Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Adat dan Budaya » Sejumlah Advokat Asal Toraja Desak Mahkamah Agung Larang Penggunaan Alat Berat pada Eksekusi Rumah Adat Tongkonan

Sejumlah Advokat Asal Toraja Desak Mahkamah Agung Larang Penggunaan Alat Berat pada Eksekusi Rumah Adat Tongkonan

  • account_circle Arsyad Parende
  • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
  • comment 14 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KAREBA-TORAJA.COM, JAKARTA — Tiga kali eksekusi rumah adat Toraja, Tongkonan selama tahun 2025 yang menggunakan alat berat menyisakan luka batin bagi masyarakat Toraja. Betapa tidak, Tongkonan adalah simbol peradaban, pusat kehidupan adat, dan warisan budaya suku Toraja, yang diakui secara luas oleh dunia. Tindakan eksekusi yang destruktif tersebut dinilai merupakan tindakan yang tidak beradab, dan mencederai rasa keadilan budaya masyarakat Toraja secara kolektif.

Berangkat dari polemi ini, sejumlah Advokat (profesional hukum) asal Toraja menyurati Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia dan mendesak agar lembaga negara segera menerbitkan regulasi yang secara eksplisit melarang penggunaan alat berat/metode destruktif dalam eksekusi objek Warisan Budaya Takbenda (dilindungi UU Cagar Budaya dan UU Hak Cipta). Juga menjamin bahwa eksekusi aset budaya harus dilakukan secara bermartabat (metode manual).

Ketiga Advokat yang menyurati Mahkamah Agung tersebut, diantaranya Andika Kurniawan Rante Bombang, Yodi Kristianto, S.H., M.H., Tri Gita Tikupadang, dan Rino Valdo Damanik.

Selain ke Mahkamah Agung, mereka juga mendesak Komisi Yudisial (KY) dan Komisi III DPR RI untuk segera bertindak menyikapi polemik serius ini.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksi KAREBA TORAJA, Kamis, 11 Desember 2025, Andika Kurniawan Rante Bombang menegaskan bahwa fokus pengaduan ini bukan untuk mengintervensi putusan pengadilan yang telah inkracht.

“Kami hadir di sini bukan untuk mengintervensi substansi putusan perdata. Kami menghormati putusan Hakim yang sesuai Ketentuan demi Keadilan dan mengakui hak setiap warga negara untuk mencari keadilan. Namun, kami menyoroti metode pelaksanaannya,” ujar Andika.

Menurutnya, penggunaan Ekskavator untuk merobohkan Rumah Adat Tongkonan – yang merupakan sebuah simbol peradaban, pusat kehidupan adat, dan warisan budaya – adalah tindakan yang kami nilai tidak beradab, destruktif, dan mencederai rasa keadilan budaya masyarakat Toraja secara kolektif.

Andika K. Rante Bombang menekankan bahwa langkah hukum ini adalah perjuangan konstitusional yang didasari prinsip Negara Hukum dan Demokrasi, bukan didorong oleh benci atau dendam.

“Kami harus menyadari bahwa nilai-nilai luhur leluhur termaktub dalam setiap ukiran dan filosofi Tongkonan. Prinsipnya sederhana: Tongkonan memiliki posisi sakral, layaknya Bendera Negara bagi seluruh rakyat Indonesia. Melukai atau merusaknya sama dengan melukai harga diri dan martabat bangsa,” jelasnya.

“Kami ingin mengetahui kepastian hukum soal metode eksekusi destruktif ini, apakah di anggap sama dengan bangunan biasa? Dan Apakah ada regulasi positif yang secara eksplisit membenarkan penggunaan alat berat untuk merobohkan rumah adat yang kaya nilai budaya—hanya karena ia kalah sengketa?” tegas Andika.

Ia memastikan bahwa jika regulasi yang berlaku dianggap inkonstitusional dan membuka celah metode destruktif, timnya siap melangkah ke jalur tertinggi.

“Jika ternyata ada aturan perundang-undangan yang kami anggap inkonstitusional, maka kami siap membawa perjuangan ini ke Mahkamah Konstitusi untuk dilakukan uji materiil. Kami akan menggunakan semua jalur hukum yang disediakan oleh negara.”

  • Penulis: Arsyad Parende
  • Editor: Arthur

Komentar (14)

  • Gareng

    Sudah tak da otak semua keliatannya para pengelola negeri ini, kebijaksanaan tak ada lagi, empati sudah mati, nurani pergi entah kemana, jati diri hanya modal korupsi, siasat Sengkuni menjadi ilmu abadi, budaya nepotisme seperti kewajiban sejati, ujung ujungnya kolusi sekedar balas Budi, nasib rakyat itu mimpi yang tergadaikan buat para politisi palsu, patriotisme cukup dalam sejarah, hidup mengisi kemerdekaan diri sendiri dan kroni, hukum seperti kitab suci yg semakin lama tak pernah difahami, sangsi sosial mana peduli, lingkungan hancur sudah pasti, sang istri layaknya selebriti, kendaraan dan rumah mewah seperti raja property, nasib bangsa itu kan hanya di undang undang dasar, keadilan sosial itu mah cuma Pancasila yang diucapkan, jadi masih mau di tipu KPU, apa yang bisa dibanggakan hidup di negeri ini, hanya satu yang rakyat tau….asss…

    Balas27 Januari 2026 11:33 am
  • Arman

    Saya saja yang asal Sumatera merasa pembongkaran/eksekusi rumah adat Tongkonan di Toraja tsb merasa sedih dengan tindakan eksekutor yang kurang menghormati warisan budaya khususnya warisan budaya Tanah Toraja.adalagi ada bangunan yang di eksekusi tsb sudah berusia 300 tahun. padahal mungkin dari bangunan tersebut banyak ilmu yg di dapat, mulai dari ilmu Arsitektur,seni budaya dan Moral(Gotong Royong).Bangsa Belanda Dan Bangsa Jepang Yang dulu menjajah saja Tidak Mau Merobohkan Bangunan Tsb ini malah di Robohkan Oleh BANGSA SENDIRI. SANGAT MIRIS..!!

    Balas15 Desember 2025 12:33 pm
  • Ummu Aditia

    Saya suku Bugis,ikut merasakan sedih atas terbongkarnya 2 tongkonan, yg sdh ratusan tahun berdiri, mari duduk damai antar kluarga yg bertikai

    Balas14 Desember 2025 4:17 pm
  • Sofyan S.

    Mestinya bangunan tersebut masuk dalam kategori cagar budaya, sehingga musti dilindungi tidak malah dirusak.

    Balas14 Desember 2025 1:11 pm
  • Erw

    Sewaktu sy Sekolah setingkat SD SMP. D mapel sejarah salah satu yg d bahas Rumah adat dr berbagai daerah. Ada Joglo. Rumah Gadang . Rumah Tongkonan dan pasti masih banyak lagi krn negara kita Indonesia dr berbagai macam suku dan pulau. Yahhh apa mau seperti mapelnya tinggal SEJARAH. Hilang lagi cerita 1 budaya kebanggaan kita Indonesia

    Balas14 Desember 2025 7:50 am
  • Sri ayuwanti

    Apa tidak ada tim cagar budaya di daerah tsb? Sayang sekali kalau rumah adat tongkonan yg menjadi penanda khas wilayah adat Toraja dan dikenal secara nasional dan internasional..habis..hilang..karena tidak dipelihara atau bahkan dirobohkan. Pemerintah daerah dan masyarakat adat atau budayawan Toraja apakah tidak merasa kehilangan ?

    Balas14 Desember 2025 5:50 am
  • Louise Evangeline

    Jujur sy dari Jawa lihatx sangat terpukul dan menangis…kok bisa sperti tidak ada hargax, padahal nilaix sangat tidak bisa dinilai dg apapun , mengapa skrg peradaban kok malah dihancurkan begitu…. Kemana negara, pemerintah, wakil rakyat ????? Mau dibawa kemana bangsa kita? Generasi muda akhirx tidak lagi bisa mnghargai peradaban bangsa sendiri bila melihat seperti ini….

    Balas13 Desember 2025 10:54 pm
  • Ety

    Sy yg suku jawa saja sangat2 terpukul dengan berita2 itu, negara kemana, presiden kemana…kok dibiarin alasan apapun, sejarah dan budaya itu identitas bangsa. Apalagi dari dulu sangat sangat kagum dengan budaya2 daerah. Sangat2 mengesalkan tapi rakyat bisa ngomong kemana? Harus diusut dan ditindak tegas siapa yang memerintahkan penghancuran….presiden kemana sih….apa krn bukan jakarta bukan jawa gak penting?

    Balas13 Desember 2025 5:14 pm
  • windy

    sy heran kenapa br sekarang ada eksekusi rumah tongkonanan yg sdh berdiri sejak puluhan tahun bahaan ratusan tahun.perlu dipertanyakan jgn sampai ada oknum yg menyusup ke tanah lelulur kita yg mau memusnakan budaya toraja..tolong wakil Rakyat diperjuangkan jgn smpi tongkonan dimana sblm dirikan pasti semua rumpun keluarga musyawakan ato ada kesepakatan.knp pd saat sdh ditinggali berpuluh2 tahun bahan smpi sdh 7 turunan tiba2 digusur dengan cara yg sgt miris membuat hati menangis..

    Balas13 Desember 2025 11:37 am
  • inri

    sy heran kenapa br sekarang ada eksekusi rumah tongkonanan yg sdh berdiri sejak puluhan tahun bahaan ratusan tahun.perlu dipertanyakan jgn sampai ada oknum yg menyusup ke tanah lelulur kita yg mau memusnakan budaya toraja..tolong wakil Rakyat diperjuangkan jgn smpi tongkonan dimana sblm dirikan pasti semua rumpun keluarga musyawakan ato ada kesepakatan.knp pd saat sdh ditinggali berpuluh2 tahun bahan smpi sdh 7 turunan tiba2 digusur dengan cara yg sgt miris membuat hati menangis..

    Balas13 Desember 2025 11:36 am
  • Maimun Katjasungkana

    Hukum itu melindungi, mencegah dan memaksa tapi tidak dengan merusak.
    Pelaksanaan eksekusi dengan merusak bangunan adat yang bersejarah sangat tidak bisa ditolerir. Tidak menggunakan akal sehat, eksekusi dengan alat berat dilakukan bila melanggar IMB atau sekarang PUBG. Kalau konflik kepemilikan seharusnya tidak perlu merusak bangunan, walau atas ijin pemenang perkara. Karena masih terbuka adanya peninjauan kembali atau ada peradilan sesat, yang harus dianalisis dan disertai bukti baru (novum). Kalau tidak ada lagi/tertutup untuk upaya PK, maka cukup mengeluarkan orang dan barang-barang milik penghuni obyek sengketa itu.

    Balas13 Desember 2025 9:33 am
  • dony

    ini bukan di lakukan secara martabat atau tanpa alat berat
    ini masalah haritage yang mana saat eksekusi bisa di selamatkan atau ada relokasi di tempat yg netral,jadi eksekusi bisa di lakukan dengan alat berat dan bahkan dengan alat yg modern u/menyelamat kan warisan budaya

    Balas12 Desember 2025 4:54 pm
  • Pither Magi Sambara

    Tlg jangan rumah adat di eksekusi

    Balas12 Desember 2025 4:38 pm
  • Soni

    Bagaimana logikanya?
    Bangunan adat sudah lama berdiri sebelum hukum modern ada, mana bisa dibilangķ salah bangun menurut hukum modern ..?
    Mana bisa pula anak turun adat menolak keberadaan bangunan adat yang sudah lebih dulu ada.. kecualu adatnya berubah..

    Balas12 Desember 2025 3:52 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kado HUT Ke-80 RI, 628 Tenaga PPPK Tana Toraja Terima SK Pengangkatan

    Kado HUT Ke-80 RI, 628 Tenaga PPPK Tana Toraja Terima SK Pengangkatan

    • calendar_month Minggu, 17 Agt 2025
    • account_circle Arsyad Parende
    • 0Komentar

    Bupati dan Wakil Bupati Tana Toraja memberikan ucapan selamat kepada 628 PPPK Tahap 1 yang menerima SK Pengangkatan. (Foto/AP-Karebatoraja)   KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE —  Sebanyak 628 Tenaga Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap 1 Formasi tahun 2024 resmi menerima Surat Keputusan (SK) Pengangkatan, Minggu 17 Agustus 2025. Penyerahan SK kepada 628 PPPK diserahkan diselah-selah Upacara […]

  • Teater Keliling Sukses Pentaskan “Musikal Calon Arang” di Toraja dan 4 Kota Lainnya di Indonesia

    Teater Keliling Sukses Pentaskan “Musikal Calon Arang” di Toraja dan 4 Kota Lainnya di Indonesia

    • calendar_month Selasa, 26 Sep 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, KESU’ — Teater Keliling dari Jakarta sukses mementaskan drama musical berjudul “Calon Arang” di objek wisata Buntu Pune, Toraja Utara, Minggu, 24 September 2023. Berkolaborasi dengan beberapa seniman lokal Toraja, lakon Calon Arang yang berlatar cerita rakyat Bali ini mampu memuasakan ratusan penonton yang memadati panggung teater terbuka Buntu Pune. Buntu Pune, Toraja Utara […]

  • Bupati atau DPR RI; Itu Pilihan Politik JRM di 2024

    Bupati atau DPR RI; Itu Pilihan Politik JRM di 2024

    • calendar_month Sabtu, 24 Des 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Politisi Partai Golkar, yang juga Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, John Rende Mangontan menyatakan dirinya kemungkinan besar tidak lagi mencalonkan diri menjadi anggota DPRD. Namun di sisa masa jabatannya yang masih dua tahun lagi, JRM, sapaan akrabnya berjanji menyelesaikan janji-janji politiknya kepada konstituen, terutama di bidang infrastruktur. “Kalau untuk […]

  • Sepeda Motornya Terjatuh ke Jurang, Penyuluh Pertanian Asal Rindingallo Meninggal Dunia

    Sepeda Motornya Terjatuh ke Jurang, Penyuluh Pertanian Asal Rindingallo Meninggal Dunia

    • calendar_month Kamis, 7 Jan 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RINDINGALLO — Kecelakaan tunggal yang menyebabkan korban jiwa terjadi di Jalan Poros Dusun Tanite To’ Ao’, Lembang Buntu Batu, Kecamatan Rindingallo, Toraja Utara, Rabu, 6 Januari 2021. Seorang penyuluh pertanian, Zeth Ruka, 51 tahun, meninggal dunia setelah sepeda motor yang dikendarainya terjun ke jurang sedalam kurang lebih 7 meter. Selama ini Almarhum merupakan Koordinator […]

  • 167 Peserta Pendidikan dan Pelatihan Dasar CPNS di Toraja Utara Dinyatakan Lulus

    167 Peserta Pendidikan dan Pelatihan Dasar CPNS di Toraja Utara Dinyatakan Lulus

    • calendar_month Kamis, 30 Sep 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang menutup kegiatan Pelatihan Dasar (Latsar) bagi CPNS Umum Golongan II dan Golongan III yang berlangsung dari 7 Juni sampai 28 September 2021 di Hotel Toraja Prince, Rabu, 29 September 2021. Kegiatan Pelatihan Dasar CPNS ini merupakan kerjasama Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Toraja Utara dengan Badan […]

  • Pencarian Dihentikan, Kodim 1414 Tana Toraja dan Keluarga Serda Amir Tabur Bunga di Sungai Maiting

    Pencarian Dihentikan, Kodim 1414 Tana Toraja dan Keluarga Serda Amir Tabur Bunga di Sungai Maiting

    • calendar_month Kamis, 24 Nov 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RINDINGALLO — Pencarian terhadap anggota TNI dari Kodim 1414 Tana Toraja bernama SERDA TNI Amiruddin, yang diduga tenggelam dan terseret arus Sungai Maiting di Pangala’, Rindingallo, Toraja Utara, dihentikan sejak Kamis, 24 November 2022. Pencarian dihentikan karena sudah seminggu pencarian oleh Tim SAR Gabungan lalu dilanjutkan dengan seminggu pencarian oleh internal TNI, korban tenggelam […]

expand_less