Dampak Kemarau, Kolam Alam Limbong Mengering, Terparah dalam 70 Tahun Terakhir
- account_circle Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pengelola objek wisata, Kolam Alam Limbong, Yulianus Rotang menyatakan dampak kekeringan ini sangat terasa terhadap kunjungan wisatawan. (MRA/Kareba Toraja).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Objek Wisata Kolam Alam Limbong yang terletak di Lembang Limbong, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, kini dalam kondisi memprihatinkan. Berdasarkan pantauan Kareba-Toraja.com, Kamis, 22 Oktober 2026, kolam yang biasanya digenangi air tersebut tampak kering.
Mengeringnya kolam alam yang terletak di Dusun Solo, Lembang Limbong, kecamatan Rantepao, Toraja Utara ini, diduga kuat karena dampak kemarau yang berkepanjangan di Toraja.
Kondisi ini menjadi peristiwa langka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini peristiwa pertama dalam (perkiraan) 70 tahun terakhir. Perkiraan ini senada dengan kesaksian seorang warga setempat, Nek Ruru’ (80), yang mengaku baru pertama kali menyaksikan kolam tersebut mengering hingga dasar lumpurnya terlihat.
“Saya lahir dan besar disini, ini kali pertama danau disini kering sampai terlihat lumpurnya,” ungkap Nek Ruru’ dengan nada prihatin.
Senada dengan itu, pengelola objek wisata, Yulianus Rotang (50), membenarkan bahwa kolam tersebut telah mengering sejak sekitar satu bulan terakhir. Ia pun mengakui dampak kekeringan ini sangat terasa terhadap kunjungan wisatawan.
“Iya ini, ini sudah satu bulan sudah kering begini. Pengunjung selama objek kering berkurang drastis,” ujarnya.
Yulianus menjelaskan bahwa sejak kolam dikelola sebagai objek wisata, pada musim-musim kemarau sebelumnya air kolam biasanya hanya berkurang sedikit. Namun, baru kali ini kolam betul-betul mengering hingga tak menyisakan air.
Kondisi tersebut memaksa ikan-ikan yang hidup di kolam diambil oleh masyarakat sekitar sekitar dua minggu lalu. Hal ini dilakukan agar ikan-ikan tersebut tidak mati dan membusuk sehingga mencemari lingkungan.
“Daripada mati nanti busuk dan bau bisa mencemari,” kata Yulianus.

Kondisi kolam alam Limbong yang mengering akibat kemarau panjang. (MRA/Kareba Toraja).
Dari hasil pengambilan ikan tersebut, warga menemukan seekor ikan masapi yang biasa dikenal dengan ikan sidat dengan panjang mencapai dua meter. Selain itu, terdapat berbagai jenis ikan lain seperti ikan gabus, nila, ikan mas, dan sebagainya.
Kekeringan yang melanda Kolam Alam Limbong ini menjadi perhatian tersendiri, mengingat lokasi tersebut merupakan salah satu destinasi wisata andalan di Toraja Utara apalagi lokasinya yang berada di kota Rantepao.
Warga dan pengelola berharap kondisi ini segera berakhir dan kolam dapat kembali terisi air seperti sediakala. (*)
- Penulis: Redaksi




Saat ini belum ada komentar