THF 2026 Ditutup dengan Fun Bike, Diikuti Ratusan Peserta
- account_circle Monika Rante Allo
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ratusan peserta mengikuti sepeda santai (fun bike) yang merupakan penutup event Toraja Highland Festival tahun 2026. (MRA/Kareba Toraja).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Event promosi wisata, Tojara Highland Festival (THF) 2026 resmi ditutup, Sabtu, 7 November 2026. Event tahunan yang mengangkat tema “Merok” Tongkonan Potoksia dan Kamiri ini dimulai pada 3 November 2026.
Sepeda santai (fun bike) menjadi penutupan event THF 2026. Fun bike yang merupakan kolaborasi THF dan komunitas Dorong Hill ini diikuti sekitar 300-an peserta dan mengambil garis start di objek wisata Buntu Pune dan finish di Alun-alun Kota Rantepao.
Ketua DPD Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Toraja Utara, Damayanti Batti menyatakan fun bike dipilih untuk menutut festival karena ingin memasyarakatkan olahraga sepeda sekaligus memperkenalkan olahraga sepeda sebagai salah satu atraksi wisata di Toraja Utara.
“Selain itu kita ingin memperkenalkan pola hidup sehat, supaya hati kita bahagia, dan pikiran kita menjadi cemerlang,” ungkap Damayanti.
Fun Bike ini menempuh jarak sekitar 18 kilometer. Di garis finis, para peserta disambut dengan hiburan dan doorprize dengan berbagai macam hadiah.
Untuk diketahui, Toraja Highland Festival (THF) merupakan event promosi wisata yang digagas oleh Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Kabupaten Toraja Utara. Tahun ini, Masata berkolaborasi dengan masyarakat adat Buntu Pune menghadirkan tradisi “Merok” sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Toraja. Pada event ini, masyarakat adat Buntu Pune melaksanakan Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri.
Dorong Pelestarian Budaya dan Pariwisata
Dalam penuturannya kepada wartawan sebelumnya, Damayanti Batti mengatakan THF ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, seni, kreativitas, dan pariwisata untuk memperkenalkan kekayaan budaya Toraja kepada masyarakat luas sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya lokal.
Menurut Damayanti, THF mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Toraja. Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntu Pune merupakan kesempatan untuk merenungkan kembali kedudukan Tongkonan dalam kehidupan masyarakat Toraja.
“Tongkonan bukan hanya bangunan fisik tapi merupakan pusat ingatan genealogis, identitas rumpun keluarga, dan pelaksanaan berbagai tanggung jawab adat. Di dalamnya, sejarah keluarga diwariskan, hubungan antar generasi dipelihara, dan nilai-nilai kehidupan diteruskan. Warisan leluhur tidak cukup dipelihara sebagai peninggalan masa lalu,” terang Damayanti.
Damayanti menyebut, Toraja Highland Festival tidak hanya menjadi ajang perayaan seni dan budaya, tetapi juga ruang kolaborasi bagi masyarakat adat, seniman, komunitas, generasi muda, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan unsur tradisi, hiburan, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat.
Agenda utama meliputi Upacara Merok, Lomba Foto, Pameran Foto dan Lukisan, Bazaar UMKM, Apresiasi Lettoan, Fun Bike, serta Hiburan dan Pertunjukan Seni.
Menurut Damayanti, salah satu semangat yang diusung dalam penyelenggaraan Toraja Highland Festival 2026 adalah pentingnya menjaga kesinambungan tradisi di tengah perkembangan zaman. (*)
- Penulis: Monika Rante Allo
- Editor: Arsyad Parende





Saat ini belum ada komentar