Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Diaspora » “TORAJA TETAP TORAJA”, Dialog Awal Tahun Pertemukan Pemerintah dan Tokoh Agama

“TORAJA TETAP TORAJA”, Dialog Awal Tahun Pertemukan Pemerintah dan Tokoh Agama

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 6 Jan 2022
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SELASA, 4 Januari 2022, bertempat di Pusat Ziarah Sa’pak Bayobayo, Sangalla’, Tana Toraja, diadakan Dialog Awal Tahun dengan tema “Toraja Tetap Toraja.” Dalam suasana kegembiraan Natal dan Tahun Baru 2022 kegiatan dialog awal tahun ini menjadi kesempatan terbaik membangun sinergisitas merefleksikan bersama perkembangan Toraja dari masa ke masa. Hadir sebagai panelis dalam kegiatan ini adalah Bapa Uskup Keuskupan Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada’, Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja, Pdt. Alfred Anggui, Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, dan Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang dengan moderator Pastor Paulus Tongli. Peserta yang hadir sebanyak 155 orang yang terdiri dari tokoh-tokoh umat dan masyarakat, perwakilan kelompok kategorial dan Ormas di Toraja.

Pastor Paulus Tongli, selaku moderator, membagi kegiatan ini dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pemaparan gagasan dari keempat panelis. Tahap kedua adalah dialog dari peserta berupa tanggapan kritis, saran-harapan dan refleksi. Mgr. John Liku-Ada’ sekaligus panelis pertama mengetengahkan sebuah harapan untuk merefleksikan identitas kultural Toraja. Uskup yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-73 ini memberikan catatan kritis atas fenomena budaya Toraja dewasa ini, “Identitas budaya Toraja yang asli dalam wujud sekarang sudah banyak mengalami penyimpangan. Kita harus mempelajari terus-menerus identitas asli Toraja. Harapan dialamatkan pada perguruan tinggi yang ada untuk menggali dan mempelajari identitas budaya Toraja yang asli.” Terhadap pergeseran identitas asli budaya Toraja yang mengalami distorsi makna asli, dia pun mengutip teks Injil Markus 7:8-9 “…ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia… Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara ada istiadatmu sendiri.” Nilai suci tradisi leluhur kita orang Toraja harus dijaga dan dipelihara serta tidak boleh didistorsi oleh kepentingan mengejar prestise pribadi atau kelompok. Selanjutnya beliau memaparkan tentang sejarah panjang perjuangan orang Toraja dalam menghadapi invasi dari luar sejak tahun 1683. Mereka berhasil mempertahankan dan menjaga identitas budaya serta kedaulatan Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo melalui perjuangan To Pada Tindo dengan semboyan “Misa’kada dipotuo pantan kada dipomate.” Di akhir pemaparan, Uskup yang mendalami budaya Toraja dalam disertasi doktoralnya di Universitas Gregoriana Roma, Italia, memberikan sebuah arah gerak bersama ke depan, yaitu perlu re-evangelisasi (mengaktualkan iman dalam terang Injil), membangun ekonomi masyarakat Toraja dan re-interpretasi budaya Toraja.

Pdt. Alfred Anggui, yang baru saja terpilih sebagai Ketua BPS Gereja Toraja periode 2021-2026, mengajukan pertanyaan kritis untuk semua peserta, “Kenapa Toraja harus dijaga? Ada apa dengan Toraja?” Pertanyaan ini menjadi pintu masuk membangun kesadaran akan identitas Toraja. Toraja mesti dilihat dalam skala nasional sebagai bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beliau mencontohkan, “Orang Toraja itu sedikit, tetapi mereka tersebar ke mana-mana dengan membawa adatnya.” Buku “Komandan Frans Karangan. Dalam Gejolak Sejarah” menjadi contoh nyata bagaimana orang-orang Toraja berperan aktif dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Menyikapi situasi dewasa ini di era post-truth, Gereja Toraja mempersiapkan dan mengutus 1000 anggota jemaat sebagai pewarta kabar gembira. Langkah ini merupakan langkah konkret untuk tetap menebarkan kebenaran dan warta keselamatan bagi masyarakat luas di tengah kepungan berbagai macam berita hoaks yang menyesatkan.

Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang, tampil memukau dan mencuri perhatian seluruh peserta dengan gaya retorikanya yang khas. Dia memulai dengan pemaparannya lewat sebuah joke yang segar dan mengundang tawa riuh peserta. Bupati yang baru saja sukses menyelenggarakan festival paduan suara Natal 2021 ini, mengajak peserta untuk tetap menjaga warisan agung leluhur kita orang Toraja yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Langkah konkret yang dibuat oleh Bupati yang sebelumnya lama berkarya di Timika, Papua, adalah membangun Lembang Budaya. “Selama ini yang jamak dikenal adalah Desa Wisata, namun saya ingin membangun Lembang Budaya. Melalui program Lembang Budaya dengan bantuan Rp. 300.000.000,- per lembang, diharapkan sebagai pionir dalam mempertahankan budaya dan kearifan lokal. Sebagai contoh, jikalau orang makan tidak perlu memakai kertas makan yang harus dibeli, tetapi cukup dengan menanam pisang di sekitar pekarangan rumah sehingga daunnya bisa dimanfaatkan sebagai wadah untuk makanan. Sampah dari daun pisang pun tidak akan menjadi polusi untuk lingkungan tetapi justru menjadi pupuk” demikian dengan sangat praktis dan konkret mengaktualisasikan gagasannya tentang menjaga budaya Toraja supaya tetap lestari. Dia pun membuat regulasi daerah supaya pedangan yang datang dari luar tidak mematikan pedagang lokal, melainkan ada kerja sama yang saling menguntungkan.

Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, sebagai panelis terakhir, juga mengajukan sebuah pertanyaan refleksif di awal pemaparannya, “Apakah Toraja hari ini masih sama dengan Toraja 100 tahun yang lalu?” Beliau yang sudah kedua kalinya mendapat amanah sebagai bupati di Tana Toraja ini merujuk pada kajian-kajian ilmiah yang telah dibuat dalam Kombongan Sangtorayaan. Ada tiga falsafat hidup orang Toraja sebagai identitas budaya, yaitu Tallu Lolona (manusia, hewan dan tumbuhan) yang ditopang oleh Tallu Batu Lalikan (Gereja, Pemerintah dan Tokoh Adat). Dengan tegas dia mengatakan, “Agama tidak bisa berjalan dengan meninggalkan budayanya. Ketahanan budaya perlu kita jadikan perhatian bersama. Sejauh mana persiapan kita menghadapi akulturasi budaya yang terjadi.”

Setelah pemaparan keempat panelis tersebut, moderator memberikan kesempatan kepada para peserta mengajukan tanggapan kritis dan masukan memperkaya Dialog Awal Tahun ini. Ada beragam tanggapan dan pemaparan dari para peserta yang kemudian disimpulkan dengan sangat baik oleh Pastor Paulus Tongli selaku moderator. Dia membuat resume atas pemaparan materi dan tanggapan kritis dari peserta dialog demikian: “Ke-Toraja-an memang mengalami tantangan berat dewasa ini. Ada banyak perubahan drastis yang terjadi di sekitar kita. Hal ini memang menggelisakan kita. Perubahan itu sebuah keniscayaan. Di tengah perubahan itu, kita tidak boleh kehilangan identitas. Apa yang harus kita jaga? Kita diajak menjaga budaya Tallu Lolona yang ditopang oleh Tallu Batu Lalikan. Harus perkuat kerja sama antar Gereja, Pemerintah dan Tokoh Adat. Kita harus menjaga relasi manusia dengan Tuhan (aluk-agama); relasi manusia dengan sesama (adat-istiadat), relasi manusia dengan alamnya (kosmis). Oleh karena itu, kita perlu memperkuat iman, menjaga spirit Tallu Lolona dan kebijakan-kebijakan sehingga kita tidak kehilangan identitas budaya Toraja. Perlu adanya regulasi yang mencegah adanya ketimpangan berupa ketidakseimbangan distribusi sumber-sumber ekonomi. Untuk itu, kita butuh gerakan bersama yang harus terus disuarakan.”

Rangkaian kegiatan Dialog Awal Tahun yang dimulai dari pukul 09:00 sampai pukul 15:00 dan berjalan dengan baik serta tertib, akhirnya ditutup dengan ucapan terima kasih dari panitia yang diwakili Pastor Yans Panganna’, budayawan muda Toraja, dan doa penutup serta berkat dari Pastor Bartholomeus Pararak, selaku vikaris episkopalis (Vikep) Kevikepan Toraja, sekaligus ketua panitia kegiatan ini. (*)

Penulis: Aidan P. SidikPeserta Dialog Awal Tahun “Toraja Tetap Toraja”

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bangun Generasi Berakhlak dan Berprestasi Lewat Semarak Ramadan 1447 H oleh Remaja Masjid Babuttaubah Kaluku Gandasil

    Bangun Generasi Berakhlak dan Berprestasi Lewat Semarak Ramadan 1447 H oleh Remaja Masjid Babuttaubah Kaluku Gandasil

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Arsyad Parende
    • 0Komentar

    Semarak Ramadan 1447 H oleh Remaja Masjid Babuttaubah Kaluku Kelurahan Salubarani Gandasil. (Foto: istimewa)   KAREBA-TORAJA.COM, GANDANGBATU SILLANAN —- Suasana meriah dan religius bercampur kegembiraan mewarnai lingkungan Masjid Babuttaubah Kaluku yang terletak di Dusun Kaluku Kelurahan Salubarani, Kecamatan Gandangbatu Sillanan Tana Toraja. Sekelompok remaja yang tergabung dalam Remaja Masjid Babuttaubah Kaluku menginisiasi kegiatan bertajuk “Semarak […]

  • Sejumlah Tokoh Toraja Ikut Bertarung Pada Pilkada Serentak 2024 di Berbagai Daerah

    Sejumlah Tokoh Toraja Ikut Bertarung Pada Pilkada Serentak 2024 di Berbagai Daerah

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Selain di Toraja (Tana Toraja dan Toraja Utara) yang menggelar Pilkada, sejumlah tokoh asal Toraja atau berdarah Toraja juga ikut bertarung pada Pikada 2024 yang digelar serentak. Informasi dan data yang berhasil dihimpun Tim Redaksi KAREBA TORAJA dari berbagai sumber menyebutkan setidaknya 13 tokoh yang bertarung pada Pilkada Serentak tahun 2024, baik […]

  • Kapolsek Rindingallo Sosialisasikan Larangan Judi di Acara Rambu Solo’

    Kapolsek Rindingallo Sosialisasikan Larangan Judi di Acara Rambu Solo’

    • calendar_month Jumat, 26 Nov 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RINDINGALLO — Jajaran Polsek Rindingallo, Kabupaten Toraja Utara yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Rindingallo, AKP Martinus Pararuk dan personil intens melaksakan pengawasan dan sosialisasi disiplin penerapan protokol kesehatan Covid-19 di lokasi acara Rambu Solo’. Dalam dua hari terakhir, Rabu dan Kamis 24 November dan 25 November Kapolsek Rindingallo bersama jajaran mendatangi 3 lokasi acara […]

  • Pelestarian Alam; Inspirasi dari Banff untuk Destinasi Wisata Toraja

    Pelestarian Alam; Inspirasi dari Banff untuk Destinasi Wisata Toraja

    • calendar_month Selasa, 9 Jan 2024
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    PERJALANAN melintasi Taman Nasional Banff di Alberta, Kanada, pada dua musim yang berbeda memberi kesempatan untuk merenung pada isu-isu yang melingkupi destinasi pariwisata. Artikel ini menggabungkan refleksi perjalanan dengan wawasan yang coba diusung dari manajemen objek wisata Banff. Penulis berfoto di Danau Louise yang membeku pada musim salju. Ketika kembali  menginjakkan kaki di Taman Nasional […]

  • Baru Awal Tahun, Polres Tana Toraja Sudah Tangani 7 Kasus Kekerasan Seksual, 6 Diantaranya Dibawah Umur

    Baru Awal Tahun, Polres Tana Toraja Sudah Tangani 7 Kasus Kekerasan Seksual, 6 Diantaranya Dibawah Umur

    • calendar_month Senin, 3 Feb 2025
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    Polres Tana Toraja telah menangani sebanyak 7 kasus kekerasan seksual pada awal tahun 2025. (foto: dok. istimewa). KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Diawal Tahun 2025 ini, Polres Tana Toraja telah menerima 7 laporan terkait kasus kekerasan seksual. Korbannya terdiri dari 6 (enam) anak yang masih dibawah umur dan 1 (satu) perempuan dewasa. Menanggapi hal tersebut Kapolres Tana […]

  • Agustus 2022, Toraja Highland Festival Kembali Digelar

    Agustus 2022, Toraja Highland Festival Kembali Digelar

    • calendar_month Selasa, 12 Jul 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Sukses pada gelaran pertama tahun 2021, MASATA DPC Toraja Utara dan Geopark Toraja akan menggelar lagi kegiatan “Toraja Highland Festival” tahun 2022. Event promosi wisata dan ekonomi ini akan dilaksanakan pada 11 – 13 Agutus 2022. Siaran pers yang diterima redaksi kareba-toraja.com, menyebutkan event ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah “Bangga Wisata […]

expand_less