BMKG Toraja Gelar Forum Konsultasi Publik, Wujudkan Pelayanan Informasi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang Berkualitas
- account_circle CR2/IPY
- calendar_month 2 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Suasana Forum Konsultasi Publik Peningkatan Layanan BMKG Toraja. (Foto: CR2/IPY)
KAREBA-TORAJA.COM, MENGKENDEK – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Toraja menggelar Forum Konsultasi Publik (FKP) Tahun 2026 di Ruang Rapat Kantor BMKG Toraja, Jalan Bandara Toraja Kecamatan Mengkendek, Kamis 05 November 2026.
Kegiatan mengangkat tema Sinergi Stakeholder dalam Mewujudkan Pelayanan Informasi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang Berkualitas, Responsif, dan Berorientasi pada Kebutuhan Pengguna Layanan.
Forum tersebut dihadiri sejumlah perwakilan instansi dan lembaga terkait, di antaranya BPBD Tana Toraja dan Toraja Utara, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kominfo, PLN, pengelola bandara, Basarnas, hingga perwakilan masyarakat dan media.
Dalam forum konsultasi publik tersebut, Saefudin Cipto Adi Raharjo selaku Kapoksi Observer dan Forecaster Stasiun Meteorologi Toraja memaparkan profil serta jenis layanan Stasiun Meteorologi Toraja.
Tujuannya untuk memberikan pemahaman kepada para pemangku kepentingan mengenai layanan informasi meteorologi apa saja yang tersedia di BMKG Toraja.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Toraja, Amernurfitra Andi Rusdin, mengatakan Forum Konsultasi Publik tersebut dilaksanakan sebagai tindak lanjut arahan pimpinan BMKG kepada seluruh unit pelaksana teknis (UPT) di Indonesia.
“Forum ini menjadi wadah untuk memperoleh masukan dari para pengguna jasa terkait pelayanan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika yang selama ini diberikan BMKG” tutur Amer
Karena itu, masukan dari para pemangku kepentingan akan dihimpun dan disampaikan kepada pimpinan untuk ditindaklanjuti sebagai bahan evaluasi dan peningkatan kualitas pelayanan.
Amer berharap melalui forum tersebut, pelayanan informasi BMKG Toraja semakin berkualitas, responsif, dan sesuai dengan kebutuhan para pengguna layanan.
Selain memaparkan jenis pelayanan, BMKG juga menjelaskan kondisi iklim dan pengaruh fenomena El Nino terhadap pola musim di Indonesia.
Secara umum, Indonesia memiliki dua musim utama, yakni musim hujan dan musim kemarau.
Namun, fenomena El Nino dapat memengaruhi pola curah hujan sehingga awal musim hujan berpotensi mengalami kemunduran.
Amer menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, hujan umumnya mulai turun pada Oktober. Namun, akibat pengaruh El Nino, awal musim hujan dapat bergeser hingga November.
Fenomena ini tidak menghilangkan musim hujan maupun kemarau, tetapi memengaruhi intensitas curah hujan. Saat musim kemarau, kondisi kering berpotensi menjadi lebih kering karena berkurangnya curah hujan.
Dalam forum tersebut, terdapat delapan poin identifikasi masalah dan usulan rekomendasi perbaikan terhadap pelayanan informasi BMKG Toraja diantaranya:
- Peta pada aplikasi SPARTAN, peserta mengusulkan agar peta dilengkapi batas wilayah administrasi hingga tingkat kecamatan, Peta tersebut juga diharapkan dapat ditampilkan melalui website BMKG Toraja agar lebih mudah diakses masyarakat.
- Peningkatan kolaborasi dengan BPBD dan pemerintah daerah melalui penggabungan peta dengan data curah hujan bulanan, informasi kemiringan lahan, serta struktur tanah. Data tersebut dinilai penting untuk mendukung mitigasi dan meminimalkan risiko bencana.
- Pengembangan informasi melalui media sosial, khususnya Instagram BMKG Toraja, agar lebih memperhatikan kebutuhan petani. Informasi yang diusulkan antara lain kelembapan udara dan data curah hujan tahunan serta sosialisasi mengenai satuan pengukuran agar lebih mudah dipahami masyarakat.
- Informasi mengenai potensi kilat dan petir diharapkan lebih terperinci, termasuk daerah yang memiliki potensi kejadian tertinggi sehingga masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan.
- Terkait permintaan data, peserta mengusulkan agar kebutuhan data dengan rentang waktu lebih dari lima tahun dapat dipenuhi serta kejelasan mengenai prosedur dan alur permintaan data BMKG.
- peningkatan keakuratan informasi prakiraan cuaca untuk mendukung laporan operasi pencarian dan pertolongan (SAR), dengan menyampaikan parameter secara lebih terperinci, seperti ketebalan kabut, kelembapan relatif (RH) dan tinggi gelombang.
- Pembaruan informasi cuaca sebelum pesawat mendarat. Peserta mengusulkan agar informasi jarak pandang atau *visibility* diperbarui ketika pesawat mendekati radius 10 kilometer dari bandara.
- pemberian akses data BMKG melalui website agar dapat dimanfaatkan dan berkontribusi dalam kebutuhan informasi lintas sektor. (*)
- Penulis: CR2/IPY
- Editor: Arsyad Parende





Saat ini belum ada komentar