Hadiri HUT 80 Paroki Rantepao, Bupati Apresiasi Peran Umat Katolik di Toraja Utara
- account_circle Desianti
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, Uskup Agung Makassar, Mgr. Frans Nipa, dan Forkopimda Toraja Utara menghadiri acara syukur HUT 80 Paroki Santa Theresia Rantepao, Sabtu, 17 Oktober 2026. (AAP/Kareba Toraja).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong memberi apresiasi besar terhadap peran umat Katolik, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, pembinaan karakter, maupun perannya dalam menjaga harmonisasi umat beragama di Toraja Utara.
Selain itu, Frederik juga memberikan apresiasi sekaligus terima kasih atas peran umat Katolik dalam mendukung dan berperan serta dalam pembangunan keimanan maupun pembangunan daerah secara umum.
Ungkapan ini disampaikan Frederik Victor Palimbong saat memberi sambutan pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Paroki Santa Theresia Rantepao, Sabtu, 17 Oktober 2026.
“Saya melihat dan merasakan bahwa umat Katolik telah menjadi bagian dari masyarakat yang aktif dalam membangun kehidupan yang harmonis, berkarakter, dan penuh cinta kasih,” ungkap Frederik.
Menurut Frederik, sudah sejak lama, umat Katolik telah mengambil peran dalam kehidupan sosial di Toraja Utara, diantaranya di bidang pendidikan, kesehatan, pemerintahan, adat istiadat, maupun pembinaan moral dan karakter generasi muda.
“Saya sendiri pernah merasakan, dari TK sampai SMP di sekolah Katolik, meskipun itu di Makassar. Tapi banyak kawan-kawan saya yang sudah merasakan bagaimana bersekolah di sekolah Katolik di Toraja, termasuk Pak Trizal Tahir, suami Walikota Palopo sekarang, yang juga pernah bersekolah di SMA Katolik,” terang Frederik.
Atas semua peran itu, Frederik, atas nama pemerintah dan masyarakat Toraja Utara berterima kasih kepada umat Katolik. Dia berpesan, kiranya peran-peran tersebut tidak berhenti saat ini, tetapi terus dipupuk dan dikembangkan, serta diaplikasikan dalam pembangunan daerah ke depan.
“Sebagai pribadi dan sebagai kepala daerah, saya menyampaikan terima kasih kepada Bapa Uskup, Bapak Pastor, suster, frater, dan semua umat sekalian. Selamat ulang tahun ke-80. Tuhan memberkati kita semua,” pungkas Frederik.
Sementara itu, Uskup Agung Makassar, Mgr. Frans Nipa yang hadir sekaligus memimpin misa kudus dalam rangka HUT ke 80 Paroki Santa Theresia Rantepao, menitip pesan khusus kepada umat Katolik di Toraja Utara untuk senantian menjaga harmoni dengan alam dan lingkungan hidup. Pesan ini disampaikan kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Toraja Utara.
“Pesan saya, kita umat Katolik di tiga provinsi (yang berada dibawah naungan Keuskupan Agung Makassar), tertuma di Toraja Utara ini untuk ambil bagian secara maksimal untuk menjaga lingkungan, bumi kita sebagai rumah bersama,” pesan Mgr. Frans Nipa.
Menjaga lingkungan harmoni dengan alam, menurut Mgr Frans Nipa sejalan dengan perintah Kitab Suci, dimana manusia dicitrakan serupa dengan Allah.
“Dan kalau kita bicara mengenai Tallu Lolona (filosofi hidup masyarakat Toraja), dua yang lain itu (lolo tananan dan lolo patuan) merupakan saudara kita. Juga adalah ciptaan Tuhan. Maka tanggung jawab kita untuk menjaga, memelihara dan melestarikan ala mini,” ungkap Mgr. Frans Nipa.
Berdiri Setahun Setelah Kemerdekaan
Menurut Pastor Paroki Santa Theresia Rantepao, RD Paulus Tongli, angka 80 tahun adalah bukti kesetiaan karunia Allah yang terus menuntun, menjaga, dan meneguhkan persekutuan umat dari generasi ke generasi.
Menurut Pastor Paulus Tongli, Paroki Santa Theresia Rantepao lahir dari benih iman yang kecil namun militant. Perjalanan Paroki Rantepao dimulai pada bulan Juli 1946 atau setahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu, umat Katolik di Rantepao, berjuang dalam segala keterbatasan dan masih bergabung dengan Paroki Makale.
“Tepatnya tanggal 11 Oktober 1946, Pastor Wim Letschert, CICM mulai tinggal dan menetap di tempat dimana gedung gereja Santa Theresia berdiri saat ini. Kita bersyukut atas pionir iman terdahulu hingga akhirnya peristiwa pembaptisan pertama dapat terlaksana pada 31 Oktober 1947,” terang Pastor Paulus.
Setelah baptisan pertama, iman umat terus tumbuh dan jumlahnya bertambah banyak. Umat pun mulai membangun Gedung gereja secara permanen dan beberapa tahun kemudian, tepatnya 13 Agustus 1957 gedung gereja permanen diberkati oleh Uskup Agung Makassar, Mgr. Nicolas Martinus Schneiders, CICM.
Pada peresmian itu, secara resmi digunakan nama pelindung, yakni Santa Theresia dari kanak-kanak Yesus atau Santa Theresia Liseu Lisieux.
“Sejak awal, para misionaris dan para pendahulu kita telah meletakkan fondasi iman yang luar biasa. Iman yang membumi yang menghargai adat istiadat dan budaya setempat. Hal ini diwujudkan secara fisik dalam gereja kita,” urai Pastor Paulus.
Acara syukur HUT 80 Paroki Santa Theresia Rantepao ini dihadiri Uskup Emiritus Mgr. John Liku-Ada’, Wakil Bupati Toraja Utara, Andrew Silambi, Kapolres Toraja Utara, AKBP Yoseph Adi Rakhmat Sudrajat, Dandim 1414 Tana Toraja, Pembinmas Katolik Kanwil Kemenag Sulsel, Bimas Katolik Kemenang Toraja Utara, mantan Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang, Sekda Toraja Utara, serta sejumlah tamu undangan lainnya. (*)
- Penulis: Desianti
- Editor: Arsyad Parende




Saat ini belum ada komentar