 0 komentar

Oleh : Irwanto Tandi Bara’Tiku, S.H.,M.Kn.

Perbincangan mengenai strata sosial di Toraja hingga kini masih menjadi topik yang hangat di tengah masyarakat. Di era modern yang dipengaruhi perkembangan pendidikan, ekonomi, serta nilai-nilai agama yang menekankan kesetaraan manusia, keberadaan sistem sosial warisan tempo doloe itu kembali dipertanyakan relevansinya.

Adat bukan sekadar kenangan yang tersimpan di buku sejarah. Ia hidup dalam upacara, dalam tongkonan, dalam cara orang saling menyapa, dan dalam ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah kuatnya ikatan budaya itu, satu pertanyaan terus muncul: apakah strata sosial di Toraja masih relevan di zaman modern, atau ia kini hanya tinggal warisan tempo doloe yang perlahan memudar dan tidak lagi sesuai dengan kehidupan sosial modern yang lebih terbuka dan egaliter?

Pertanyaan tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kenyataan sosial yang terus berubah, dari masyarakat yang makin terbuka, dari pendidikan yang semakin meluas, dan dari generasi muda yang mulai memandang status sosial dengan cara yang berbeda. Sebagian orang masih menilai strata sosial sebagai bagian penting dari identitas budaya Toraja. Namun bagi yang lain, sistem itu mulai dianggap tidak lagi sejalan dengan semangat kesetaraan di era sekarang.

Di tengah perdebatan itu, suara Irwanto Tandi Bara’tiku S.H.,M.Kn. (saat ditemui awak Media Kareba Toraja) menyatakan menarik untuk disimak. Sebagai pengacara muda sekaligus dosen, ia berdiri di dua dunia profesi sekaligus: dunia praktisi yang berhadapan langsung dengan realitas sosial, dan dunia akademik yang menuntut ketajaman analisis. Dari pertemuan dua dunia itulah pandangannya tentang strata sosial di Toraja terbentuk.

Irwanto bukan hanya seorang praktisi hukum yang bekerja dengan aturan dan persoalan masyarakat. Ia juga seorang dosen yang setiap hari berhadapan dengan gagasan, kritik, dan cara pandang generasi muda. Posisi itu membuatnya melihat Toraja bukan hanya sebagai ruang adat, tetapi juga sebagai ruang perubahan.

Dalam aktivitas sehari-hari, ia kerap menemui persoalan yang berkaitan dengan adat, hubungan keluarga, dan dinamika sosial masyarakat Toraja. Dari sanalah ia melihat bahwa strata sosial belum sepenuhnya hilang. Bentuknya mungkin tidak sekeras dulu, tetapi pengaruhnya masih terasa dalam percakapan keluarga, pilihan jodoh, penghormatan terhadap tongkonan, hingga cara masyarakat memandang garis keturunan.

Bagi Irwanto, semua itu menunjukkan bahwa adat tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti wajah, menyesuaikan diri dengan zaman. Dan justru di situlah letak pentingnya membaca strata sosial secara lebih jernih: bukan sekadar sebagai tradisi lama, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sosial yang masih menyisakan pengaruh.

Strata sosial dalam masyarakat Toraja telah dikenal sejak masa tempo doloe. Dalam tatanan tradisional, sistem ini bukan hanya menunjukkan status keluarga, tetapi juga mengatur peran dalam masyarakat, hubungan antarwarga, dan posisi dalam struktur adat.

Pada masa itu, strata sosial menjadi bagian dari keteraturan hidup. Golongan tertentu memiliki tanggung jawab dalam memimpin, menjaga aturan adat, dan mengambil keputusan penting dalam lingkungan tongkonan. Dalam upacara adat seperti Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’, kedudukan sosial keluarga juga memiliki pengaruh terhadap tata pelaksanaannya.

Garis keturunan tongkonan menjadi penanda yang kuat. Status sosial diwariskan melalui keluarga dan posisi dalam struktur adat. Karena itu, bagi masyarakat lama, strata sosial dianggap sebagai sesuatu yang melekat dalam kehidupan mereka. Ia bukan sekadar simbol, melainkan sistem yang mengatur keseimbangan sosial.

Bagi generasi tempo dulu, sistem ini diyakini mampu menjaga keteraturan, pembagian peran, dan penghormatan kepada leluhur. Dalam pandangan mereka, strata sosial bukan penghalang, melainkan penopang harmoni.

Namun waktu membawa perubahan. Pendidikan yang semakin terbuka, mobilitas sosial yang lebih luas, dan pengaruh agama yang menekankan kesetaraan membuat masyarakat Toraja hari ini melihat banyak hal dengan sudut pandang yang berbeda.

Irwanto menilai bahwa masyarakat kini jauh lebih rasional dan terbuka dibanding masa lalu. Batas-batas sosial yang dulu terasa tegas kini mulai mencair. Meski demikian, ia mengakui bahwa pengaruh strata sosial masih belum benar-benar hilang. Jejaknya masih bisa ditemukan dalam percakapan sehari-hari, dalam pergaulan keluarga, bahkan dalam pertimbangan sosial tertentu yang berkaitan dengan adat.

Menurutnya, modernisasi memang mengubah cara masyarakat memandang status sosial, tetapi tidak serta-merta menghapus ingatan budaya. Tradisi tetap hidup, hanya bentuknya yang berubah. Ia tidak lagi berdiri sebagai aturan yang kaku, melainkan lebih sering hadir sebagai identitas budaya yang dihormati.

Di sinilah Toraja berada dalam situasi yang khas: bergerak maju tanpa benar-benar meninggalkan akar. Masyarakat modern tumbuh di atas warisan lama, dan di antara keduanya selalu ada ruang pertemuan yang tidak selalu mudah dijelaskan.

BagiNya (Irwanto), strata sosial Toraja perlu dipahami secara kritis. Ia menegaskan bahwa adat tidak boleh hanya dilihat sebagai sesuatu yang sakral tanpa ruang tanya, tetapi juga tidak layak diputus dari akar sejarahnya.

Sebagai praktisi hukum sekaligus akademisi, ia memahami bahwa banyak persoalan sosial lahir bukan karena adat itu sendiri, melainkan karena cara manusia menempatkan adat secara kaku. Ketika adat dijadikan alat untuk membedakan martabat manusia, maka yang muncul bukan lagi kehormatan, melainkan jarak sosial.

Karena itu, Ia (Irwanto) melihat strata sosial masih relevan sebagai bahan refleksi budaya. Ia penting untuk dikenang, dipelajari, dan dipahami sebagai bagian dari sejarah masyarakat Toraja. Namun dalam kehidupan modern, ukurannya tidak bisa lagi menjadi penentu utama nilai seseorang.

Kini, manusia dinilai dari integritas, pendidikan, kerja keras, dan kontribusinya kepada masyarakat. Keturunan mungkin masih menjadi identitas, tetapi bukan lagi satu-satunya ukuran kehormatan. Di titik ini, adat dan modernitas dipaksa untuk berdialog.

Pertanyaan tentang strata sosial di Toraja sesungguhnya adalah pertanyaan tentang bagaimana masyarakat merawat masa lalu tanpa kehilangan masa depan. Apakah warisan leluhur harus terus dipertahankan sebagai simbol identitas, atau sudah saatnya ditempatkan sebagai bagian dari sejarah yang tidak lagi mengikat?

Irwanto memandang, jawaban atas pertanyaan itu ada pada kebijaksanaan. Adat perlu dijaga, tetapi tidak boleh membatasi. Leluhur patut dihormati, tetapi generasi baru juga berhak tumbuh dalam ruang sosial yang setara. Tradisi layak dipelihara, tetapi tidak boleh menjadi dinding yang menghalangi perubahan.

Toraja hari ini adalah cermin dari pergulatan itu. Di satu sisi, masyarakatnya masih memegang kuat nilai adat. Di sisi lain, mereka juga sedang berjalan menuju masyarakat yang lebih terbuka dan egaliter. Strata sosial pun berada di antara dua arus itu: masih ada, masih terasa, tetapi tidak lagi sekuat dulu.

Dan mungkin di situlah letak keindahan Toraja. Ia tidak menolak masa lalu, tetapi juga tidak berhenti di sana. Ia belajar berjalan bersama zaman, sambil tetap membawa jejak leluhurnya di dalam langkah. (*)

  • Penulis: Opini

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wabup Jayawijaya Lepas Kontingen Gamara IKT Choir yang Berkopetisi di Ajang BICF 2023

    Wabup Jayawijaya Lepas Kontingen Gamara IKT Choir yang Berkopetisi di Ajang BICF 2023

    • calendar_month Sab, 22 Jul 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, WAMENA — Wakil Bupati Kabupaten Jayawijaya, Marthin Yogobi melepas Kontingen Paduan Suara Gamara IKT Choir (GIC) yang akan ikut dalam ajang kompetisi Paduan Suara BICF (Bali Internasional Choir Festival) 2023. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kabupaten Jayawijaya Marthin Yogobi, SH, M.Hum menyampaikan bahwa GIC tidak saja mewakili warga IKT, tetapi juga Papua Pegunungan, dan teristimewa […]

  • Dinilai Berprestasi, Tim Sillakku’ Resmob Polres Toraja Utara Dapat Penghargaan

    Dinilai Berprestasi, Tim Sillakku’ Resmob Polres Toraja Utara Dapat Penghargaan

    • calendar_month Sel, 20 Mei 2025
    • account_circle Desianti
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Tujuh personil Tim Reserse Mobile (Resmob) Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Toraja Utara mendapat penghargaan dari Kapolres Toraja Utara, AKBP Stephanus Luckto Andry Wicaksono. Ketujuh personil Reserse yang dikenal dengan “Tim Sillakku’” ini diberi penghargaan karena dianggap memiliki kinerja yang luar biasa dalam pelaksanaan tugas di bidang penegakan hukum. Pemberian penghargaan […]

  • Usai Dilantik, TP-PKK Toraja Utara Gagas Koperasi Digital

    Usai Dilantik, TP-PKK Toraja Utara Gagas Koperasi Digital

    • calendar_month Ming, 23 Mar 2025
    • account_circle Desianti
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Usai dilantik pada Sabtu, 22 Maret 2025, Ketua dan Pengurus Tim Penggerak PKK Kabupaten Toraja Utara langsung menggagas program unggulan. Salah satunya adalah membentuk koperasi digital. Ketua TP PKK Kabupaten Toraja Utara, Damayanti Batti, menyatakan Koperasi Digital ini bukan hanya untuk kader PKK, tapi bisa juga untuk masyarakat Toraja Utara. “Kita akan […]

  • Sekelompok Warga Tolak Eksplorasi Panas Bumi di Lembang Balla, Tana Toraja

    Sekelompok Warga Tolak Eksplorasi Panas Bumi di Lembang Balla, Tana Toraja

    • calendar_month Jum, 22 Jan 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, BITTUANG — Sekelompok warga Lembang Balla, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, menyatakan menolak keras eksplorasi maupun eksploitasi sumber daya alam panas bumi yang berada di wilayah lembang (desa) tersebut. Pernyataan penolakan itu disampaikan warga di Tongkonan Tondonna Balla, Jumat, 22 Januari 2021. Puluhan warga bertanda tangan di atas selembar spanduk penolakan eksplorasi panas bumi […]

  • Kundapil, Legislator Golkar Sulsel Tinjau Kesiapan Pembangunan Kawasan Wisata Buntu Sikolong

    Kundapil, Legislator Golkar Sulsel Tinjau Kesiapan Pembangunan Kawasan Wisata Buntu Sikolong

    • calendar_month Sab, 27 Mar 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, John Rende Mangontan melaksanakan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) di Kelurahan Ariang, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, Jumat, 26 Maret 2021. Kundapil adalah salah satu program DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, selain Reses, dimana setiap anggota DPRD diwajibkan turun ke Daerah Pemilihannya (Dapil) untuk melihat dan mendengar dari dekat […]

  • Selama Pandemi, Kunjungan Pasien ke RS Menurun Namun Permintaan Formalin Meningkat

    Selama Pandemi, Kunjungan Pasien ke RS Menurun Namun Permintaan Formalin Meningkat

    • calendar_month Sen, 22 Feb 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Fakta mengejutkan diungkap Direktur RS Elim Rantepao, dr. Adrian Benedict Wijaya terkait permintaan cairan formalin dari masyarakat ke RS Elim Rantepao, dalam beberapa bulan terakhir. Dokter Adrian mengatakan permintaan cairan formalin (yang salah satu fungsinya mengawetkan jenazah) dari masyarakat ke RS Elim Rantepao sangat meningkat dalam beberapa waktu terakhir sementara angka kunjungan […]

expand_less