Ketika Keluarga Menjadi Benteng; Merawat Ecclesia Domestica di Tengah Perubahan Zaman
- account_circle Yohanis Metris
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Konsultasi publik di seminar terkait ketahanan keluarga di Gedung Tammuan Mali' Makale, Tana Toraja. (AP/Kareba Toraja).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Pdt. Yohanis Metris, S.Th, M.Th*
Ada sesuatu yang sedang berubah di dalam keluarga. Bukan hanya cara orang tua bekerja, cara anak belajar, atau cara keluarga berkomunikasi. Perubahan itu perlahan menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam: cara keluarga hadir satu bagi yang lain.
Di satu meja makan, anggota keluarga bisa duduk bersama tetapi sibuk dengan gawainya masing-masing. Di rumah yang sama, percakapan dapat semakin sedikit. Anak-anak tumbuh di tengah derasnya informasi digital, sementara orang tua tidak selalu mampu mengikuti dunia yang sedang mereka masuki.
Di tengah situasi itulah PGIW Sulselra mengajak gereja, pemerintah, PKK, tokoh masyarakat dan berbagai unsur lainnya berhenti sejenak untuk melihat kembali satu pertanyaan penting:
“Bagaimana kita membangun keluarga Kristen yang tangguh di tengah perubahan zaman?”
Pertanyaan itu menjadi napas dalam Seminar dan Konsultasi Publik Ketahanan Keluarga yang berlangsung di Tammuan Mali’, Tana Toraja, 3–5 September 2026, dengan tema “Membangun Keluarga Kristen yang Tangguh.”
Keluarga Adalah Gereja yang Pertama
Seminar ini tidak dimulai dari persoalan perceraian, kekerasan, narkoba atau kenakalan remaja. Ia dimulai dari sebuah kesadaran teologis: keluarga adalah tempat pertama iman bertumbuh.
Dalam ibadah pembukaan, refleksi dari Yosua 24:14–16 mengingatkan bahwa keluarga mempunyai peranan penting dalam mewariskan iman. Gereja, sekolah dan negara memiliki peran yang sangat penting, tetapi tidak dapat menggantikan keluarga sebagai tempat pertama pembentukan karakter dan kehidupan iman.
Dalam perspektif inilah keluarga dipahami sebagai ecclesia domestica—gereja rumah tangga. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang. Rumah adalah tempat manusia pertama kali belajar mengasihi, mengampuni, menghormati, bekerja, bertanggung jawab dan mengenal Tuhan. Karena itu, ketika keluarga rapuh, yang dipertaruhkan bukan hanya kehidupan satu rumah tangga. Masa depan gereja dan masyarakat juga ikut dipertaruhkan.
Ketika Rumah Tangga Berhadapan dengan Zaman Baru
Perubahan zaman membawa banyak manfaat. Teknologi membuat komunikasi lebih cepat. Informasi lebih mudah diperoleh. Dunia menjadi semakin terbuka. Namun, di balik manfaat itu muncul tantangan baru.
Hasil diskusi peserta menunjukkan berbagai persoalan yang dihadapi keluarga dan generasi muda: lemahnya komunikasi dalam keluarga, penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan, pornografi, perjudian, alkohol, narkoba, seks bebas, pernikahan usia sekolah, kehamilan remaja, perselingkuhan, perceraian, bullying, kekerasan dalam rumah tangga dan persoalan kesehatan mental.
Persoalannya bukan semata-mata karena teknologi. Persoalan yang lebih mendasar adalah relasi. Anak membutuhkan orang tua yang hadir. Pasangan membutuhkan ruang untuk berbicara. Keluarga membutuhkan waktu untuk makan bersama, berdoa bersama dan saling mendengarkan.
Teknologi seharusnya mendekatkan manusia. Tetapi tanpa kebijaksanaan, teknologi justru dapat membuat orang yang dekat secara fisik menjadi jauh secara emosional.
Connection Before Correction
Salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam pembahasan tentang keluarga dan dunia digital adalah connection before correction. Sebelum mengoreksi anak, bangunlah hubungan dengannya. Sebelum melarang, dengarkan. Sebelum menghakimi, pahami. Sebelum bertanya “Mengapa kamu melakukan itu?”, mungkin orang tua perlu lebih dahulu bertanya: “Apa yang sedang kamu alami?”
Inilah tantangan pengasuhan pada zaman digital. Orang tua tidak cukup hanya menjadi pengawas penggunaan gawai. Orang tua harus menjadi sahabat, pendamping dan tempat aman bagi anak-anaknya.
Integritas Dimulai dari Rumah
Pembahasan yang disampaikan Prof. Dr. Jonathan L. Parapak dan Ibu Anne Parapak memperluas percakapan tentang keluarga kepada persoalan integritas, etos kerja dan relasi yang sehat.
Sebab karakter seseorang tidak tiba-tiba terbentuk ketika ia memasuki dunia kerja. Karakter itu dibentuk jauh sebelumnya—di rumah. Anak belajar kejujuran dari orang tua. Anak belajar tanggung jawab dari kebiasaan di rumah. Anak belajar menghormati orang lain dari cara ayah dan ibunya berbicara satu sama lain. Anak belajar menyelesaikan konflik bukan terutama dari nasihat, tetapi dari teladan yang ia lihat setiap hari.
Maka membangun keluarga Kristen yang tangguh pada akhirnya juga berarti membangun manusia yang berintegritas.
Gereja: Jangan Sampai Pelayanan Membebani Keluarga
Ada sebuah refleksi yang sangat penting dari konsultasi publik ini. Gereja dipanggil untuk menguatkan keluarga. Tetapi jangan sampai tanpa disadari, aktivitas gereja justru mengambil terlalu banyak waktu keluarga.
Karena itu, peserta merekomendasikan agar gereja mengevaluasi pola dan jadwal kegiatan pelayanan sehingga pelayanan gereja mendukung kehidupan keluarga, bukan justru membebaninya.
Ini merupakan pertanyaan penting bagi gereja: Apakah semua kegiatan gereja sungguh-sungguh menolong keluarga menjadi semakin dekat dengan Tuhan dan satu sama lain?
Jika keluarga adalah ecclesia domestica, maka pelayanan gereja seharusnya memperkuat gereja rumah tangga itu.
Dari Gereka ke Pemerintah; Keluarga Adalah Urusan Bersama
Seminar ini juga memperlihatkan bahwa ketahanan keluarga tidak dapat dibebankan hanya kepada gereja.
Pemerintah memiliki peran melalui kebijakan yang ramah keluarga, keseimbangan kerja dan kehidupan keluarga, pencegahan pernikahan usia sekolah, kehamilan remaja, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, persoalan kesehatan mental dan berbagai persoalan sosial lainnya.
Di Tana Toraja, kekuatan Tallu Batu Lalikan juga dipandang penting sebagai ruang kerja bersama antara pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.
Dengan demikian, membangun keluarga bukan proyek satu lembaga. Ini adalah gerakan bersama.
Keluarga yang Tangguh Tanpa Masalah
Barangkali inilah pesan paling penting dari seluruh rangkaian seminar. Keluarga tangguh bukan keluarga yang tidak pernah mengalami konflik. Keluarga tangguh adalah keluarga yang mampu menghadapi konflik tanpa kehilangan kasih. Keluarga tangguh bukan keluarga yang tidak pernah terluka. Keluarga tangguh adalah keluarga yang mampu mengalami luka dan menemukan jalan pemulihan. Keluarga tangguh bukan keluarga yang sempurna. Ia adalah keluarga yang terus belajar untuk saling mendengarkan, saling mengampuni, saling menopang dan kembali kepada Tuhan.
Hasil konsultasi menegaskan bahwa ketahanan keluarga bukan hanya persoalan ekonomi. Keluarga membutuhkan kasih, komunikasi, kebersamaan, keteladanan dan akar spiritual yang kuat.
Dari Tammuan Mali’ untuk Keluarga-keluarga
Tiga hari di Tammuan Mali’ bukan sekadar sebuah kegiatan seminar. Ia menjadi ruang untuk mendengarkan. Ruang untuk mengakui bahwa keluarga sedang menghadapi tantangan. Ruang untuk menyadari bahwa gereja pun harus terus belajar.
Dan terutama, ruang untuk mengingat kembali bahwa rumah adalah tempat pertama di mana Injil seharusnya terlihat dan dirasakan. Sebab sebelum anak mengenal gereja melalui gedung dan liturgi, ia mengenal kasih melalui keluarganya. Sebelum ia belajar tentang pengampunan dari khotbah, ia belajar mengampuni dari orang tuanya. Sebelum ia memahami pelayanan, ia melihat bagaimana keluarganya saling melayani. Dan sebelum ia mengenal Tuhan melalui banyak kata, ia seharusnya mengalami kasih Tuhan melalui kehidupan keluarganya.
Karena itu, membangun keluarga Kristen yang tangguh bukan sekadar menyelamatkan rumah tangga. Kita sedang menjaga masa depan gereja. Kita sedang merawat masa depan masyarakat. Dan kita sedang menghadirkan Kristus mulai dari rumah kita sendiri. (*)
*Penulis adalah Ketua PGI Wilayah Sulselra
- Penulis: Yohanis Metris
- Editor: Arsyad Parende








Saat ini belum ada komentar