Lomba Drumband Toraja Utara; Warga Terhibur, Teknis Pelaksanaannya Mesti Diubah
- account_circle Monika Rante Allo
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kelompok Drumband SMK Kristen Tagari, masuk garis finis pukul 23.40 Wita, atraksi 15 menit. Di belakang mereka masih ada satu kelompok peserta lainnya yang belum masuk garis finis. (AAP/Kareba Toraja).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Waktu pelaksanaan yang hingga tengah malam, bahkan dinihari, serta lampu Lapangan Bakti yang kurang terang membuat sejumlah warga berharap teknis pelaksanaannya diubah
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Pemerintah Kabupaten Toraja Utara melalui Dinas Pendidikan kembali menggelar lomba drumband, mulai tingkat Sekolah Dasar hingga SMA/SMK, setelah tahun lalu absen.
Lomba Drumband yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia dan HUT ke-18 Kabupaten Toraja Utara ini dilaksanakan di Kota Rantepao, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Lomba Drumband dimulai sejak pukul 08.00 Wita dengan titik start di Lapangan Bakti dan garis finis di Alun-alun Kota Rantepao. Dimulai dengan tingkat Sekolah Dasar dan ditutup dengan penampilan siswa-siswi SMA dan SMK.
Menurut catatan panitia, ada 10 peserta dari tingkat Sekolah Dasar yang ikut lomba. Sedangkan tingkat SMP sebanyak 26 sekolah, dan tingkat SMA/SMK sebanyak 10 sekolah.
Pantauan Kareba-Toraja.com, banyak sekali warga, baik di Rantepao maupun yang datang dari berbagai kecamatan, menyaksikan parade drumband yang melintasi Jalan Sam Ratulangi – Jalan Wolter Mongonsidi dan Jalan Andi Mappanyukki tersebut. Meski cuaca begitu panas, namun semangat para peserta maupun penonton tak surut. Di Lapangan Bakti sebagai titik start, ribuan warga menyaksikan. Sepanjang rute yang dilewati para peserta juga warga berjubel, baik di sisi kiri maupun kanan jalan. Di garis finis, Alun-alun Kota Rantepa, ribuan warga juga menunggu para peserta.
“Senang Bu, terhibur. Nda apa-apa sekali-sekali panas,” ungkap Agnes, seorang ibu muda yang datang menonton bersama anaknya.
“Ya, terhibur sekali, baru ada lagi ini, jadi kita ramai-ramai datang nonton,” timpal ibu-ibu yang lain.
Meski banyak warga yang mengaku terhibur, namun tak sedikit pula yang mengeluhkan kemacetan lalu lintas yang diakibatkan oleh aktivitas drumband ini. Bahkan diantara para pengguna jalan saling berdebat soal kemacetan. Ada yang mengeluh serta menggerutu, ada pula yang menganggap biasa, karena kalau ada keramaian, pasti kemacetan tak terhindarkan. Pun kegiatan seperti ini hanya sekali setahun.
Sampai Jelang Dinihari
Entah karena pesertanya banyak, atraksinya kelamaan, atau kendala lain, waktu pelaksanaan lomba drumband ini baru berakhir menjelang dinihari. Pukul 00.24 Wita, peserta terakhir baru memasuki garis finis di Alun-alun Kota Rantepao.
Meski begitu, para penonton, baik di Lapangan Bakti maupun Alun-alun Kota Rantepao, tetap banyak. Sayangnya, penerangan di Lapangan Bakti sangat buruk. Tak ada lampu yang menyorot ke tengah lapangan, sehingga penonton kesulitan melihat aksi para peserta. Kondisi yang sama juga terjadi di Alun-alun. Penerangan menjadi masalah serius di event ini.
Terkait teknis pelaksanaan yang berlangsung hingga dinihari itu, mendapat sorotan banyak masyarakat maupun orang tua siswa. Banyak warga menyarankan agar pelaksanaan lomba drumband maupun gerak jalan di masa-masa mendatang dilaksanakan dua atau tiga hari sesuai kondisi jumlah peserta.
“Kalau pun tidak bisa dua hari, ya perbaiki itu lampu (penerangan) di lapangan maupun di alun-alun. Ini ka, remang-remang, tidak terang,” keluh seorang warga di Alun-alun.
Pengamat sosial kemasyarakatan, Roy Rantepadang, mengingatkan Pemkab Toraja Utara, dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk memperhatikan saran dan masukan dari warga maupun orang tua siswa ini.
“Warga itu membutuhkan hiburan, kemudian para siswa juga semangat untuk tampil memperlihatkan potensi yang ada pada dirinya. Makanya penyelenggaraannya harus bagus,” tutur Roy.
Menurut Roy, Dinas Pendidikan harus memperhatikan teknis pelaksanaan ini.
“Demi kebaikan dan mutu pertunjukan, ke depan, masalah teknis ini mesti diperbaiki,” pungkas Roy. (*)
- Penulis: Monika Rante Allo
- Editor: Arsyad Parende








Saat ini belum ada komentar