oleh

Halo Matahari Sering Muncul, Ini Istilah yang Digunakan Orang Toraja untuk Fenomena Alam Itu

KAREBA-TORAJA.COM, RANTEPAO — Fenomena alam lingkaran pelangi mengelilingi matahari atau Halo Matahari sebenarnya bukan pemandangan baru di langit Toraja. Sejak dahulu, fenomena alam ini sering muncul.

Fenomena alam ini pernah muncul di langit Toraja pada 28 Mei 2013, 30 Maret 2019. Kemudian pada 2 Oktober 2020. Terakhir pada Sabtu, 21 November 2020.

Karena seringnya fenomena Halo Matahari ini muncul, orang-orang Toraja zaman dulu memberinya istilah. Ada pula yang mengaitkan munculan fenomena alam ini dengan suatu peristiwa alam lainnya atau tentang kematian seseorang.

Adapun istilah yang biasa digunakan masyarakat Toraja menanggapi fenomena alam ini, diantaranya Ma’pangkung allo, allo mentombang, ma’balatang allo, aanglebu’ allo, ma’balatambang allo, ma’bontongan tu allo, bala allo, dan lainnya.

Baca Juga  Di Hari Debat Kandidat, Fenomena “Halo Matahari” Muncul Lagi di Langit Toraja

Konon, menurut kepercayaan orang-orang tua dulu, jika melihat fenomena alam seperti ini, merupakan waktu yang tepat membuat pangkung bai (kandang ternak babi). Diyakini dari kandang yang dibuat pada hari itu akan menghasilkan babi yang sehat, gemuk, dan cepat besar.

Ada pula sebagian orang yang coba menghubungkan peristiwa alam Halo Matahari ini dengan kematian seorang tokoh besar atau orang kaya. Tandana laden kayu kalandona tondok lasongka. Den to sugi’ lamate. Itu pengistilaan untuk ramalan akan kematian tokoh-tokoh ternama.

Ada pula yang mengatakan bahwa jika muncul fenomena alam seperti Halo Matahari ini akan mempengaruhi cuaca, dimana hujan akan datang disertai badai besar. Juga hujan yang akan turun disertai butir-butir es.

Baca Juga  Di Hari Debat Kandidat, Fenomena “Halo Matahari” Muncul Lagi di Langit Toraja

Secara ilmiah, Mantan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Pongtiku, Tana Toraja, Agung Sudiono Abadi, menyatakan fenomena alam Halo Matahari adalah lingkaran sinar putih berbentuk lingkaran pada matahari atau bulan. Halo terjadi karena sinar matahari menembus kristal es pada awan-awan tinggi cirrus, cirrostratus, cirrocumulus 6.000 – 12.000 meter diatas permukaan bumi sehingga sinar matahari atau bulan dibiaskan oleh kristal-kristal es tersebut. (*)
Penulis: Arsyad Parende
Editor: Arthur

Komentar

Berita Lainnya