Disperkimtan dan Lingkungan Hidup Terus Pantau Aktivitas Pendulangan Emas di Buntu Pepasan
- account_circle Desianti
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Aktivitas pendulangan tradisional yang dilakukan masyarakat di Sapan, Buntu Pepasan, Toraja Utara. (MK/Kareba Toraja).
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Lingkungan Hidup (Perkimtan-LH) Toraja Utara akan terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas pendulangan emas di Kelurahan Sapan, Kecamatan Buntu Pepasan.
“Sejauh ini, praktek pendulangannya masih bersifat tradisional. Namun kami akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan secara berkala,” ungkap Kepala Dinas Perkimtan dan Lingkungan Hidup Toraja Utara, Robyanta Popang kepada KAREBA TORAJA, Sabtu, 21 Februari 2026.
Menurut Roby, pada Rabu, 19 Februari 2026, pihaknya sudah turun langsung ke lapangan untuk melakukan pemantauan aktivitas sesuai perintah Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong.
Selain aktivitas pendulangan, Dinas Perkimtan dan Lingkungan Hidup juga mengambil sampel air di sungai untuk diuji di laboratorium. Pemeriksaan lab bertujuan untuk menguji kualitas air serta mengetahui, apakah aktivitas pendulangan berdampak terhadap lingkungan, khususnya ekosistem sungai dan ketersediaan air bersih.
“Hasil uji lab ini akan kita tunggu beberapa waktu, karena pengujiannya dilakukan di Makassar,” kata Roby.
Dijelaskan, berdasarkan pemantauan, aktivitas pendulangan masih dilakukan masyarakat secara tradisional. Masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, menggunakan wajan sebagai alat utama. Pasir dari sungai diambil, lalu diayak di wajan. Beberapa warga mengaku mendapat serbuk emas, namun jumlahnya tak banyak.
Sudah Berlangsung Lama
Sementara itu, Camat Buntu Pepasan, Nathaniel Sampe Rompon, mengakui aktivitas pendulangan emas tradisional di area sekitar Buntu Pepasan sudah dilakukan masyarakat sejak lama. Namun, menjadi heboh belakangan ini karena pengaruh media sosial.
“Sebenarnya banyak orang kemudian menarik perhatiannya kesini karena medsos (media sosial) yang sangat masif. Padahal saya tanya ke masyarakat, bahkan ada yang dua hari mendulang, hasilnya tidak ada,” terang Nathaniel.
Nathanael juga menegaskan bahwa aktivitas pendulangan yang dilakukan masyarakat masih bersifat tradisional, tanpa menggunakan perlatan moderen atau zat kimia berbahaya.
Soal kerusakan lingkungan yang dikhawatirkan banyak kalangan, Nathaniel menegaskan pihaknya sudah mengingatkan hal itu kepada masyarakat.
“Intinya tidak menggunakan zat kimia dan tidak menggali di pinggir-pinggir sungai. Juga tidak menggunakan peralatan moderen,” pungkas Nathaniel. (*)
- Penulis: Desianti
- Editor: Arthur

Saat ini belum ada komentar