Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekobis » Toraja Membutuhkan Banyak Entrepreneur Muda

Toraja Membutuhkan Banyak Entrepreneur Muda

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 3 Okt 2022
  • comment 0 komentar
Oleh Marcellus Rantetana[1]

Entrepreneur didefinisikan sebagai orang yang keatif dan inovatif, yang terus-menerus menggali ide-ide baru untuk menciptakan sesuatu yang baru. Kreativitas seorang entrepreneur bermuara pada pembentukan perusahaan yang menghasilkan produk baru, ddan pada akhirnya memberikan keuntungan ekonomis yang besar. Entrepreneur biasanya dibedakan dengan pengusaha yaitu orang-orang yang memproduksi produk dengan menggunakan cara-cara yang sudah ada. Walaupun dalam rangka memperkuat daya saing, pengusaha juga mencari cara-cara baru untuk berproduksi. Oleh karena itu seorang entrepreneur sudah pasti adalah seorang pengusaha, akan tetapi seorang pengusaha tidak selalu merupakan seorang entrepreneur.

Seorang entrepreneur bersikap kritis terhadap situasi yang dihadapi dan secara kratif mencari cara menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan cara berfikir “out of the box” atau yang belum pernah digunakan sebelumnya. Dengan pola pikir demikian seorang entrepreneur selalu bersikap terbuka, namun tetap fokus pada sesuatu yang sedang dikerjakan dengan sikap optimisme akan meraih keberhasilan. Sikap optimis tersebut memacu seorang entrepreneur untuk tidak mudah menyerah dan terus berusaha sampai yang dicita-citakan terwujud, walaupun  menghadapi tidak sedikit tantangan dan resiko keagalan. Resiko tidak dihindari, tetapi justru dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi, karena itu mereka biasanya disebut risk lover (pencinta resiko).

Kehadiran teknologi digital dengan internet yang menghubungkan praktis semua titik di permukaan bumi, membuka peluang yang tidak terbatas bagi mereka yang berfikir keatif. Hal ini telah mendorong munculnya entrepreneur-entrepreneur  muda di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia, yang mengelola aset milyaran dollar. Merekalah yang berada dibelakang munculnya media sosial seperti seperti Facebook, WhatsApp, Tweet, dan beberapa lainnya yang saat ini praktis menguasai dunia.

Menggerakkan Ekonomi

Produk-produk baru yang diciptakan entrepreneur memperbesar nilai ekonomi melalui penciptaan nilai tambah, dan karena itu mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah di mana mereka berada. Besaran nilai ekonomi dari suatu wilayah (kabupaten/kota, provinsi, negara) yang disebut  Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nilai total (rupiah) dari semua barang dan jasa yang dihasilkan/diproduksi dalam wilayah tersebut pada suatu perode tertentu (biasanya satu tahun).  Dengan demikian semakin banyak produk baru yang diproduksi akan semakin besar nilai (volume) ekonomi suatu wilayah.

Ada dua cara menghitung volume ekonomi atau besaran PDB suatu wilayah, yaitu pertama, menghitung nilai total dari produk akhir (produk yang siap dikonsumsi) yang dihasilkan, dan kedua, menghitung total nilai tambah yang tercipta dalam proses menciptakan produk akhir. Kedua cara ini menghasilkan nilai yang sama. Berikut  diberikan illustrasi yang sangat sederhana bagaimana menggunakan kedua cara ini. Misalkan suatu wilayah hanya menghasilkan satu jenis produk akhir yaitu kopi siap konsumsi (kopi bubuk) sebanyak 1,5 kg dengan nilai Rp100.000, maka dengan menggunakan cara pertama, PDB dari wilayah tersebut adalah Rp100.000.

Apabila menggunakan cara kedua yaitu menghitung total nilai tambah, maka yang dihitung adalah total nilai tambah yang tercipta dalam proses menciptakan produk siap konsumsi yang biasa juga disebut barang jadi. Dalam tabel di bawah diberikan tahapan produksi yang dilalui untuk menghasilkan kopi siap dikonsumsi, yaitu 1) panen kopi yang menghasilkan biji kopi segar, 2) pengupasan yang menghasilkan biji kopi berwarna hijau (green bean), 3) sangrai yang menghasilkan biji kopi berwarna gelap, 4) penggilingan yang menghasilkan kopi bubuk siap dikonsumsi. Adapun nilai tambah yang tercipta pada setiap tahapan dan total nilai tambah yang tercipta ditunjukkan dalam tabel di bawah.

 

 

 

No.

Proses 1: Panen Proses 2: Pengupasan Proses 3: Sangrai Proses 4: Penggilingan
Produk Nilai (Rp) Produk Nilai (Rp) Produk Nilai (Rp) Produk Nilai (Rp)
  2kg  biji kopi segar 20.000 1,75 kg  biji kopi hijau 30.000 1,5 kg kopi biji sudah disangrai 50.000 1,5 kg kopi bubuk 100.000
Nilai tambah 20.000   10.000   20.000   50.000
Total nilai tambah yang tercipta = 20.000 + 10.000 + 20.000 + 50.000 = 100.000

 

Seperti terlihat dalam tabel di atas, pada proses 1, nilai tambah yang tercipta sebesar Rp20.000 yaitu nilai dari 2 kg biji kopi segar hasil panen. Proses 2 menciptakan nilai tambah sebesar Rp10.000, karena hasil proses 2 yaitu 1,75 kg kopi hijau bernilai Rp30.000. Proses 3 sangrai, menghasilkan 1,5 kg kopi yang siap digiling dengan nilai Rp50.000, berarti terjadi penambahan nilai sebesar Rp20.000 dibandingkan dengan nilai kopi hijau hasil proses 2, dan proses 4 menciptakan nilai tambah sebesar Rp50.000 karena 1,5 kg kopi bubuk bernilai Rp100.000. Total nilai tambah yang tercipta adalah Rp100.000, yang sama dengan nilai produk akhir.

Semakin banyak tahapan proses pengolahan lanjutan suatu produk primer menuju produk siap konsumsi,  semakin besar nilai tambah yang tercipta, yang menciptakan lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu apabila produk-produk yang dihasilkan suatu daerah tidak diolah lebih lanjut, maka yang menikmati nilai tambah yang tercipta pada proses pengolahan lanjutan adalah masyarakat di mana proses pengolahan tersebut dilakukan.

Pada saat ini kelihatannya sangat sedikit pengolahan lanjutan yang dilakukan di Toraja (Tana Toraja dan Toraja Utara). Hasil produksi seperti kopi, sebagian besar dibawa ke luar dalam bentuk produk primer. Dengan demikian nilai tambah yang tercipta, dinikmati masyarakat di mana kegiatan pengolahan lanjutan dilakukan. Akan tetapi untuk Toraja saat ini, selain kopi kelihatannya tidak ada produk lain yang dapat diolah, karena produk-produk yang pada tahun 1960an dipasarkan ke luar Toraja seperti sayuran, buah-buahan, ikan air tawar, ternak, dan beberapa lainnya, sekarang ini hampir semuanya didatangkan dari luar ke Toraja. Kegiatan pengolahan baru akan tumbuh apabila terjadi surplus produksi yang biasa disebut marketable surplus, yang artinya jumlah yang dihasilkan lebih besar dari kebutuhan untuk konsumsi lokal. Hampir dapat dipastikan, kondisi inilah yang merupakan penyebab utama jumlah penduduk miskin di kedua kabupaten Toraja berada jauh di atas tingkat kemiskinan rata-rata provinsi SULSEL. Menurut data BPS Sulawesi Selatan, pada tahun 2021 persentase penduduk miskin di Tana Toraja sebesar 12,27%  dan di Toraja Utara 13,59% sedangkan persentase rata-rata penduduk miskin di Sulawesi Selatan sebesar 8,78%. Bila dibandingkan dengan persentase kemiskinan kabupaten lain di Sulawesi Selatan, Tana Toraja menduduki peringkat kelima dan Toraja Utara ketiga tertinggi.

Seperti sudah dijelaskan di atas, kehadiran wirusahawan/pengusaha menggerakkan dan mendorong peningkatan kesejahteraaan masyarakat. Secara umum diyakini bahwa dibutuhkan jumlah pengusaha sebanyak 2% dari jumlah penduduk untuk dapat menggerakkan ekonomi di suatu wilayah secara efektif. Buku Tana Toraja Dalam Angka Tahun 2020 yang diterbitkan BPS Kabupaten Tana Toraja mencatat jumlah perusahaan yang berbadan hukum di Tana Toraja sebanyak 530 unit. Dengan mengasumsikan bahwa semua perusahaan tersebut menciptakan nilai tambah, maka jumlah wirausahawan di Tana Toraja hanya sebesar 0,02% dari jumlah penduduk sebesar 285.867 jiwa. Dengan demikian Tana Toraja masih membutuhkan minimum 5.145 wirausahawan baru untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Tana Toraja secara efektif. Dan bila diasumsikan persentase yang sama untuk Toraja Utara, dengan jumlah penduduk sebesar 261.086 orang, dibutuhkan tambahan pengusaha minimum 4.700. Bersama-sama, kedua kabupaten masih membutuhkan minimum 10.000 pengusaha baru untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Pada tataran nasional, saat ini diperkirakan jumlah pengusaha sudah mencapai 3,1% dari jumlah penduduk, walaupun demikian, rasio tersebut masih jauh di bawah Singapura sebesar 7% dan Malaysia sebesar 5%.

Memupuk Jiwa Entrepreneur

Bagaimana memunculkan entrepreneur atau wirausahawan baru? Adakah yang dapat dilakukan baik pemerintah maupun masyarakat agar suatu saat akan hadir pengusaha-pengusaha baru dalam jumlah yang memadai untuk mendorong pertumbuhan ekonomi? Sebuah studi yang dilakukan Theodor Lucian Vladasel dari Copenhagen Business School sebagai Yale Fox International Fellow 2017-2018 di Universitas Yale, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan masyarakat berpengaruh terhadap munculnya entrepreneur, tetapi bukan satu-satunya sumber. Seseorang yang lahir dan besar dalam lingkungan wirausaha mempunyai peluang yang lebih besar menjadi seorang entrepreneur dibandingkan dengan mereka yang tidak. Hal ini yang kelihatannya diyakini warga Toraja pada umumnya sehingga ada semacam pendapat umum bahwa orang Toraja tidak mempunyai bakat berwirausaha. Pola pikir seperti ini sesungguhnya sangat keliru, karena apabila orang-orang Toraja selama ini bisa mengukir prestasi di berbagai bidang, mengapa di dunia usaha tidak. Karena istilahnya, tidak membutuhkan “rocket science” dengan otak sekelas Albert Einstain atau Wemher von Braun untuk membangun usaha yang berhasil. Selain itu dalam konteks kehidupan moderen, hanya pengusaha bila menunjukkan gaya hidup super mewah  yang tidak menimbulkan pertanyaan, karena hakekat (by definition) kegiatan usaha adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya. Orang-orang muda di kota-kota besar sekarang ini termasuk orang-orang muda Toraja, lebih memilih berkarir di dunia usaha dan tidak sedikit yang sudah berhasil. Beberapa Unicorn Indonesia yaitu perusahaan rintisan dengan nilai kapitalisasi lebih dari 1 milyar dollar AS setara Rp14 triliun diotaki orang-orang muda, bahkan sudah ada yang meningkat menjadi Dekacorn dengan nilai kapitalisasi di atas 10 milyar dollar AS.

Di dalam setiap masyarakat termasuk masyarakat Toraja, selalu saja ada orang yang berbakat wirausaha secara alami, yang apabila dibina, didampingi, dan dibukakan jalan akan menjadi entrepreneur yang berhasil, yang pada akhirnya akan menguntungkan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu perlu ada upaya untuk mencari dan menemukan orang-orang seperti ini, dan selanjutnya memfasilitasi mereka untuk mengembangkan bakat alami mereka. Semakin banyak bakat seperti ini khususnya di kalangan orang muda Toraja ditemukan dan difasilitasi, semakin besar peluang akan semakin banyak wirausahawan baru muncul pada waktu yang akan datang. Para penentu kebijakan mempunyai peran sentral dalam hal ini, termasuk memperluas ketersediaan kesempatan dan menghilangkan hambatan yang merintangi mereka mengembangkan ide-ide bisnis. Kehadiran wirausahawan yang berhasil sebagai “raw model” (idola) akan menjadi penyemangat bagi mereka yang berminat menempuh karir di bidang bisnis. Pengenalan kewirausahaan secara non formal maupun formal di sekolah-sekolah akan mendorong munculnya ketertarikan orang-orang muda termasuk anak-anak pada dunia usaha. Cara lain yang dapat dilakukan adalah pelatihan kewirausahaan dengan berfokus pada penguatan keterampilan (skill) yang diperlukan seorang wirausahawan agar dapat menjalankan wirausaha yang berhasil, seperti kepemimpinan, manajerial, berjaringan, dan lain-lain. Program inkubator bisnis merupakan salah satu pola pembinaan yang efektip bagi para calon wirausahawan.

Inkubator Bisnis

Inkubator Bisnis adalah suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk membantu wirausahawan pemula mengatasi berbagai rintangan dalam mengembangkan usaha, seperti kekurangan modal dan tenaga terampil, keterbatasan jaringan, ketiadaan tempat usaha, dan sebagainya. Inkubator Bisnis menyediakan tempat bagi pesertanya untuk menjalankan usaha rintisannya dengan fasilitas pendukung seperti jaringan internet, tenaga-tenaga terampil di berbagai bidang, pelatihan, pendampingan, modal, dan sejumlah fasilitas pendukung lainnya. Dengan demikian biaya operasional perusahaan dapat ditekan dan perhatian sepenuhnya dapat dipusatkan pada pengembangan bisnis.

Secara umum dukungan yang dapat diberikan Inkubator Bisnis antara lain:

  • Bantuan untuk kegiatan dasar
  • Kegiatan berjaringan
  • Bantuan pemasaran
  • Jaringan internet
  • Bantuan pembukuan/manajemen keuangan
  • Akses kredit perbankan
  • Keterampilan promosi
  • Akses ke mitra strategis
  • Akses ke investor atau modal ventura
  • Pelatihan manajemen bisnis yang kompehensip
  • Pendampigan/Mentor bisnis
  • Pemahaman dan ketaatan kepada berbagai peraturan/regulasi bisnis
  • Etika bisnis
  • Pemahaman tentang hak atas kekayaan intelektual (property rights).

Setelah dua tahun minimal mengikuti pembinaan di Inkubator, peserta diharapkan sudah dapat meninggalkan Inkubator karena sudah mempunyai kemampuan menjalankan usahanya secara mandiri. Pada saat ini sudah ada beberapa Inkubator Bisnis di Indonesia yang telah mencetak wirausahawan baru, antara lain Indigo yang didirikan PT Telkom di Bandung, Mandiri Inkubator Bisnis oleh PT Bank Mandiri, dan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan oleh ITB Bandung, yang dapat dijadikan referensi.

Mudah-udahan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan muncul wirausahawan baru di Toraja yang akan bergerak di berbagai bidang, termasuk produksi berbagai komoditas pertanian yang berskala ekonomi. Karena seperti sudah disebutkan di atas, hanya dengan ketersediaan produk dalam skala ekonomi dan berkesinambungan, kegiatan pengolahan lanjutan akan muncul dan selanjutnya akan menghadirkan kesejahteraan. Semoga!

[1] Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Unversitas Atma Jaya Makassar.
Deputi Utusan Khusus Presiden untuk Penanggulangan Kemiskinan 2011-2014.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Relawan SIGAP Tana Toraja Siap Menangkan Ganjar Pranowo Jadi Presiden RI

    Relawan SIGAP Tana Toraja Siap Menangkan Ganjar Pranowo Jadi Presiden RI

    • calendar_month Ming, 15 Okt 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Jika sebelumnya ada nama Relawan Ganjar Pranowo Menuju Indonesia Satu (Ganjar1st), kini di Tana Toraja terbentuk lagi satu komunitas Relawan Ganjar Pranowo bernama Solidaritas Ganjar Pranowo (SIGAP). Deklarasi Relawan SIGAP digelar serentak di 24 Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan yang diikuti kurang lebih 5000 relawan, Minggu, 15 Oktober 2023. Deklarasi dipusatkan di Jalan Jendral […]

  • Promosikan Objek Wisata, Pemerintah Lembang Buntudatu Susun RKP di Hutan Pinus

    Promosikan Objek Wisata, Pemerintah Lembang Buntudatu Susun RKP di Hutan Pinus

    • calendar_month Rab, 27 Okt 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MENGKENDEK — Ciptakan suasana baru sambil memperkenalkan atau mempromosikan objek wisata baru, menjadi alasan pemerintah Lembang Buntudatu, Kecamatan Mengkendek menggelar rapat penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) di hutan pinus Buntubatu. Rapat penyusunan RKP Lembang Buntudatu digelar, Rabu, 27 Oktober 2021 di Objek Wisata Hutan Pinus Buntubatu yang terletak di jalan poros Buntudatu-Uluway, Kecamatan Mengkendek, […]

  • 2 Pelaku Asusila di Situs Budaya Kandora Dikenai Sanksi Adat dan Wajib Menjalani Ritual “Mengkanorong”

    2 Pelaku Asusila di Situs Budaya Kandora Dikenai Sanksi Adat dan Wajib Menjalani Ritual “Mengkanorong”

    • calendar_month Kam, 20 Jan 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MENGKENDEK — Pemerintah Kecamatan Mengkendek, Pemerintah Lembang Palipu’, dan Pemangku adat Mengkendek duduk bersama membahas sanksi adat kepada pelaku asusila di kawasan objek wisata situs budaya Kandora, beberapa waktu lalu, yang videonya viral di media sosial. Pertemuan dalam bentuk Kombongan adat digelar di Tongkonan Biang Lembang Palipu’, Kamis, 20 Januari 2022. Dari hasil Kombongan […]

  • Resmi Dilantik, Ketua PMKRI Toraja: Dunia Pendidikan Kita Mengalami Shock Berat

    Resmi Dilantik, Ketua PMKRI Toraja: Dunia Pendidikan Kita Mengalami Shock Berat

    • calendar_month Sab, 30 Jan 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Suprianto Randa Bunga’ resmi dilantik sebagai Ketua Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Toraja Sanctus Paulus, periode 2020/2021, Jumat, 29 Januari 2021. Suprianto Randa Bunga’ langsung dilantik oleh Ketua Pengurus Pusat PMKRI, Benediktus Papa di Ruang Pola Kantor Bupati Tana Toraja. Benidiktus Papa adalah Ketua PP […]

  • Tim Verifikasi Kalpataru Disambut Ratusan Spanduk Dukungan Terhadap Pdt Rasely Sinampe

    Tim Verifikasi Kalpataru Disambut Ratusan Spanduk Dukungan Terhadap Pdt Rasely Sinampe

    • calendar_month Kam, 12 Mei 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Ratusan spanduk dan baliho dukungan terhadap Pendeta Rasely Sinampe untuk mendapat penghargaan Kalpataru tahun 2022 berdiri berjejer di sepanjang jalan masuk ke kebun percontohan milik Yayasan Tallu Lolona di Batuleleng, Kecamatan Rantepao, Toraja Utara, Kamis, 12 Mei 2022. Ratusan spanduk ini seolah menyambut Tim Verifikasi dan Validasi Kalpataru 2022 dari Kementerian Lingkungan […]

  • Warga Lembang Poton Bonggakaradeng Dilaporkan Hilang, Diduga Tenggelam di Sungai Masuppu’

    Warga Lembang Poton Bonggakaradeng Dilaporkan Hilang, Diduga Tenggelam di Sungai Masuppu’

    • calendar_month Sen, 12 Mei 2025
    • account_circle Arsyad Parende
    • 0Komentar

    Warga Melakukan Mencarian terhadap Adyanto Paponi, Warga Lembang Poton Bonggakaradeng yang dilaporkan hilang diduga tenggelam di Sungai Masuppu’. (Foto Facebook: Kepala Lembang Bau)   KAREBA-TORAJA.COM, BONGGAKARADENG — Seorang warga dusun Mariri, Lembang Poton Kecamatan Bonggakaradeng bernama Adyanto Paponi dikabarkan hilang, Sabtu 10 Mei 2025. Korban diketahui mahasiswa semester akhir IAKN Toraja. Berdasarkan Surat Laporan dan […]

expand_less