Siswa di Toraja Utara Terima Susu Tak Layak Konsumsi, SPPG Limbong Toraja Utara Akui Ada Kesalahan Distribusi
- account_circle Arsyad Parende
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Salah satu jenis menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa susu cair yang tidak layak konsumsi diterima siswa di Rantepao, Toraja Utara. AP/Kareba Toraja).
KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Beberapa orang tua siswa di Toraja Utara mengeluhkan kondisi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima dari salah satu dapur MBG di Toraja Utara.
Susu cair dalam paket makanan MBG yang diterima siswa untuk dua, hari yakni Senin dan Selasa 16 dan 17 Maret 2026 sudah dalam keadaan menggumpal dan beraroma asam/basi, meski belum lewat masa kadaluwarsa sesuai tulisan pada kotak produk.
Susu kotak jenis pasteurisasi yang diterima oleh siswa dan dibawa pulang ke rumah karena merupakan kuota makanan kering ini terlihat sudah dalam kondisi tak layak konsumsi.
Salah satu orang tua siswa yang anaknya sekolah di SMPN 1 Rantepao merekam kondisi susu tersebut sehari setelah susu tersebut diterima yakni pada 17 Maret 2026 menunjukkan kondisi susu sudah dalam keadaan rusak, beruntung susu tersebut belum dikonsumsi oleh sang anak.
Sementara itu salah satu orang tua siswa lainnya yang juga sekolah di SMPN 1 Toraja Utara juga melaporkan menerima susu dalam kondisi rusak.
Dalam video yang dikirim ke redaksi Kareba Toraja, 2 kotak susu yang diterima semuanya dalam kondisi rusak dimana susu terlihat menggumpal dan menyerupai bubur meski batas kadaluarsa tertulis 30 maret 2026.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Limbong, Toraja Utara, Ade Palino yang dikonfirmasi Kamis, 26 Maret 2026 membenarkan jika pihaknya selaku penyalur MBG di SMPN 1 Rantepao tempat dimana siswa menerima susu tersebut.
Ade Palino mengatakan pihaknya telah melakukan investigasi lapangan setelah menerima laporan adanya susu yang rusak. Berdasarkan hasil investigasi itu, diperoleh kesimpulan bahwa susu tersebut kemungkinan rusak saat sedang dalam proses distribusi.
“Susu pasteurisasi ini batas masa konsumsinya hanya 2 minggu. Kemungkinan saat distribusi melebihi batas waktu itu,” jelas Ade Palino.
Ditanya soal proses pemeriksaan dan penyortiran sebelum distribusi, Ade Palino mengaku pihaknya susah untuk melakukan penyortiran terhadap susu karena jenis makanan kemasan yang tidak bisa dibuka satu-satu.
Meski begitu Ade Palino mengatakan pihaknya tetap memeriksa dengan mengambil sampel susu dan dari sampel tersebut kondisinya masih bagus dan mengecek batas tanggal kadaluarsa dan belum kadaluarsa.
Ditanya soal penggantian terhadap paket makanan yang rudak, Ade Palino mengatakan paket yang disalurkan ini bertepatan menjelang libur sekolah sehingga pihaknya tidak sempat melakukan penggantian paket makanan yang rusak dengan makanan yang baru.
Ade Palino mengatakan pihaknya menggunakan menu MBG jenis susu pasteurisasi yang dikenal rentan rusak dikarenakan kekurangan stok susu jenis UHT yang lebih tahan lama. (*)
- Penulis: Arsyad Parende
- Editor: Arthur

Saat ini belum ada komentar