Jelang Pilkada 2024, PGIW Sulselbara Gelar Seminar Budaya Damai

Persekutuan Gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara (Sulselbara) menggelar Seminar Budaya Damai (foto: dok. istimewa/kareba-toraja).

 


KAREBA-TORAJA.COM, MAKASSAR — Menghadapi pelaksanaan Pemilihan Serentak Tahun 2024 yang akan berlangsung 27 November 2024 mendatang, Persekutuan Gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara (Sulselbara) menggelar Seminar Budaya Damai yang berlangsung selama dua hari sejak Rabu – Kamis, 26 s/d 27 Juni 2024 di Hotel Grand Maleo Jln. Pelita Raya, Kota Makassar.

Seminar diselenggarakan dalam bentuk pemaparan materi dan diskusi yang menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya, Kepala Kesbangpol Prov Sulsel, Kakanwil Kemenag Prov Sulsel, Ketua FKUB Prov Sulsel dan Pimpinan Sinode Gereja Anggota PGIW Sulselbara.

Baca Juga  12 Warga Terpapar Virus Corona, Kelurahan Lamunan Makale Diisolasi

Materi yang disiapkan adalah materi yang berkaitan langsung dengan realitas yang sedang terjadi di wilayah Sulselbara terutama situasi demokrasi khususnya dalam suasana politik.

Sekretaris PGIW Sulselbara Pdt. Yohanis Metris mengatakan kegiatan ini dilaksanakan dan diharapkan bisa dikembangkan dalam rangka mengatasi terjadinya ketidak adilan sosial dan intoleransi yang menyebabkan hubungan antar kelompok dan agama tidak harmonis terlebih khusus pada masa menjelang Pilkada.

“Dari pemaparan materi dan diskusi diharapkan peserta akan memberikan masukan-masukan untuk menjadi rumusan kegiatan berkelanjutan” urai Pdt. Yohanis Metris

Selain itu Kata Pdt. Yohanis Metris, setelah acara seminar ini peserta diharapkan memperoleh pengetahuan mengenai budaya damai dalam menghadapi situasi politik menjelang Pilkada Serentak 2024 yang akan berlangsung di berbagai daerah di Indonesia dan wilayah pelayanan PGIW Sulselbara pada khususnya.

Baca Juga  Warga Usung Orang Sakit Seberangi Sungai Ollon di Tana Toraja

“Peserta juga diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana memperkuat jejaring advokasi antar umat beragama serta memberikan masukan dan kontribusi subtantif pada pihak-pihak terkait untuk membangun keadilan dan perdamaian demi pemajuan HAM dan demokrasi Indonesia” urai Pdt. Yohanis Metris.

Pdt. Metris berharap setelah kembali ke tempat masing-masing, peseta seminar diharapkan menjadi narasumber di Gereja masing-masing untuk mengembangkan kesadaran bersama dalam proses pencarian alternatif baru dalam membangun relasi antar umat beragama, Masyarakat adat dan Negara. (*)

Penulis: Arsyad Parende
Editor: Arthur

Komentar