Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Headline » OPINI: Penyatuan Luwu-Toraja; Poros Baru Kekuatan Ekonomi Sulawesi

OPINI: Penyatuan Luwu-Toraja; Poros Baru Kekuatan Ekonomi Sulawesi

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 7 Feb 2026
  • comment 0 komentar

Ditulis Oleh: Divisi Pengkajian Pembentukan DOB Prov. Luwu Raya Toraja

Sebuah Keniscayaan Sejarah dan Geopolitik

Penyatuan Toraja ke dalam perjuangan bersama pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan sekadar urusan administratif untuk menambah luas wilayah, melainkan sebuah strategi besar untuk menyatukan sebuah kekuatan baru di wilayah sulawesi “Otot Ekonomi” Luwu dengan “Wajah Internasional” Toraja. Gabungan kedua wilayah ini akan menciptakan sebuah poros kekuatan baru yang mandiri secara politik dan kompetitif secara ekonomi, menjadikannya kekuatan ekonomi kedua terbesar di Pulau Sulawesi setelah Sulawesi Selatan.

Sesunguhnya penyatuan Luwu Raya- Toraja menjadi Daerah Otonom Baru di Sulawesi Selatan bukan hanya sekadar ambisi politik kekuasaan, melainkan sebuah pilihan rasional dan konstitusional. Gagasan ini diletakkan di atas tiga pilar utama: (1) pendekatan pelayanan publik, (2) percepatan pemerataan pembangunan, (3) dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Secara geografis, jarak yang membentang antara wilayah Luwu Raya-Toraja dengan pusat pemerintahan di Makassar telah menciptakan jurang administratif yang menghambat akselerasi kemakmuran. Bagi masyarakat di kaki pegunungan Latimojong hingga pesisir Teluk Bone, kehadiran provinsi baru adalah jawaban atas kerinduan akan kehadiran negara yang lebih dekat, lebih nyata, dan lebih responsif.

Sejarah mencatat bahwa benih persatuan ini telah disemai sejak dua dekade silam. Pada awal tahun 2000-an, para tokoh besar dari Toraja dan Luwu berkumpul di Hotel Misiliana (Sekarang Toraja Utara). Pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan peletakan batu pertama ideologis untuk menggagas calon DOB Provinsi. Di sana, kesadaran akan kesamaan nasib dan ke-terikat-an sejarah persaudaraan menyatu dalam satu visi: membawa wilayah ini (Luwu Raya-Toraja Red) keluar dari bayang-bayang dominasi pembangunan pusat provinsi induk.

Namun, sejarah kemudian menunjukkan jalur yang berbeda. Di saat semangat Luwu-Toraja masih berproses, pada tahun 2004, saudara serumpun di Sulawesi Barat berhasil mendeklarasikan provinsinya sendiri. Fenomena ini menjadi paradoks yang bagi masyarakat Luwu dan Toraja.

Kontribusi Ekonomi vs Realitas Kesenjangan

Data menunjukkan bahwa Luwu Raya dan Toraja adalah donatur dari Sumber Daya Alam (SDA) bagi kekayaan dan branding image bagi Sulawesi Selatan. Kedua daerah ini menyumbang rata-rata 18% pendapatan per tahun bagi provinsi induk melalui eksplorasi SDA dan sektor pariwisata (BPS Sulsel dan DJPK Kemenkeu, 2024).

Toraja meski secara angka nominal menyumbang porsi yang lebih kecil dibanding Luwu, namun memegang peran krusial sebagai penyumbang *citra (branding image) internasional* dan devisa internasional terbesar bagi Sulawesi Selatan.

Ironisnya, meski menjadi penyumbang penghasilan besar, wilayah-wilayah ini justru terjebak dalam angka kemiskinan yang relatif tinggi (Luwu Utara: 12-13%, Toraja: 11-12% bandingkan dengan Makassar yang terendah 4-5% dan Pangkep yang tertinggi 13-14%) (BPS Sulsel, 2025).

Kesenjangan ini merupakan dampak dari kebijakan yang bersifat “South Centric” atau berpusat di wilayah Selatan (Mamminasata dan wilayah Bosowa). Pembangunan infrastruktur jalan pun menunjukkan perbedaan mencolok; tingkat kemantapan jalan di Makassar dan Gowa mencapai >90%, sedangkan di Luwu Raya 60%-70%, dan Toraja berada di bawah 60% akibat medan pegunungan yang rawan longsor (KemenPU, 2025).

Akar Kultural dan Kesejarahan yang Tak Terpisahkan

Narasi pembentukan daerah otonomi baru ini memiliki fondasi sosiologis yang sangat dalam. Toraja dan Luwu bukan dua entitas asing, melainkan saudara tua yang dipersatukan oleh mitologi, ritual, dan sejarah administrasi.

Ikatan Mitologis:

Masyarakat meyakini hubungan darah “Kakak-Adik” antara penguasa Luwu (Pajung Luwu) dan Toraja.

Sosok Lakipadada yang mengembara mencari mustika keabadian (undaka tang mate) yang  pada ahirnya memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak. Dalam perjalanannya Lakipadada memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi.

– Pattalan Bantan yang bergelar Tomatasak ri Toraja

– Pattala Merang bergelar Sombari Gowa

– Pattala Bunga beregelar Pajung ri Luwu

Kesatuan Administratif:

Pada masa Hindia Belanda (1904-1906), Toraja dengan Nama Afdeling Makale dan Rantepao  secara resmi merupakan onderafdeeling  (sub-divisi) di bawah Afdeeling Luwu. Kebersamaan ini berlangsung hingga tahun 1950-an, sebelum akhirnya Toraja secara final terpisah menjadi kabupaten sendiri pada 1957 (difinalisasi 1959).

Filosofi Hidup:

Meskipun berbeda keyakinan (Islam di Luwu dan Kristen di Toraja), keduanya disatukan oleh falsafah “Misa Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate” (Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh).

Sinergi Ekonomi Anti-Resesi

Penyatuan ini akan membentuk ekosistem ekonomi yang lengkap, mandiri, dan tahan terhadap guncangan (anti-resesi).

  1. Luwu Timur (Mesin Pertumbuhan): Memiliki deposit nikel (PT Vale Indonesia) yang mendominasi PDRB hingga >45%. Ini memberikan kapasitas fiskal yang kuat bagi provinsi baru (BPS Lutim, 2023-2025).

2. Toraja (Stabilitas & Branding): Menyumbang aset non-ekstraktif berupa pariwisata budaya dan kopi premium. Sektor pariwisata Toraja mampu menarik lebih dari 40.000 wisatawan mancanegara per tahun. Kopi Arabika Toraja yang berproduksi 3.000-4.000 ton per tahun memiliki Sertifikat Indikasi Geografis (IG), sebuah aset kekayaan intelektual komunal yang sangat mahal.

Selain itu, terdapat aspek Integritas Ekologis. Toraja adalah daerah tangkapan air (catchment area) di mana sungai-sungai besar yang mengairi persawahan di dataran rendah Luwu berhulu di sana. Penyatuan dalam satu payung pemerintahan menjamin ketahanan lingkungan dari hulu ke hilir, mencegah kerusakan hutan yang bisa menghancurkan pertanian di dataran rendah.

  1. Palopo, Luwu dan Luwu Utara

Kota Palopo berperan sebagai pusat jasa, perdagangan, pendidikan, dan kesehatan di Luwu Raya, memudahkan akses layanan bagi wilayah sekitar, Luwu dan Luwu Utara  memiliki potensi pertanian dan perkebunan. Potensi sumber daya alamnya mendukung daya saing regional jika dikelola otonom.

Integrasi logistik akan terjadi secara luar biasa. Jika selama ini kopi Toraja harus menempuh 8-12 jam ke Makassar untuk diekspor, dengan adanya provinsi baru, ekspor dapat difokuskan melalui Pelabuhan Tanjung Ringgit di Palopo, yang berpotensi memotong biaya logistik hingga 30-40%.

Mengakhiri Isolasi dan “Brain Dain”

Selama puluhan tahun, terjadi fenomena “Brain Drain” (pelarian orang pintar) di mana warga Luwu dan Toraja harus bermigrasi ke Selatan untuk mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan terbaik. Fasilitas medis rujukan (RS Tipe A/B) menumpuk di Makassar (>10 RS), sementara di Luwu Raya dan Toraja masing-masing hanya memiliki satu rumah sakit rujukan. Hal ini sangat berisiko karena warga Luwu Timur harus menempuh perjalanan darat 8-12 jam hanya untuk mendapatkan layanan medis darurat. Demikian dengan sarana dan prasarana pendidikan yang baik terpusat di Makassar.

Dengan pembentukan Daerah Otonomi (Luwu Raya- Toraja) yang baru, kekuatan Toraja dan Luwu dalam mendorng peningkatan kuliatas SDM ditunjang oleh dukungan Sejumlah Universitas, Institut, dan Akademi baik di Toraja dan Luwu menjadi kekuatan baru bagi pengambangan Sumber Daya Manusia di sulewesi selain Makassar.

Kota Palopo Sebagai Pusat Pemerintahan?

Dengan pembentukan provinsi baru, pusat pemerintahan kemungkinan besar akan berada di Kota Palopo. Hal ini akan:

Memangkas Jarak Birokrasi: Waktu tempuh untuk urusan administrasi tingkat provinsi (perizinan, sertifikasi) akan berkurang hingga 70-80%.

Pemerataan Pembangunan: Anggaran tidak lagi dibagi untuk 24 kabupaten/kota di Sulsel, melainkan fokus pada 6 wilayah saja (Luwu, Lutra, Lutim, Palopo, Tana Toraja, Toraja Utara).

Optimalisasi Infrastruktur: Pembangunan akan difokuskan pada “Sabuk Transportasi” utara, termasuk pengembangan Bandara Bua di Luwu dan Bandara Toraja (Buntu Kunyi).

Geopolitik dan Integritas Ekologis

Secara administratif, penggabungan ini adalah solusi untuk memenuhi syarat minimal 5 kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi baru berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang telah diamandemen oleh UU Nomor 9 Tahun 2015 dan UU Nomor 6 Tahun 2023.

Dengan masuknya Tana Toraja dan Toraja Utara, jumlah wilayah genap menjadi 6 kabupaten/kota. Wilayah gabungan ini memiliki luas lebih dari 20,676.40 Km2 (45.60  %) dari luas Wilayah di Sulewesi Selatan

lebih luas dari Provinsi Bali atau Banten—dengan total populasi mencapai 1. 800.55 juta jiwa (BPS 2024).

Menjemput Masa Depan yang Berkeadilan

Penyebab ketertinggalan wilayah utara selama ini berakar pada Politik Anggaran (Pork Barrel Politics) yang lebih memihak pada basis massa elit di wilayah Selatan. Membangun 1 km jalan di Toraja memang lebih mahal 3-5 kali lipat dibanding di dataran rendah, namun itu bukan alasan untuk mengabaikan hak masyarakat atas infrastruktur yang layak.

Pembentukan provinsi gabungan Luwu Raya Toraja bukan sekadar ambisi politik, melainkan jalan keluar rasional untuk mendekatkan negara kepada rakyat. Menyatunya Toraja dan Luwu akan membentuk poros kekuatan baru yang tidak hanya mandiri, tetapi juga sejahtera dan bermartabat serta terbesar kedua di Pulau Sulawesi.

Penyatuan ini adalah solusi paling nyata untuk membawa pembangunan yang benar-benar menyentuh hingga ke puncak gunung Toraja dan pesisir Teluk Bone.

Penulis: Divisi Pengkajian Pembentukan DOB Prov. Luwu Raya Toraja

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolri Tegaskan Akan Menindak Tegas Siapapun Yang Melanggar Ketertiban Umum

    Kapolri Tegaskan Akan Menindak Tegas Siapapun Yang Melanggar Ketertiban Umum

    • calendar_month Jum, 4 Des 2020
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, JAKARTA – Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis menegaskan bahwa negara tidak boleh kalah dengan organisasi kemasyarakat (ormas) yang melakukan cara-cara premanisme untuk menghalangi proses penegakan hukum di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Idham terkait upaya penghadangan terhadap aparat kepolisian oleh Front Pembela Islam (FPI) saat mengantarkan surat pemanggilan kepada Habib Rizieq Shihab di Petamburan, Jakarta […]

  • Ayo Nonton Penampilan Band KOTAK di Toraja Carnaval 2023, GRATIS!

    Ayo Nonton Penampilan Band KOTAK di Toraja Carnaval 2023, GRATIS!

    • calendar_month Sel, 4 Jul 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Group Band kenamaan ibukota, KOTAK, dijadwalkan bakan manggung di acara puncak Toraja Carnaval 2023, yang diselenggarakan di bekas Bandar Udara Pongtiku Rantetayo, Tana Toraja. Jika ingin menonton penampilan mereka, Anda tidak perlu merogoh kantong untuk bayar tiket. Karena panitia Toraja Carnaval 2023 tidak memungut biaya tiket alias gratis. Hal ini diungkapkan inisiator […]

  • Jumlah Warga yang Terpapar Covid-19 di Toraja Utara Terus Bertambah

    Jumlah Warga yang Terpapar Covid-19 di Toraja Utara Terus Bertambah

    • calendar_month Kam, 3 Des 2020
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Dalam dua pekan terakhir, jumlah warga Toraja Utara yang positif terpapar virus Corona terus bertambah. Per 2 Desember 2020, jumlah warga yang terpapar sudah mencapai 64 orang Data ini berdasarkan siaran pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Toraja Utara, yang diterima redaksi kareba-toraja.com, Rabu malam. “Malam ini, TGPP Covid-19 Toraja […]

  • Upacara HUT Ke-80 RI Tingkat Kecamatan Gandangbatu Sillanan di Lapangan Salubarani Berlangsung Khidmat

    Upacara HUT Ke-80 RI Tingkat Kecamatan Gandangbatu Sillanan di Lapangan Salubarani Berlangsung Khidmat

    • calendar_month Ming, 17 Agu 2025
    • account_circle Indra
    • 0Komentar

    Upacara Peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia Tingkat Kecamatan Gandangbatu Sillanan berlangsung khidmat. (Foto/Indra-Karebatoraja)   KAREBA-TORAJA.COM, GANDANGBATU SILLANAN — Upacara peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia Tingkat Kecamatan Gandangbatu Sillanan Kabupaten Tana Toraja, Minggu 17 Agustus 2025 bertempat di Lapangan Sepakbola, Kelurahan Salubarani, Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Kabupaten Tana Toraja berlangsung khidmat. Bertindak selaku Inspektur Upacara […]

  • Yohanis Bassang Doakan Airlangga Hartarto Menang Pilpres 2024

    Yohanis Bassang Doakan Airlangga Hartarto Menang Pilpres 2024

    • calendar_month Rab, 20 Okt 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Ketua DPD II Partai Golkar Toraja Utara, yang juga Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untuk Partai Golkar yang sudah berusia 57 pada Tahun pada 20 Oktober 2021. Doa dan Ucapan selamat ulang tahun untuk Partai Golkar disampaikan Ombas kepada sejumlah wartawan yang sedang mengikuti Orientasi Lapangan Pelatihan […]

  • Jalan Kaki 6 Jam Lewati Hutan; Kisah Perjuangan Panwascam Simbuang Awasi Pemilu

    Jalan Kaki 6 Jam Lewati Hutan; Kisah Perjuangan Panwascam Simbuang Awasi Pemilu

    • calendar_month Rab, 13 Des 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, SIMBUANG — Cerita perjuangan Anggota Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Simbuang Tana Toraja ini dalam mengawal demokrasi patut diapresiasi. Berjalan kaki selama 6 sampai 7 jam melintasi hutan, gunung dan lembah untuk sampai di lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) mereka harus lakukan demi memastikan proses Pemilu 2024 berjalan dengan baik. Senin, 11 Desember 2023, Pasa […]

expand_less