Kondisi Ibu yang Dib*cok Anaknya di Makale Semakin Membaik
- account_circle Monika Rante Allo
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

MEMBAIK: Kondisi kesehatan AT (36), seorang ibu yang dib*cok anak kandungnya sendiri menggunakan sebilah parang, semakin membaik setelah dirawat 3 hari di RS Fatimah Makale. (MRA/Kareba Toraja).
KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Kondisi kesehatan AT (36), seorang ibu yang dib*cok anak kandungnya sendiri menggunakan sebilah parang, semakin membaik.
“Sudah makin membaik Kak (wartawan). Sudah bisami pulang hari ini,” ungkap Wilson, anak pertama korban, Kamis, 5 Maret 2026.
Meski begitu, terpantau pada kedua tangan serta jari-jari korban masih terbungkus perban. Begitupula di bagian betisnya. Namun korban sudah bisa duduk dan bercerita dengan keluarga yang datang membesuk.
Sementara, IAK (18), anak korban, yang merupakan pelaku pembacokan masih ditahan polisi di Mapolres Tana Toraja guna proses hukum lebih lanjut.
IAK bahkan terancam hukuman 10 tahun penjar, karena penyidik Polres Tana Toraja menerapkan pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ayat 2 pasal 44 di UU tersebut hukuman maksimalnya 10 tahun penjara dengan denda Rp 30 juta.
Pasal 44 ayat (2) UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) mengatur bahwa jika kekerasan fisik dalam rumah tangga mengakibatkan korban jatuh sakit atau luka berat, pelaku dipidana penjara maksimal 10 tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).
Diberitakan sebelumnya, seorang pemuda berinisial IAK (18) nekat menebas ibu kandungnya, AT (36) menggunakan sebilah parang di Kasimpo, Kelurahan Kamali Pentalluan, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, Selasa, 2 Maret 2026.
Akibat pembacokan itu, korban menderita beberapa luka serius pada kedua tangan, kaki, paha, dan luka gigitan pada lengan kanan dan punggung.
Warga yang mendengar ada keributan segera menelepon polisi dan mengevakuasi korban ke rumah sakit Fatimah Makale untuk menjalani pertolongan medis.
Penyebab aksi brutal tersebut adalah pelaku mengaku sakit hati karena selalu dipukuli dan tidak tersedia makanan saat hendak makan. (*)
- Penulis: Monika Rante Allo
- Editor: Arthur

Saat ini belum ada komentar