OPINI: Memerdekakan Manusia; Refleksi “Ajarlah” dalam Trilogi Pemikiran Yesus, Dewantara, dan Freire
- account_circle Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Pdt. Johana Ruadjanna Tangirerung. (Foto: dok. UKI Toraja/Ist).
Oleh: Pdt. Johana Ruadjanna Tangirerung*
Gereja Toraja tengah merayakan pertambahan usia dengan sebuah mandat singkat namun menggetarkan: “Ajarlah”. Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi dan degradasi moral, kata ini menuntut kita menoleh kembali pada akar filosofis pendidikan yang membebaskan. Pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan upaya memanusiakan manusia secara utuh (humanisasi).
Simfoni Pembebasan: Tiga Maestro Pendidikan
Untuk memahami kedalaman tugas “Ajarlah”, kita perlu membedah pemikiran tiga tokoh besar yang, meski hidup di zaman berbeda, menyuarakan gema yang sama tentang pembebasan.
- Yesus Kristus: Pendidikan sebagai Metanoia Yesus adalah Sang Guru Agung. Filosofi pendidikan-Nya berpusat pada kasih yang membebaskan dari belenggu legalisme agama dan dosa. Ia tidak mengajar di ruang kelas yang steril, melainkan di realitas kehidupan. Pendidikan bagi Yesus adalah proses Metanoia (perubahan pikiran dan hati). Ia membebaskan perempuan yang berzinah dari penghakiman, dan memungut cukai dari isolasi sosial. Pendidikan Kristiani sejati harus membawa murid pada kemerdekaan batin untuk melayani sesama.
- Ki Hadjar Dewantara: Among dan Kemandirian Bapak Pendidikan kita menekankan sistem Among. Baginya, pendidikan adalah tuntunan bagi tumbuhnya kekuatan kodrat anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani sejajar dengan teladan Kristus: berdiri di depan sebagai contoh, di tengah sebagai penyemangat, dan di belakang sebagai pendorong kemandirian.
- Paulo Freire: Konsientisasi dan Anti-Bank Freire mengkritik “Pendidikan Gaya Bank”, di mana murid dianggap wadah kosong yang hanya diisi oleh guru. Ia menawarkan Konsientisasi—proses penyadaran akan situasi penindasan. Bagi Freire, pendidikan adalah jalan menuju kebebasan melalui dialog. Murid diajak melihat dunia secara kritis agar mampu mengubahnya.
“Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah orang. Orang-orang inilah yang akan mengubah dunia.” — Paulo Freire
Pendidikan dan Pembangunan Manusia Seutuhnya, Imago Dei
Dalam konteks kekristenan, pendidikan adalah alat Tuhan untuk memulihkan Imago Dei (Gambar Allah) dalam diri manusia. Bagian dari Trilogi Misi Gereja: teaching, preaching, dan healing. Manusia seutuhnya berarti keseimbangan antara intelektualitas yang tajam, spiritualitas yang dalam, dan kepedulian sosial yang nyata. Kita tidak sedang mencetak “robot cerdas”, melainkan pribadi yang merdeka untuk mencintai Tuhan dan sesama.
*Johana R. Tangirerung: Pendeta Gereja Toraja, Dosen Tetap dan Peneliti pada Universitas Kristen Indonesia Toraja.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Arthur

Saat ini belum ada komentar