Waode Surya Darmadali, Pengurus TP PKK Toraja Utara Lolos Program Kursus Pemberdayaan Masyarakat ke Australia
- account_circle Arsyad Parende
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Waode Surya Darmadali saat mengikuti kursus peningkatan kapasitas di Australia. (Foto: Istimewa)
KAREBA-TORAJA.COM, AUSTRALIA — Waode Surya Darmadali, akademisi sekaligus Founder Lingkar Perempuan Global dan juga sebagai Ketua Pokja 2 Tim Penggerak PKK Toraja Utara yang membidangi pendidikan dan keterampilan serta pengembangan kehidupan berkoperasi melalui pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan baru saja mengharumkan nama Toraja Utara di panggung Internasional.
Waode baru saja terpilih mengikuti program bertajuk Australia Awards Short Course “Social Protection and Community Empowerment: Strengthening Indonesia’s Pathways to Inclusive and Resilient Growth” yang merupakan program pengembangan kapasitas yang diselenggarakan melalui Australia Awards Indonesia, dengan rangkaian program di Australia yang berlangsung pada 19 September sampai 04 Oktober 2026 dan berbasis di University of Newcastle.
Program ini merupakan program yang sangat kompetitif. Dari sekitar 700 pelamar (applicants) dari berbagai latar belakang di Indonesia, hanya 24 peserta yang terpilih untuk mengikuti program di Australia. Salah satu peserta yang berhasil lolos dalam seleksi tersebut adalah Waode Surya Darmadali.
Ke-24 peserta berasal dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, serta organisasi nonpemerintah/masyarakat sipil (NGOs/CSOs).
Program ini dirancang untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengembangkan pendekatan perlindungan sosial yang adaptif, inklusif, responsif terhadap guncangan, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Pembelajaran menghubungkan isu perlindungan sosial dengan ketahanan masyarakat, akses terhadap pekerjaan dan penghidupan, pemberdayaan ekonomi, inklusi digital, serta pengembangan usaha dan UMKM.
Selama berada di Newcastle, peserta mendapatkan pembekalan mengenai dasar dasar perlindungan sosial dan adaptive social protection, termasuk perbandingan sistem perlindungan sosial Australia dan Indonesia.
Peserta juga mempelajari mekanisme perlindungan sosial berbasis masyarakat, jalur rujukan layanan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan, serta praktik
penanganan krisis melalui pembelajaran bersama organisasi masyarakat sipil dan kunjungan lapangan ke Samaritans Recovery Point.
Program selanjutnya membahas risiko bencana, kerentanan dan ketahanan masyarakat, termasuk bagaimana sistem perlindungan sosial dapat merespons guncangan, mendukung penanganan bencana, dan memperkuat proses pemulihan.
Peserta berkesempatan berdialog dengan berbagai pihak yang terlibat dalam respons dan pemulihan bencana serta mengunjungi Emergency Operations Centre untuk melihat praktik koordinasi lintas lembaga dalam situasi darurat.
Aspek Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Peserta mempelajari
bagaimana kebijakan dan layanan dapat dirancang agar lebih inklusif bagi perempuan, penyandang disabilitas, kelompok rentan, serta masyarakat dengan berbagai latar belakang sosial dan budaya.
Pembelajaran mencakup disability-inclusive design, intersectionality, lived-experience leadership, Universal Design, cultural safety, community engagement, dan community-led service models.
Di Canberra, peserta memperdalam hubungan antara perlindungan sosial, kebijakan, data, pekerjaan, penghidupan, dan pemberdayaan ekonomi. Salah satu fokus utama adalah bagaimanapemerintah dapat membantu kelompok rentan bergerak “from protection to participation”, yaitu dari sekadar menerima perlindungan menuju peningkatan partisipasi sosial dan ekonomi.
Peserta juga mempelajari jalur menuju pekerjaan, penghidupan dan pemberdayaan, termasuk hambatan yang berkaitan dengan disabilitas, geografis, konteks komunitas, tanggung jawab pengasuhan, dan akses terhadap layanan.
Di Sydney, pembelajaran berfokus pada transformasi digital, layanan publik yang inklusif, serta dukungan pemerintah terhadap digital business, innovation dan SMEs. Peserta mengunjungi Wynyard Service Centre untuk melihat secara langsung integrasi layanan digital dan tatap muka, serta mempelajari pendekatan New South Wales dalam customer-centred service design, digital identity, data, privasi, aksesibilitas, dan koordinasi lintas lembaga.
Dari Pembelajaran Menuju Award Project Salah satu komponen utama program adalah pengembangan Award Project.
Sepanjang program, peserta mengikuti beberapa Award Project Clinic di Newcastle, Canberra, dan Sydney untuk mengembangkan serta menyempurnakan proyek kolaborasi yang akan diterapkan di Indonesia. Proses ini memungkinkan peserta menghubungkan pembelajaran mengenai perlindungan sosial, ketahanan masyarakat, GEDSI, pekerjaan, penghidupan, digitalisasi, dan pemberdayaan ekonomi dengan kebutuhan nyata di daerah masing-masing.
Bagi Waode Surya Darmadali, kesempatan mengikuti program ini menjadi ruang untuk memperkuat perspektif dan jejaring dalam mengembangkan inisiatif pemberdayaan perempuan dan ekonomi masyarakat di Toraja Utara.
Pengetahuan yang diperoleh selama program kemudian menjadi dasar dalam merancang Award Project yang akan dikolaborasikan di Toraja Utara dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dengan menghubungkan perlindungan sosial, pengembangan penghidupan, pemberdayaan ekonomi perempuan, inklusi, dan ketahanan masyarakat.
Dengan demikian, Australia Awards Short Course tidak hanya menjadi pengalaman akademik dan profesional bagi 24 peserta terpilih, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun jejaring, bertukar praktik baik, dan mendorong lahirnya inisiatif yang dapat memberikan dampak nyata setelah peserta kembali ke Indonesia.
Waode sebelumnya juga pernah lolos seleksi beberapa program yang disponsori oleh pemerintah Australia, yakni Australia- Indonesia Muslim Exchange Program di tahun 2021 dan melakukan kunjungan di Sydney dan Melbourne untuk mempelajari khususnya pemberdayaan perempuan oleh komunitas Muslim di Australia.
Profil Waode Surya Darmadali Manginda
Profesi:
• Dosen UIN Alauddin Makassar
• Founder Lingkar Perempuan Global
• Tim Komite Yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika
• Inisiator Pemberdayaan Perempuan Pedalaman (RWE)
• Fasiltator Helping Adolescent Thrive, UNICEF
• Delegasi Australia Indonesia Muslim Exchange Program 2021
• Fellows Youth South East Asia Leadership Initiative (YSEALI) PFP Alumni di Filipina, 2022
• Pembicara Youth South East Asia Leadership Initiative (YSEALI) Alumni Gathering di Cambodia, 2022
• Awardee Youth South East Asia Leadership Initiative (YSEALI) PFP di KSWELI, Texas, Austin, Amerika Serikat 2023
• Dosen Tamu di University of Texas, Austin, Amerika Serikat, 2023
• Peserta CAUSINDY (CAUSINDY (Conference of Australian and Indonesian Youth) merupakan organisasi pemuda bilateral yang menyediakan platform bagi para pemimpin muda untuk memperkuat hubungan antara Australia dan Indonesia) dengan tema Pariwisata Berkelanjutan, 2023
• Pembicara pada Hari Perempuan Internasional di Austin, Amerika Serikat, 2023
• Awardee Australia Awards Indonesia Short Course 2026
Peran di masyarakat:
• Ketua Pokja II TP PKK Kabupaten Toraja Utara
• Pendiri Lingkar Perempuan Global (LPG / Women Global Circle)
• Aktif dalam pemberdayaan perempuan, pengembangan keterampilan, UMKM, dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Fokus kerja:
• Women’s economic empowerment
• Pendidikan dan keterampilan
• Pengembangan UMKM
• Literasi keuangan dan digital
• Penguatan kapasitas perempuan
• Jejaring dan pemberdayaan Masyarakat. (*)
- Penulis: Arsyad Parende
- Editor: Arsyad Parende




Saat ini belum ada komentar