oleh

S. Minggu; Putra Toraja Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia

KAREBATORAJA.COM, MAKALE — Pongtiku sudah dinobatkan menjadi Pahlwan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2002 yang lalu. Namun, Toraja ternyata masih memiliki beberapa sosok patriot perintis kemerdekaan. Salah satunya adalah Samuel Minggu Batara, yang lebih dikenal dalam catatan sejarah dengan nama S. Minggu.

Samuel Minggu Batara atau S. Minggu, dilahirkan di Mandetek, Makale, Kabupaten Tana Toraja pada tahun 1910 dari ayah bernama Puang Ruru’ Batara, seorang Kepala Kampung dan tokoh adat budaya suku Toraja pada abad ke-19.

Tahun 1929, S. Minggu tamat dari Sekolah Gubernemen di Makale dan selanjutnya diangkat menjadi guru pada sekolah zending tahun di Makale, Tana Toraja, selama kurang lebih tiga tahun.

Tahun 1930, S. Minggu masuk anggota Marine Belanda dan ditempatkan pada kapal perang Hr. Ms. De Zeven Provincien, yaitu kapal perang Belanda yang terbesar di Hindia Belanda saat itu. Kapal ini juga digunakan sebagai kapal latih dan tempat ujian bagi anggota Marine Belanda yang hendak naik pangkat.

Baca Juga  FOTO: Upacara Peringatan Hari Pahlawan Nasional Pongtiku
Samuel Minggu Batara atau S. Minggu, Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia asal Toraja.

Tahun 1933, awal bulan Februari, S. Minggu terlibat pada Gerakan Pemberontakan Anak Pribumi (orang Indonesia) melawan Belanda yang dikenal dengan Peristiwa Kapal Perang Hr. Ms. De Zeven Provincien karena perlakuan tidak adil oleh Belanda. Kapal Perang Hr. Ms. De Zeven Provincien berhasil dikuasai sepenuhnya oleh anak pribumi (orang Indonesia), lalu meninggalkan pelabuhan Aceh untuk maksud perjuangan persamaan hak dan cita-cita pembebasan atau kemerdekaan bangsa Indonesia. Tetapi pemberontakan itu berakhir saat kapal tersebut melintas diperairan Selat Sunda, dikepung dan diberondong tembakan dari permukaan laut dan dari udara oleh pasukan tempur Belanda, dan S. Minggu bersama rekan rekannya yang masih hidup di Kapal itu ditawan dan ditahan Belanda di pulau Onrust Kepulauan Seribu. S. Minggu dipenjara selama 3,5 tahun di Kepulauan Seribu.

Baca Juga  Peringati Hari Pahlawan, Amson: Perjuangan Pahlawan di Masa Lalu Harus Jadi Motivasi Bagi Kita

Tahun 1936, S. Minggu dibebaskan dari penjara dikembalikan kepada orang tua dan sanak saudaranya. Dia kemudian masuk Sekolah Kemah Injil Makassar (sekarang STT Jafray), dan selanjutnya menjadi penginjil CMA di pedalaman Kalimantan Timur.

Tahun 1938, S. Minggu meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Long Berang, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur.

Tahun 1985, pemerintah menetapkan S. Minggu sebagai Perintis Kemerdekaan anumerta, dengan Surat Keputusan Menteri Sosial RI No. Pol. 5/VII/85/PK/ANUM, tanggal 3 Juli 1985.

Kerangka jenazah Perintis Kemerdekaan, S. Minggu diterima di Pelabuhan Makassar dengan upacara militer tahun 1988.

Ahliwaris S. Minggu, A. Rante (lebih dikenal dengan sapaan Kapala Bua’) yang juga salah satu dari saudara kandung S. Minggu, sudah lama ada keinginannya untuk memindahkan kerangka jenasah saudaranya itu dan hal itu selalu diungkapkan dan disampaikan kepada keluarga dan sahabat S. Minggu yang masih hidup saat itu, namun banyak kendala yang salah satunya adalah transportasi karena lokasi tempat makamnya yang cukup jauh di pedalaman Kalimantan.

Baca Juga  FOTO: Upacara Peringatan Hari Pahlawan Nasional Pongtiku

Tahun 1986, A. Rante (Kapala Bua’) bersurat dan meminta kepada pemerintah agar kerangka jenasah S. Minggu dipindahkan dari pemakaman umum Desa Long Berang Kecamatan Mentarang Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Timur ke Tana Toraja Provinsi Sulawesi Selatan dengan maksud untuk memudahkan sanak saudara dan keluarga berziarah ke makam S. Minggu.

Dengan penuh semangat dan kesabaran Bapak A. Rante (Kapala Bua’) serta dukungan dan bantuan dari Pemerintah melalui proses yang cukup rumit, panjang dan melelahkan, akhirnya pemindahan kerangka jenasah S. Minggu itupun dapat terlaksana.

Proses pemakaman kerangka jenazah S. Minggu di Taman Makam Pahlawan Buntu Lepong, Rantepao, dengan upacara militer tahun 1988.

Tahun 1988, kerangka jenazah S. Minggu dipindahkan dari pemakaman umum Desa Long Berang Kecamatan Mentarang Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Timur ke Makam Pahlawan Buntu Lepong, Rantepao, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. (*)

Ditulis kembali oleh: Arthur
Artikel ini pernah ditayangkan di web karebatoraja.com pada 13 November 2016. Naskah dan foto asli milik Edward R. Batara, kerabat dan keturunan S. Minggu. Artikel dan foto ditayangkan atas izin Edward R. Batara.

Komentar

Berita Lainnya