Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Ketika Keluarga Menjadi Benteng; Merawat Ecclesia Domestica di Tengah Perubahan Zaman

Ketika Keluarga Menjadi Benteng; Merawat Ecclesia Domestica di Tengah Perubahan Zaman

  • account_circle Yohanis Metris
  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Pdt. Yohanis Metris, S.Th, M.Th*

Ada sesuatu yang sedang berubah di dalam keluarga. Bukan hanya cara orang tua bekerja, cara anak belajar, atau cara keluarga berkomunikasi. Perubahan itu perlahan menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam: cara keluarga hadir satu bagi yang lain.

Di satu meja makan, anggota keluarga bisa duduk bersama tetapi sibuk dengan gawainya masing-masing. Di rumah yang sama, percakapan dapat semakin sedikit. Anak-anak tumbuh di tengah derasnya informasi digital, sementara orang tua tidak selalu mampu mengikuti dunia yang sedang mereka masuki.

Di tengah situasi itulah PGIW Sulselra mengajak gereja, pemerintah, PKK, tokoh masyarakat dan berbagai unsur lainnya berhenti sejenak untuk melihat kembali satu pertanyaan penting:

“Bagaimana kita membangun keluarga Kristen yang tangguh di tengah perubahan zaman?”

Pertanyaan itu menjadi napas dalam Seminar dan Konsultasi Publik Ketahanan Keluarga yang berlangsung di Tammuan Mali’, Tana Toraja, 3–5 September 2026, dengan tema “Membangun Keluarga Kristen yang Tangguh.”

Keluarga Adalah Gereja yang Pertama

Seminar ini tidak dimulai dari persoalan perceraian, kekerasan, narkoba atau kenakalan remaja. Ia dimulai dari sebuah kesadaran teologis: keluarga adalah tempat pertama iman bertumbuh.

Dalam ibadah pembukaan, refleksi dari Yosua 24:14–16 mengingatkan bahwa keluarga mempunyai peranan penting dalam mewariskan iman. Gereja, sekolah dan negara memiliki peran yang sangat penting, tetapi tidak dapat menggantikan keluarga sebagai tempat pertama pembentukan karakter dan kehidupan iman.

Dalam perspektif inilah keluarga dipahami sebagai ecclesia domestica—gereja rumah tangga. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang. Rumah adalah tempat manusia pertama kali belajar mengasihi, mengampuni, menghormati, bekerja, bertanggung jawab dan mengenal Tuhan. Karena itu, ketika keluarga rapuh, yang dipertaruhkan bukan hanya kehidupan satu rumah tangga. Masa depan gereja dan masyarakat juga ikut dipertaruhkan.

Ketika Rumah Tangga Berhadapan dengan Zaman Baru

Perubahan zaman membawa banyak manfaat. Teknologi membuat komunikasi lebih cepat. Informasi lebih mudah diperoleh. Dunia menjadi semakin terbuka. Namun, di balik manfaat itu muncul tantangan baru.

Hasil diskusi peserta menunjukkan berbagai persoalan yang dihadapi keluarga dan generasi muda: lemahnya komunikasi dalam keluarga, penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan, pornografi, perjudian, alkohol, narkoba, seks bebas, pernikahan usia sekolah, kehamilan remaja, perselingkuhan, perceraian, bullying, kekerasan dalam rumah tangga dan persoalan kesehatan mental.

Persoalannya bukan semata-mata karena teknologi. Persoalan yang lebih mendasar adalah relasi. Anak membutuhkan orang tua yang hadir. Pasangan membutuhkan ruang untuk berbicara. Keluarga membutuhkan waktu untuk makan bersama, berdoa bersama dan saling mendengarkan.

Teknologi seharusnya mendekatkan manusia. Tetapi tanpa kebijaksanaan, teknologi justru dapat membuat orang yang dekat secara fisik menjadi jauh secara emosional.

Connection Before Correction

Salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam pembahasan tentang keluarga dan dunia digital adalah connection before correction. Sebelum mengoreksi anak, bangunlah hubungan dengannya. Sebelum melarang, dengarkan. Sebelum menghakimi, pahami. Sebelum bertanya “Mengapa kamu melakukan itu?”, mungkin orang tua perlu lebih dahulu bertanya: “Apa yang sedang kamu alami?”

Inilah tantangan pengasuhan pada zaman digital. Orang tua tidak cukup hanya menjadi pengawas penggunaan gawai. Orang tua harus menjadi sahabat, pendamping dan tempat aman bagi anak-anaknya.

Integritas Dimulai dari Rumah

Pembahasan yang disampaikan Prof. Dr. Jonathan L. Parapak dan Ibu Anne Parapak memperluas percakapan tentang keluarga kepada persoalan integritas, etos kerja dan relasi yang sehat.

 

Sebab karakter seseorang tidak tiba-tiba terbentuk ketika ia memasuki dunia kerja. Karakter itu dibentuk jauh sebelumnya—di rumah. Anak belajar kejujuran dari orang tua. Anak belajar tanggung jawab dari kebiasaan di rumah. Anak belajar menghormati orang lain dari cara ayah dan ibunya berbicara satu sama lain. Anak belajar menyelesaikan konflik bukan terutama dari nasihat, tetapi dari teladan yang ia lihat setiap hari.

Maka membangun keluarga Kristen yang tangguh pada akhirnya juga berarti membangun manusia yang berintegritas.

Gereja: Jangan Sampai Pelayanan Membebani Keluarga

Ada sebuah refleksi yang sangat penting dari konsultasi publik ini. Gereja dipanggil untuk menguatkan keluarga. Tetapi jangan sampai tanpa disadari, aktivitas gereja justru mengambil terlalu banyak waktu keluarga.

Karena itu, peserta merekomendasikan agar gereja mengevaluasi pola dan jadwal kegiatan pelayanan sehingga pelayanan gereja mendukung kehidupan keluarga, bukan justru membebaninya.

Ini merupakan pertanyaan penting bagi gereja: Apakah semua kegiatan gereja sungguh-sungguh menolong keluarga menjadi semakin dekat dengan Tuhan dan satu sama lain?

Jika keluarga adalah ecclesia domestica, maka pelayanan gereja seharusnya memperkuat gereja rumah tangga itu.

Dari Gereka ke Pemerintah; Keluarga Adalah Urusan Bersama

Seminar ini juga memperlihatkan bahwa ketahanan keluarga tidak dapat dibebankan hanya kepada gereja.

Pemerintah memiliki peran melalui kebijakan yang ramah keluarga, keseimbangan kerja dan kehidupan keluarga, pencegahan pernikahan usia sekolah, kehamilan remaja, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, persoalan kesehatan mental dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Di Tana Toraja, kekuatan Tallu Batu Lalikan juga dipandang penting sebagai ruang kerja bersama antara pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.

Dengan demikian, membangun keluarga bukan proyek satu lembaga. Ini adalah gerakan bersama.

Keluarga yang Tangguh Tanpa Masalah

Barangkali inilah pesan paling penting dari seluruh rangkaian seminar. Keluarga tangguh bukan keluarga yang tidak pernah mengalami konflik. Keluarga tangguh adalah keluarga yang mampu menghadapi konflik tanpa kehilangan kasih. Keluarga tangguh bukan keluarga yang tidak pernah terluka. Keluarga tangguh adalah keluarga yang mampu mengalami luka dan menemukan jalan pemulihan. Keluarga tangguh bukan keluarga yang sempurna. Ia adalah keluarga yang terus belajar untuk saling mendengarkan, saling mengampuni, saling menopang dan kembali kepada Tuhan.

Hasil konsultasi menegaskan bahwa ketahanan keluarga bukan hanya persoalan ekonomi. Keluarga membutuhkan kasih, komunikasi, kebersamaan, keteladanan dan akar spiritual yang kuat.

Dari Tammuan Mali’ untuk Keluarga-keluarga

Tiga hari di Tammuan Mali’ bukan sekadar sebuah kegiatan seminar. Ia menjadi ruang untuk mendengarkan. Ruang untuk mengakui bahwa keluarga sedang menghadapi tantangan. Ruang untuk menyadari bahwa gereja pun harus terus belajar.

Dan terutama, ruang untuk mengingat kembali bahwa rumah adalah tempat pertama di mana Injil seharusnya terlihat dan dirasakan. Sebab sebelum anak mengenal gereja melalui gedung dan liturgi, ia mengenal kasih melalui keluarganya. Sebelum ia belajar tentang pengampunan dari khotbah, ia belajar mengampuni dari orang tuanya. Sebelum ia memahami pelayanan, ia melihat bagaimana keluarganya saling melayani. Dan sebelum ia mengenal Tuhan melalui banyak kata, ia seharusnya mengalami kasih Tuhan melalui kehidupan keluarganya.

Karena itu, membangun keluarga Kristen yang tangguh bukan sekadar menyelamatkan rumah tangga. Kita sedang menjaga masa depan gereja. Kita sedang merawat masa depan masyarakat. Dan kita sedang menghadirkan Kristus mulai dari rumah kita sendiri. (*)

*Penulis adalah Ketua PGI Wilayah Sulselra

  • Penulis: Yohanis Metris
  • Editor: Arsyad Parende

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Putra Toraja Dilantik Menjadi DPP Taruna Merah Putih, Sayap Pemuda PDI Perjuangan

    Dua Putra Toraja Dilantik Menjadi DPP Taruna Merah Putih, Sayap Pemuda PDI Perjuangan

    • calendar_month Selasa, 11 Jul 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, JAKARTA — Ketua Bidang Politik DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani melantik kepengurusan DPP Taruna Merah Putih, Selasa, 11 Juli 2023. Dalam susunan kepengurusan DPP TMP masa bakti 2019-2024, terdapat dua putra Toraja, yakni mantan Ketum GMKI 2014-2016, Ayub Pongrekun dan mantan Ketua Umum Presidium Pusat PMKRI periode 2020-2022, Benidiktus Papa. Saat ini, Ayub Pongrekun […]

  • UKI Toraja dan SD Kristen Makale 1 Perkuat Kolaborasi Lewat Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI

    UKI Toraja dan SD Kristen Makale 1 Perkuat Kolaborasi Lewat Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle Arsyad Parende
    • 0Komentar

    UKI Toraja dan SD Kristen Makale 1 gelar Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI. (Foto: Multimedia UKI Toraja)   KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Universitas Kristen Indonesia Toraja (UKI Toraja) berkolaborasi dengan SD Kristen Makale 1 dalam pelaksanaan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin 17 Agustus 2026. Bertindak sebagai Komandan […]

  • Mendesak Perbaikan dan Pelebaran Jalan Poros Enrekang-Toraja

    Mendesak Perbaikan dan Pelebaran Jalan Poros Enrekang-Toraja

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Truk ekspedisi yang terbalik di Pa’tengko, Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja, Minggu, 2 Januari 2022, merupakan satu dari sekian banyak peristiwa kecelakaan lalu lintas yang disebabkan karena jalan rusak di poros Enrekang-Toraja. Sebelum-sebelumnya, cukup banyak kecelakaan lalu lintas terjadi di jalan trans Sulawesi poros Enrekang-Toraja ini. Peristiwa kecelakaan lalu lintas yang kerap terjadi […]

  • Provinsi Sulawesi Selatan Bakal Miliki Perda Sistem Pertanian Organik

    Provinsi Sulawesi Selatan Bakal Miliki Perda Sistem Pertanian Organik

    • calendar_month Minggu, 29 Nov 2020
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Provinsi Sulawesi Selatan bakal memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur mengenai Sistem Pertanian Organik. Pertanian organik adalah cara-cara atau sistem budidaya pertanian yang menghindarkan penggunaan pupuk ataupun pestisida buatan pabrik. Perda tentang Sistem Pertanian Organik ini merupakan inisiatif anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Komisi B. Naskah akademik dan konsultasi publik serta […]

  • Lima Tahun Bertugas Sebagai Wakil Bupati, Yosia Rinto Kadang Pamit Kepada Masyarakat Toraja Utara

    Lima Tahun Bertugas Sebagai Wakil Bupati, Yosia Rinto Kadang Pamit Kepada Masyarakat Toraja Utara

    • calendar_month Selasa, 30 Mar 2021
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Jelang berakhirnya masa jabatan Bupati/Wakil Bupati Toraja Utara periode 2016-2021 yang dijadwalkan berakhir 31 Maret 2021, Wakil Bupati Yosia Rinto Kadang yang mendampingi Bupati Kala’tiku Paembonan selama 5 tahun memimpin Toraja Utara pamit kepada masyarakat. “Mohon pamit, besok tanggal 31 Maret 2021 pukul 24.00 sudah berhenti dan nanti Pak Yohanis Bassang dan […]

  • Warga Rembon Temukan Bom Granat Aktif Saat Bersihkan Sawah

    Warga Rembon Temukan Bom Granat Aktif Saat Bersihkan Sawah

    • calendar_month Minggu, 7 Jul 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    Tim Penjinak Bom (Jibom) Gegana Satuan Brimob Polda Sulsel memusnahkan bom militer jenis Uzo granat nanas di Lingkungan Ta’do Kelurahan Rembon. (foto: dok. istimewa/kareba toraja).   KAREBA-TORAJA.COM, REMBON — Sebuah Granat ditemukan secara tidak sengaja warga Rembon Edi Patinggi (45) Jumat 05 Juli 2024 sekitar pukul 15.30  wita. Grana tersebut ditemukan Edi saat membersihkan kolam […]

expand_less