Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tana Toraja » OPINI: Jangan Jadikan Toraja Tumbal Mega Watt

OPINI: Jangan Jadikan Toraja Tumbal Mega Watt

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh; Fransiskus Allo

TORAJA tidak pernah meminta menjadi pusat proyek energi. Ia dikenal dunia karena budaya dan lanskapnya, bukan karena cadangan panas buminya. Namun hari ini, di tengah ambisi transisi energi nasional, wilayah adat di Tana Toraja kembali dipetakan sebagai blok potensi. Pertanyaannya sederhana: apakah demi mengejar megawatt, kita rela menjadikan tanah leluhur sebagai tumbal?

Penolakan masyarakat adat Bittuang terhadap rencana eksplorasi geotermal bukanlah sikap anti-kemajuan. Ia adalah bentuk pertahanan atas ruang hidup. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar proyek, melainkan keberlanjutan kampung, sumber air, pertanian, dan identitas budaya.

Toraja sudah pernah memberi kontribusi energi melalui keberadaan PLTA Malea. Listriknya mengalir ke jaringan regional. Namun apakah kesejahteraan masyarakat sekitar melonjak signifikan? Apakah struktur ekonomi lokal berubah drastis? Jika manfaat tidak terasa setara dengan risiko ekologis dan sosial yang ditanggung, maka wajar bila proyek baru dibaca dengan kehati-hatian—bahkan kecurigaan.

Energi Nasional, Risiko Lokal

Geotermal memang dikategorikan sebagai energi bersih dan terbarukan. Tetapi label “hijau” tidak otomatis membuatnya bebas risiko. Tahap eksplorasi berarti pengeboran, perubahan struktur tanah, potensi gangguan mata air, serta dampak terhadap lanskap pegunungan.

Bagi masyarakat adat Toraja, mata air bukan sekadar sumber air domestik. Ia menopang pertanian, sawah, dan kebun yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Gangguan kecil pada sistem air bisa berujung pada penurunan produksi dan ketahanan pangan lokal.

Lanskap Toraja bukan sekadar panorama. Ia adalah basis pariwisata budaya yang menjadi warisan Tuhan sang Pencipta. Jika lanskap rusak, dampaknya akan menjalar kemana-mana, dampak ekologis, dampak sosial, dampak ekonomi adalah realitas yang tidak akan terhindarkan.

Dan yang paling sensitif: tanah di Toraja bukan komoditas kosong. Ia adalah ruang genealogis dan kosmologis. Di sana berdiri tongkonan. Di sana tersimpan relasi leluhur. Ketika tanah diganggu, yang retak bukan hanya permukaan bumi, tetapi juga struktur makna yang mengikat komunitas.

Ujian Konstitusi dan Ruang keadilan Energi

Konstitusi Indonesia melalui Pasal 18B UUD 1945 mengakui dan menghormati masyarakat hukum adat beserta hak-haknya. Ini bukan kalimat dekoratif. Ia adalah mandat negara untuk memastikan bahwa pembangunan tidak melangkahi hak tradisional komunitas.

Dalam diskursus global, keadilan energi menekankan distribusi manfaat dan risiko yang seimbang. Jika manfaat energi mengalir ke luar daerah sementara risiko ekologis menetap di kampung adat, maka yang terjadi bukan transisi energi yang adil. Ia menjadi bentuk baru dari ekstraktivisme,hanya saja dibungkus dengan istilah “energi hijau”.

Kita telah melihat ketegangan serupa di beberapa wilayah lain, seperti kawasan Gunung Talang di Sumatera Barat dan Gunung Slamet di Jawa Tengah, di mana masyarakat mempersoalkan dampak terhadap sumber air dan keberlanjutan hidup mereka. Polanya hampir selalu sama: proyek strategis berjalan lebih cepat daripada dialog sosial yang mendalam.

Toraja tidak ingin mengulangi sejarah konflik yang seharusnya bisa dicegah.

Peran Pemerintah Daerah: Pelindung atau Fasilitator?

Dalam situasi seperti ini, pemerintah daerah tidak boleh bersikap netral secara pasif. Ia adalah representasi politik masyarakat lokal, bukan sekadar kepanjangan tangan kebijakan pusat.

Ada beberapa sikap yang mendesak diambil:

Pertama, memastikan pengakuan dan perlindungan formal wilayah adat. Tanpa kepastian hukum, masyarakat selalu berada dalam posisi rentan.

Kedua, menunda atau meminta moratorium eksplorasi jika konsensus sosial belum tercapai. Pembangunan tanpa legitimasi sosial hanya akan melahirkan konflik berkepanjangan.

Ketiga, membuka seluruh dokumen kajian lingkungan, sosial, dan skema bagi hasil secara transparan kepada publik. Kepercayaan lahir dari keterbukaan, bukan dari presentasi sepihak.

Keempat, menegaskan arah pembangunan jangka panjang Toraja. Apakah ia akan diarahkan menjadi kawasan industri energi? Ataukah tetap mempertahankan identitas sebagai ruang budaya dan ekonomi berbasis pariwisata serta pertanian?

Ini bukan sekadar keputusan teknis. Ini pilihan sejarah.

Batas Moral Pembangunan

Transisi energi memang penting. Dunia bergerak menjauh dari energi fosil, dan Indonesia tidak boleh tertinggal. Tetapi transisi yang adil bukan hanya soal mengganti sumber energi. Ia tentang memastikan bahwa dalam setiap langkah kemajuan, tidak ada komunitas yang dikorbankan diam-diam.

Toraja bukan ladang energi. Ia adalah rumah budaya yang menyimpan ingatan, identitas, dan masa depan generasi. Jika demi mengejar angka megawatt kita rela mengorbankan ruang hidup masyarakat adat, maka sesungguhnya yang kita korbankan bukan hanya Toraja—melainkan prinsip keadilan itu sendiri.

Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling cepat mengebor bumi, melainkan yang paling bijak menjaga rumahnya sendiri.

Makale 19 Pebruari 2026

Fransiskus Allo — Pemerhati Toraja

  • Penulis: Redaksi
  • Editor: Arthur

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 56 Kasus, 1 Meninggal, Demam Berdarah di Rantepao Makin Gawat

    56 Kasus, 1 Meninggal, Demam Berdarah di Rantepao Makin Gawat

    • calendar_month Jumat, 17 Jun 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rantepao makin gawat. Kamis, 16 Juni 2022 kemarin, satu anak SD di Kelurahan Rante Pasele, meninggal dunia karena DBD. Sedangkan total jumlah kasus DBD sejak Januari-pertengahan Juni 2022 di wilayah kerja Puskesmas Rantepao mencapai 56 kasus. Kepala Puskesmas Rantepao, dr Yuspin, yang dikonfirmasi kareba-toraja.com, Jumat, 17 […]

  • Jalan Sehat HUT ke-25 Kementerian BUMN Bakal Digelar di Tana Toraja dan Toraja Utara

    Jalan Sehat HUT ke-25 Kementerian BUMN Bakal Digelar di Tana Toraja dan Toraja Utara

    • calendar_month Kamis, 16 Mar 2023
    • account_circle Admin Kareba
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, MAKALE — Kegiatan Jalan Sehat Bersama BUMN dalam rangka memperingati HUT ke-25 tahun Kementerian BUMN siap digelar di Tana Toraja dan Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, Sabtu dan Minggu, 18 dan 19 Maret 2023. Pada Sabtu, 18 Maret 2023, kegiatan Jalan Sehat bersama BUMN akan dilaksanakan di Makale, Tana […]

  • Dipantau Langsung Kemendagri, Begini Hasil Pilkalem Saluallo

    Dipantau Langsung Kemendagri, Begini Hasil Pilkalem Saluallo

    • calendar_month Senin, 1 Nov 2021
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, SANGALLA’ — Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Yusharto Huntoyungo, memantau langsung proses pemilihan Kepala Lembang di Saluallo, Kecamatan Sangalla’ Utara, Tana Toraja, Senin, 1 November 2021. Yusharto memantau pelaksanaan Pilkalem di Saluallo secara langsung (live) melalui aplikasi Zoom. Selain memantau, Yusharto juga melakukan zoom meeting dengan Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, […]

  • Perwira dan Personil Polres Toraja Utara Tes Urine Mendadak, Ini Hasilnya

    Perwira dan Personil Polres Toraja Utara Tes Urine Mendadak, Ini Hasilnya

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Monika Rante Allo
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Kepolisian Resor Toraja Utara melaksanakan tes urine mendadak kepada para perwira, Kapolsek, personil Satuan Narkoba, dan personil lainnya, Senin, 2 Februari 2026. Selain para perwira dan personil yang berjumlah 65 orang, Kapolres Toraja Utara, AKBP Stephanus Luckyto A.W, serta Wakapolres, juga ikut menjalani tes urine. Tes urine dilakukan sesaat setelah pelaksanakan kegiatan […]

  • Dua Mahasiswa Asal Toraja Jadi Korban Gempa di Jayapura

    Dua Mahasiswa Asal Toraja Jadi Korban Gempa di Jayapura

    • calendar_month Kamis, 9 Feb 2023
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, JAYAPURA — Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 5,4 terjadi di Jayapura, Papua, Kamis, 9 Februari 2023 siang. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa di permukaan bumi atau episentrum berada di darat sekitar 9 kilometer barat daya Jayapura. Hiposentum atau kedalaman gempa itu ada di 10 kilometer di bawah permukaan bumi. Gempa […]

  • Mahasiswa KKN-T UKI Toraja di Lembang Angin-Angin Bagikan Ribuan Bibit Buah kepada Warga

    Mahasiswa KKN-T UKI Toraja di Lembang Angin-Angin Bagikan Ribuan Bibit Buah kepada Warga

    • calendar_month Jumat, 19 Agt 2022
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KAREBA-TORAJA.COM, KESU’ — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Angkatan XXXIX Universitas Kristen Indonesia Toraja (UKI Toraja) yang berposko di Lembang Angin-Angin, Kecamatan Kesu’, Kabupaten Toraja Utara  melaksanakan berbagai macam program. Salah satu diantaranya adalah pembagian ribuan bibit buah dan pohon kepada masyarakat Lembang Angin-angin. Jenis bibit buah yang dibagikan ke masyarakat adalah sirsak, mangga, […]

expand_less