Dari Sarasehan Hilirisasi Kopi Toraja; Perkuat Intensifikasi, Dorong Regenerasi Petani, dan Bangun dari Hulu Hingga Hilir
- account_circle Citizen Reporter: Daniel K.L
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pango-pango Coffee Week; Sarasehan Hilirisasi Kopi Toraja di objek wisata Pango-pango, Kecamatan Makale Selatan, Tana Toraja. (Foto: dok. penulis/KRB).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE SELATAN — Pengembangan kopi Toraja membutuhkan langkah nyata, tidak hanya melalui peningkatan produksi, tetapi juga pembenahan perkebunan, penguatan kapasitas petani, regenerasi pelaku usaha tani, hingga pengembangan produk bernilai tambah. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Sarasehan Hilirisasi Kopi Toraja yang digelar di kawasan objek wisata Pango-Pango, dalam rangkaian Coffee Week yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tana Toraja.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Penyuluh Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan. Sarasehan menjadi ruang dialog strategis yang mempertemukan pemerintah, penyuluh, petani, dan pemangku kepentingan untuk membahas potensi, tantangan, serta arah kebijakan pengembangan kopi Toraja dalam menghadapi peluang pasar yang semakin kompetitif.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Tana Toraja, kemudian secara resmi dibuka oleh Wakil Bupati Tana Toraja, Erianto Laso’ Paundanan.
Sarasehan ini merupakan gagasan dan rancangan Hariadi bersama tim Penyuluh Pertanian yang kemudian diwujudkan melalui kolaborasi dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Toraja.
Diskusi dipandu oleh Hariadi, S.P., M.Hum Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Gandangbatu Sillanan dengan menghadirkan dua narasumber dari instansi teknis pemerintah. Narasumber pertama adalah Erna Zahro’in, S.P., Ketua Kelompok Pelindungan pada Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, yang mewakili Direktorat Jenderal Perkebunan. Narasumber kedua adalah Akmal, S.P. Ketua Kelompok Substansi Penyuluh Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan pada Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini diikuti oleh petani kopi dari sejumlah kecamatan sentra produksi kopi di Kabupaten Tana Toraja, penyuluh pertanian, serta para pengunjung Coffee Week.
Menggali Potensi, Membaca Tantangan Kopi Toraja
Sebagai pengantar diskusi, peserta terlebih dahulu menyaksikan pemutaran video yang mengangkat sejarah kopi di Toraja, potensi pengembangan, kondisi perkebunan kopi saat ini, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangannya.
Video tersebut tidak sekadar menggambarkan perjalanan panjang kopi Toraja, tetapi juga menjadi refleksi mengenai besarnya potensi yang belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Di balik reputasi kopi Toraja yang telah dikenal luas, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar, terutama kondisi tanaman kopi yang kurang terawat, produktivitas yang belum maksimal, keterbatasan regenerasi petani, serta tantangan dalam pengolahan dan pemasaran hasil.
Persoalan tersebut kemudian menjadi titik awal pembahasan dalam sarasehan. Moderator Hariadi menegaskan pentingnya melihat pengembangan kopi Toraja secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir, sehingga potensi yang dimiliki daerah ini dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Dalam pemaparannya, Erna Zahro’in menyampaikan apresiasi atas inisiatif penyelenggaraan sarasehan sebagai wadah komunikasi dan pertukaran pengetahuan dalam pengembangan komoditas kopi Toraja. Ia juga memaparkan berbagai aspek pengembangan varietas kopi, khususnya varietas yang sesuai dengan karakteristik wilayah Toraja. Menurutnya, ketersediaan dan pemilihan bahan tanam bermutu merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan perkebunan kopi.
Sementara itu, Akmal menyoroti pentingnya peran strategis penyuluh pertanian dalam mendampingi petani, mulai dari penerapan teknologi budidaya hingga pengembangan usaha tani kopi. Ia juga menekankan perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik penyuluh maupun petani, melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan teknis yang lebih spesifik mengenai komoditas kopi Toraja.
Dalam babak diskusi, Mastil Palin, S.P yang juga Ketua DPD Perhimpunan penyuluh Perrtanian Indonesia (perhiptani) kabupaten tana toraja menyampaikan agar memprioritaskan pemberdayaan petani dalam hal pengadaan bibit kopi. bapak agustinus ketua kelompok tani sehati dari lembang gasing, mengusulkan agar kami petani kopi untuk bisa memberi nilai tambah produk kopi dibutuhkan alat alat pasca panen kopi yang memadai
Petani dan Penyuluh Sampaikan Kebutuhan Pengembangan Kopi
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta turut menyampaikan pandangan dan usulan terkait kebutuhan nyata dalam pengembangan kopi Toraja.
Mastil Palin, S.P., yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI) Kabupaten Tana Toraja, menekankan pentingnya memprioritaskan pemberdayaan petani, khususnya dalam penyediaan dan pengadaan bibit kopi. Menurutnya, petani perlu dilibatkan dan diperkuat kapasitasnya agar mampu mengelola pengembangan perkebunan kopi secara mandiri dan berkelanjutan. Ketersediaan bibit bermutu yang sesuai dengan kondisi wilayah menjadi salah satu kebutuhan mendasar dalam mendukung peningkatan produktivitas perkebunan kopi.
Sementara itu, Agustinus, Ketua Kelompok Tani Sehati dari Lembang Gasing, menyampaikan bahwa peningkatan nilai tambah produk kopi membutuhkan dukungan sarana dan prasarana pascapanen yang memadai. Ia mengusulkan agar petani kopi mendapatkan dukungan berupa bantuan alat dan mesin pascapanen, sehingga proses pengolahan hasil dapat dilakukan dengan lebih baik, mulai dari penanganan buah kopi hingga menghasilkan produk yang memiliki kualitas dan nilai jual lebih tinggi.
Berbagai masukan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan pengembangan kopi Toraja tidak hanya terletak pada peningkatan produksi di tingkat kebun, tetapi juga mencakup pemberdayaan petani, penyediaan bahan tanam bermutu, serta penguatan fasilitas pengolahan pascapanen.
Dengan demikian, program pengembangan kopi Toraja diharapkan dapat dirancang secara terpadu, mulai dari penyediaan bibit, intensifikasi dan pemeliharaan tanaman, peningkatan kapasitas petani, hingga dukungan peralatan pengolahan hasil. Langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai kopi Toraja yang mampu memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi petani.
Intensifikasi dan Regenerasi Petani Menjadi Prioritas
Salah satu persoalan utama yang mengemuka dalam diskusi adalah belum optimalnya produksi kopi Toraja akibat banyaknya tanaman kopi yang tidak mendapatkan pemeliharaan secara memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan kopi Toraja tidak cukup hanya mengandalkan perluasan areal perkebunan. Upaya intensifikasi perlu menjadi prioritas melalui pemeliharaan tanaman secara berkelanjutan, pemupukan yang tepat, pemangkasan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), serta rehabilitasi tanaman yang sudah tidak produktif.
Di sisi lain, keberlanjutan perkebunan kopi juga menghadapi tantangan regenerasi petani. Sebagian besar petani kopi saat ini berada pada kelompok usia lanjut. Karena itu, diperlukan langkah konkret untuk menarik minat generasi muda atau petani milenial agar terlibat aktif dalam usaha perkebunan kopi.
Dalam diskusi turut mengemuka gagasan pengusulan program Brigade Kopi sebagai salah satu bentuk dukungan untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan pengembangan kopi secara terorganisasi dan terarah. Kehadiran generasi muda diharapkan tidak hanya melanjutkan usaha perkebunan yang telah dirintis generasi sebelumnya, tetapi juga membawa inovasi dalam penerapan teknologi budidaya, pengolahan, dan pemasaran kopi.
Dinas Pertanian Harapkan Dukungan Pemerintah Pusat
Pada akhir kegiatan, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Toraja, Yohanis Some’, S.P., M.M., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh narasumber, peserta, serta pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan sarasehan.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengharapkan dukungan pemerintah pusat, khususnya Direktorat Jenderal Perkebunan, untuk bersama-sama mengawal dan memperjuangkan usulan program intensifikasi kopi di Kabupaten Tana Toraja.
Dukungan pemerintah pusat dinilai penting agar berbagai persoalan mendasar yang dihadapi petani kopi dapat ditangani melalui program yang terencana, terarah, dan berkelanjutan. Dengan demikian, potensi perkebunan kopi Toraja dapat dioptimalkan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, serta kesejahteraan petani.
Melalui sarasehan ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, petani, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan pengembangan kopi Toraja yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Hilirisasi kopi Toraja tidak dapat dibangun hanya dari sektor pengolahan. Fondasinya harus diperkuat dari hulu melalui tanaman yang terawat, produktivitas yang meningkat, petani yang kompeten, dan keterlibatan generasi muda. Dari kebun yang dikelola dengan baik akan lahir kopi berkualitas, produk bernilai tambah, dan kesejahteraan petani yang lebih baik. (*)
- Penulis: Citizen Reporter: Daniel K.L
- Editor: Arsyad Parende






Saat ini belum ada komentar