Sekda Toraja Utara Apresiasi Kolaborasi Masata dan Masyarakat Adat Buntu Pune dalam Event THF 2026
- account_circle Monika Rante Allo
- calendar_month 4 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sekda Toraja Utara, Salvius Pasang dan Ketua Masata Toraja Utara, Damayanti Batti memberikan sambutan pada acara Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di objek wisata Buntu Pune, Kecamatan Kesu', Toraja Utara. (MRA/Kareba Toraja).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAREBA-TORAJA.COM, KESU’ — Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Toraja Utara, Salvius Pasang memberikan apresiasi dan terima kasihnya atas kolaborasi Masyarakat Sadar Wisata (Masata) dengan masyarakat adat Buntu Pune dalam menyukseskan event Toraja Highland Festival (THF) tahun 2026, yang puncaknya terlaksana pada Jumat, 6 November 2026.
“Kita berharap ke depan, semua event-event budaya berkolaborasi dengan pemerintah dan dan seluruh tokoh-tokoh masyarakat. Sehingga apa yang kita harapkan dalam rangka menumbuhkan pariwisata di Toraja Utara bisa semakin cepat kita rasakan. Contoh kolaborasi itu bisa kita lihat hari ini,” ungkap Salvius Pasang, saat memberikan sambutan mewakili Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong.
Untuk diketahui, Toraja Highland Festival (THF) merupakan event promosi wisata yang digagas oleh Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Kabupaten Toraja Utara. Ketua Masata adalah Damayanti Batti, yang juga istri Bupati dan Ketua TP PKK Kabupaten Toraja Utara. Toraja Highland Festival tahun ini berupaya menghadirkan tradisi “Merok” sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Toraja. Pada event itu, masyarakat adat Buntu Pune melaksanakan Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri.
Menurut Salvius, Toraja sudah dikenal dengan budayanya. Hanya saja selama ini yang selalu menjadi perhatian selalu pariwisata. “Padahal, harusnya kita berangkat dari mengembangkan budaya yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan wisata,” katanya.
Salvius juga menyatakan, setiap jengkal tanah di Toraja Utara mestinya bisa menjadi atraksi atau objek wisata. Aktivitas masyarakat, agama, budaya, adat, mestinya bisa dikemas menjadi atraksi wisata. Sehingga apapun yang dilakukan di Toraja Utara bisa mengundang tamu-tamu datang. “Itulah pentingnya kolaborasi seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Masata Toraja Utara, Damayanti Batti mengatakan THF ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, seni, kreativitas, dan pariwisata untuk memperkenalkan kekayaan budaya Toraja kepada masyarakat luas sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya lokal.
Menurut Damayanti, THF mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Toraja. Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntu Pune merupakan kesempatan untuk merenungkan kembali kedudukan Tongkonan dalam kehidupan masyarakat Toraja.
“Tongkonan bukan hanya bangunan fisik tapi merupakan pusat ingatan genealogis, identitas rumpun keluarga, dan pelaksanaan berbagai tanggung jawab adat. Di dalamnya, sejarah keluarga diwariskan, hubungan antar generasi dipelihara, dan nilai-nilai kehidupan diteruskan. Warisan leluhur tidak cukup dipelihara sebagai peninggalan masa lalu,” terang Damayanti.
Damayanti menyebut, Toraja Highland Festival tidak hanya menjadi ajang perayaan seni dan budaya, tetapi juga ruang kolaborasi bagi masyarakat adat, seniman, komunitas, generasi muda, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan unsur tradisi, hiburan, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat.
Agenda utama meliputi Upacara Merok, Lomba Foto, Pameran Foto dan Lukisan, Bazaar UMKM, Apresiasi Lettoan, Fun Bike, serta Hiburan dan Pertunjukan Seni.
Menurut Damayanti, salah satu semangat yang diusung dalam penyelenggaraan Toraja Highland Festival 2026 adalah pentingnya menjaga kesinambungan tradisi di tengah perkembangan zaman.
“Pelestarian budaya bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga memastikan nilai, pengetahuan, dan makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (*)
- Penulis: Monika Rante Allo
- Editor: Arsyad Parende





Saat ini belum ada komentar