Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Komunitas » OPINI: Salib, Kekuasaan, dan Keberanian Moral

OPINI: Salib, Kekuasaan, dan Keberanian Moral

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • Refleksi Jumat Agung Bagi Masyarakat Beriman Zaman Sekarang

Peristiwa Jumat Agung bukan sekadar kisah religius tentang penderitaan Yesus di masa lampau. Ia adalah cermin sejarah manusia yang terus berulang dalam berbagai bentuk sepanjang zaman. Kisah salib memperlihatkan bagaimana kekuasaan, ketakutan, kepentingan kelompok, dan stabilitas sosial sering kali lebih diutamakan daripada kebenaran dan keadilan. Karena itu Jumat Agung bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga peristiwa kemanusiaan yang selalu relevan untuk dibaca kembali dalam konteks kehidupan sosial kita hari ini.

Jika kita membaca kisah pengadilan Yesus secara jujur, kita menemukan bahwa kematianNya tidak hanya disebabkan oleh satu pihak. Ia lahir dari persekutuan, konspirasi kepentingan antara elite religius dan kekuasaan politik. Para pemimpin agama melihat Yesus sebagai ancaman terhadap stabilitas religius yang mereka kelolah. Sementara penguasa politik melihatNya sebagai potensi gangguan terhadap ketertiban umum. Dalam situasi seperti itu, kebenaran menjadi tidak lagi penting. Yang lebih penting adalah menjaga stabilitas.

Pilatus sendiri sebenarnya tidak menemukan kesalahan serius pada Yesus. Namun tekanan massa dan pertimbangan politik membuatnya memilih jalan kompromi. Keputusan itu bukan keputusan keadilan, melainkan keputusan kekuasaan. Di sinilah kita melihat bahwa dalam sejarah manusia, kebenaran sering kali dikalahkan bukan karena ia lemah, tetapi karena ia dianggap tidak menguntungkan.

Yang lebih menyedihkan, peristiwa salib juga memperlihatkan bahwa pembungkaman terhadap suara kebenaran tidak selalu datang dari luar. Ia juga dapat muncul dari dalam komunitas sendiri. Yudas mengkhianati Yesus. Petrus menyangkalNya karena takut. Para murid lainnya melarikan diri. Kisah ini menunjukkan bahwa ketakutan sering kali membuat manusia kehilangan keberanian moralnya. Ketakutan adalah musuh terbesar manusia, karena itu dalam sejarah sosial politik ketakutan sangat efektif mengendalikan masyarakat.

Orang bungkam bukan karena tidak tahu kebenaran, namun bungkam karena takut kehilangan posisi, takut kehilangan jabatan, takut dikucilkan, takut berhadapan dengan kekuasaan. Tokoh Pilatus dalam tragedi Jumat Agung sangat jelas memperlihatkan karakter ini, seorang pemimpin yang akhirnya cuci tangan, enggan bersikap meskipun ia tahu ada ketidakadilan. Cerminan Pilatus begitu mudah kita temukan dalam konteks elite lokal yang tunduk pada oligarki ekonomi, pemimpin yang memilih mengorbankan masyarkat demi investasi besar dengan seluruh narasi pembenarannya. Secara prinsip, Pilatus tidak membenci Yesus, Ia coba membebaskannya tapi pada akhirnya ia memilih tunduk pada tekanan kekuasaan dan kepentingan politik. Pilatus adalah sistem yang bekerja tanpa nurani di zaman sekarang, ia nyata terlihat ketika hukum tunduk pada modal, ketika kebijakan tunduk pada investor, ketika suara rakyat dikalahkan oleh proyek besar.

Karena itu Jumat Agung sesungguhnya adalah cermin bagi setiap orang beriman. Ia mengajak kita bertanya, ketika kebenaran berada dalam tekanan, dimanakah posisi kita? Apakah kita berdiri bersama mereka yang lemah, atau justru diam demi keamanan diri sendiri?

Refleksi ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat berbagai dinamika sosial di sekitar kita dewasa ini. Dalam banyak kasus di berbagai wilayah Indonesia, masyarakat lokal dan masyarakat adat tidak jarang menghadapi tekanan ketika berhadapan dengan proyek-proyek pembangunan berskala besar seperti pengembangan energi geothermal, program food estate, pertambangan, maupun ekspansi perkebunan skala luas. Proyek-proyek tersebut sering diperkenalkan atas nama kemajuan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi dalam praktiknya dapat menimbulkan ketegangan sosial ketika ruang hidup masyarakat tradisional terancam atau suara keberatan mereka tidak memperoleh ruang dialog yang memadai.

Dalam situasi seperti ini, suara-suara yang berusaha memperjuangkan keadilan ekologis dan martabat masyarakat lokal kadang dipersepsikan sebagai penghambat pembangunan. Tidak jarang pula muncul tekanan sosial, delegitimasi publik, atau proses hukum yang membuat masyarakat kecil semakin sulit menyampaikan aspirasi mereka secara bebas. Di sinilah refleksi Jumat Agung menemukan relevansinya yang paling nyata “salib mengingatkan kita bahwa stabilitas politik, kepentingan kekuasaan, kepentingan modal sering kali lebih mudah dilindungi daripada keadilan”

Salib tidak hanya berbicara penderitaan Yesus 2000 tahun yang lampau namun salib tetap berbicara secara kontekstual hingga zaman ini, tentang teladan keberanian untuk tetap berdiri kokoh, setia pada kebenaran, bahkan Ketika kebenaran itu membuatnya berdiri sendirian, bahkan berakhir tragis dengan kematian.

Namun kisah salib juga bukan sekadar kisah tentang kekalahan. Ia adalah kisah tentang keberanian moral yang tidak menyerah kepada tekanan. Yesus tidak melawan dengan kekerasan, tetapi juga tidak mundur dari kebenaran yang Ia wartakan. Ia tetap setia pada panggilanNya sampai akhir. Dalam kesetiaan itulah martabat manusia dipulihkan.

Karena itu masyarakat beriman dipanggil untuk belajar dari keberanian tersebut. Iman tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga diwujudkan dalam keberanian menjaga keadilan, melindungi martabat sesama, dan merawat bumi sebagai rumah bersama. Keberanian moral seperti inilah yang menjadi tanda bahwa iman masih hidup di tengah masyarakat. Kisah Jumat Agung tidak berakhir di salib. Dalam terang Paskah, iman Kristiani percaya bahwa kebenaran tidak pernah berhenti pada kekalahan. Salib bukan akhir dari perjalanan Yesus, melainkan jalan menuju kebangkitan yang membuka harapan baru bagi manusia. Karena itu setiap kali masyarakat berhadapan dengan ketidakadilan, tekanan kekuasaan, atau pembungkamanterhadap suara-suara moral, umat beriman dipanggil untuk tetap percaya bahwa keberanian nurani tidak pernah sia-sia.

Kebangkitan Kristus menjadi tanda bahwa kebenaran yang tampak kalah dalam sejarah tidak pernah benar-benar dikalahkan. Ia akan menemukan jalannya kembali dalam hati manusia yang berani berdiri di pihak keadilan dan kebenaran, menjaga martabat sesama, dan merawat kehidupan bersama dengan tanggung jawab. Disinilah harapan Paskah menemukan maknanya yang paling nyata bukan hanya sebagai perayaan iman, tetapi sebagai panggilan untuk membangkitkan kembali keberanian moral dalam kehidupan bersama. Selamat memperingati Trihari Suci, Tuhan memberkati kita semua. (*)

Jumat Agung, 3 April 2026

Penulis: Fransiskus Allo (Dewan Pakar Pemuda Katolik Tana Toraja, Pemerhati Toraja).

  • Penulis: Redaksi
  • Editor: Arthur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Waspadai Penipuan Pendaftaran Subsidi Listrik Melalui Website

    Waspadai Penipuan Pendaftaran Subsidi Listrik Melalui Website

    • calendar_month Rab, 14 Apr 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, JAKARTA — PLN memastikan pendaftaran subsidi listrik bagi pelanggan rumah tangga daya 450 Volt Ampere (VA) dan 900 VA melalui situs web https://tokenpln.shop/index.php?app=PLN&data1ID=135, tidak benar alis hoax. PLN mengimbau pelanggan untuk berhati-hati terhadap informasi terkait cara memperoleh stimulus listrik dan juga subsidi listrik. “Pelanggan harus berhati-hati terhadap situs-situs web penipuan-penipuan terkait subsidi dan stimulus. […]

  • 30 Anggota DPRD Tana Toraja Terpilih Pemilu 2024 Resmi Dilantik, Berikut Namanya

    30 Anggota DPRD Tana Toraja Terpilih Pemilu 2024 Resmi Dilantik, Berikut Namanya

    • calendar_month Kam, 26 Sep 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    Pelantikan 30 Anggota DPRD Tana Toraja Periode 2024-2029 digelar Kamis 26 September 2024 bertempat di ruang rapat paripurna DPRD Tana Toraja, Makale. (foto: dok. kareba-toraja). KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — 30 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tana Toraja hasil Pemilu 2024 yang digelar 14 Februari 2024 lalu resmi dilantik. Pelantikan 30 Anggota DPRD Tana Toraja […]

  • Penyuluh Agama Kemenag Toraja Utara Diharapkan Bisa Bantu KPU Sosialisasikan Tahapan Pemilu

    Penyuluh Agama Kemenag Toraja Utara Diharapkan Bisa Bantu KPU Sosialisasikan Tahapan Pemilu

    • calendar_month Sel, 27 Des 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Sebanyak 170 Penyuluh Agama Islam Kristen dan Katolik dari Kantor Kementerian Agama Toraja Utara mengikuti sosialisasi tahapan penyelenggaraan Pemilu yang diselenggarakan oleh KPU Toraja Utara di Heritage Hotel, Selasa, 26 Desember 2022. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan wawasan Pemilu kepada para penyuluh agama untuk selanjutnya disosialisasikan kepada masyarakat binaan di […]

  • 9 Lembang di Toraja Masuk Daftar 500 Besar Anugerah Desa Wisata 2023

    9 Lembang di Toraja Masuk Daftar 500 Besar Anugerah Desa Wisata 2023

    • calendar_month Sel, 21 Mar 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, JAKARTA — Sembilan Desa (Lembang) di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara masuk daftar 500 besar Desa Wisata dalam Anugerah Desa Wisata tahun 2023 yang diumumkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, Minggu,  19 Maret 2023. Dari sembilan Lembang (Desa) tersebut, empat diantaranya berada di Kabupaten Tana Toraja dan lima lainnya di Kabupaten […]

  • Jasad Pria Asal Makale Utara Ini Ditemukan Sudah Membusuk di Rumahnya

    Jasad Pria Asal Makale Utara Ini Ditemukan Sudah Membusuk di Rumahnya

    • calendar_month Sen, 17 Jan 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Seorang pria paruh baya bernama Oktavianus, 56 tahun, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di rumahnya yang terletak di Karassik, Lingkungan Luak, Kelurahan Bungin, Kecamatan Makale Utara, Tana Toraja, Minggu, 16 Januari 2022. Almarhum yang tinggal seorang diri di rumahnya diduga sudah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya karena ditemukan dalam keadaan sudah membusuk. […]

  • Anak Sekolah di Tana Toraja Menantang Maut Lintasi Jembatan Gantung Rusak

    Anak Sekolah di Tana Toraja Menantang Maut Lintasi Jembatan Gantung Rusak

    • calendar_month Rab, 25 Mei 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, REMBON —  Video sejumlah siswa SMP melintasi jembatan gantung yang dalam kondiai rusak, beredar di media sosial. Beberapa siswa SMP tersebut terlihat nekat menyeberangi jembatan yang kondisinya nyaris roboh dengan lantai yang sudah lapuk, bahkan sebagian lantainya sudah roboh. Para siswa SMP harus berpegangan di tali jembatan agar bisa menyebrangi jembatan rusak tersebut. Setelah […]

expand_less